Maret 2020. Mentari pagi menyemburat dari ufuk timur. Diiringi gumpalan-gumpalan awan menggelanyut di langit. Sewaktu-waktu siap diperintah untuk menyatu dan menembakkan jutaan bulir air hujan ke bumi. Dan hari ini saya masih diberi kesempatan untuk bernafas pada garis waktu, menginjak pada umur tiga puluh tiga tahun.

Tiga puluh tiga adalah angka cantik. Angka IPK saya dulu saat lulus Sarjana Muda. IPK yang mengantarkan saya pekerjaan pekerjaan yang saya inginkan. Menjadi seorang abdi negara. Profesi yang akhir-akhir ini banyak diminati oleh banyak orang.

Tiga puluh tiga juga berarti angka kemenangan. Pasalnya, menurut teman saya, umur tiga puluh dua adalah umur dimana rawan godaan mendera. Dan saya mendarat pada umur tiga puluh tiga dengan selamat. Meski saya tidak sepenuhnya percaya, namun godaan itu memang nyata adanya. Harta, tahta dan ‘wanita’ memang tak pernah surut menggoda insan manusia.

Segala puji bagi Allah SWT. Saat ini saya berada di tahun 2020. Tahun dimana dulu tidak terbayang keberadaanya. Tahun dimana di banyak resolusi-resolusi digantungkan di sana. Tahun dimana gempuran teknologi kian menggerogoti sendi-sendi kehidupan ini. Yang membuat hidup tak sederhana lagi.

Hidup di jaman milenial ini memang tidak sesederhana dulu. Di era gadged yang penuh dengan pelbagai dampak negatif ini menuntut kita untuk bersikap lebih bijak. Meskipun perangkat ponsel pintar ini memberikan banyak manfaat, namun jika kita tidak arif dalam pemanfaatannya bisa jadi kita akan terjebak pada masalah-masalah yang mengiringinya. Utamanya adalah KECANDUAN.

Tidak sedikit dari kita yang sudah kecanduan ‘setan gepeng’ ini. Tidak anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Handphone atau telepon genggam benar-benar menjadi makna yang sesungguhnya dimana telepon genggam harus selalu ada di genggaman. Hanphone menjadi teman kita bekerja, rapat, olahraga, makan, mandi, tidur dan segala aktifitas lain. Jika gadget kita tertinggal di rumah, rasanya seperti kehilangan separuh nyawa.

Tak sadar kita tenggelam dalam rutinitas yang terkadang sia-sia. Membuka HP, lihat pesan-pesan pribadi, lihat pesan-pesan di banyak grup, lihat status banyak orang, buka sosial media a, buka sosial media b, buka berita a, buka berita b dan lain-lain dan lain-lain. Dan ini berulang menjejali rutinitas harian kita. Sampai pada akhirnya kita sadar bahwa kita belum banyak melakukan apa-apa untuk kehidupan ini. Mengikis waktu. Tugas-tugas terbengkelai, kitab suci jarang disentuh, buku-buku hanya dibeli dan tak dibaca lagi, keluarga terabaikan, kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan mati suri. Rencana dan resolusi hanya akan menjadi harapan kosong. Kita terjebak dalam rutinitas yang tak berkualitas. Sementara waktu melesat bagai kilat. Tanpa kompromi, meninggalkan remah-remah sejarah. Menyisakan penyesalan-penyesalan.

Waktu memang selalu berbaik hati. Mengubur masa lalu, memberi harapan pada masa depan serta menyajikan kita pilihan di masa sekarang. Masa lalu boleh disesali, tapi tidak untuk diratapi. Menjadikan masa lalu sebagai pelajaran adalah sebuah kebaikan

Menyepi dalam segelas kopi adalah sebuah harapan. Harapan pribadi yang ingin menjadi lebih baik dari sebelumya. Saya ingin menyadarkan diri bahwa waktu kita terbatas. Saya ingin menyepi dari rutinitas dunia maya yang terkadang memang dijelali dengan kesia-siaan. Meskipun sepertinya tidak bisa meninggalkan seratus persen, saya ingin mengurangi dan mengganti dengan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat. Kopi adalah singkatan dari Kontemplasi Pemikiran. Harapannya dengan menyepi dari dunia maya, saya bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk merenung, berkontemplasi, memikirkan banyak hal, serta menghasilkan pemikiran-pemikiran yang bermanfaat. Setidaknya untuk diri saya sendiri.

Bulan ini, saya memasuki umur tiga puluh tiga tahun. dan saya ingin Menyepi Dalam Segelas Kopi.

Temanggung, 8 Maret 2020