Di tepinya sungai Serayu. Waktu fajar menyingsing. Pelangi merona warnanya. Nyiur melambai-lambai. Warna air sungai nan jernih. Beralun berkilauan. Desir angin lemah gemulai. Aman tentram dan damai. Gunung Slamet nan agung. Tampak jauh disana. Bagai sumber kemakmuran. Serta kencana. Indah murni alam semesta. Tepi sungai Serayu. Sungai pujaan bapak tani. Penghibur hati rindu.

Lagu keroncong karya R.Soetedjo terdengar indah dari pengeras suara di Stasiun Kereta Api Purwokerto. Lagu berjudul “Di Tepinya Sungai Serayu” ini berkali-kali diputar, membawa suasana seolah-olah kembali ke beberapa puluh tahun silam. Kerinduan seseorang saat meninggalkan yang tercinta, atau sebaliknya suasana hati berdebar-debar ketika akan bertemu dengan kekasih yang telah lama dinanti. Lagu yang syahdu, menentramkan hati.

Malam itu, sekitar pukul 20.30 WIB saya dan Mas Wid (teman se-kantor) tiba di Stasiun Purwokerto. Kami harus mampir stasiun ini untuk berganti kereta api. Sesuai dengan sistem pesanan di salah satu website pemesan kereta api. 

Hari itu kami mendapat tugas untuk mengantar surat dinas ke Jakarta. Kami berangkat menggunakan Kereta Senja Utama Kelas Bisnis dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Entah mengapa, di sistem pemesanan tiket itu mengharuskan kami untuk transit di Stasiun Purwokerto. Kami harus berganti menggunakan kereta Taksaka kelas Eksekutif dengan tujuan Stasiun Gambir di Jakarta.

Setelah turun dari kereta Senja Utama kami bergegas mencari toilet dan mushola untuk sekedar buang air kecil dan melaksanakan sholat maghrib dan Isya’ secara Jama’ Qosor.

Keluar dari toilet wajah Mas Wid berubah. Wajah yang tadinya tenang, kini berubah jadi panik setelah ia sadar kalau HP barunya tertinggal di gerbong kereta Senja Utama tadi. Saat ia sadar, kereta sudah berangkat menuju stasiun-stasiun berikutnya. Lagu di tepinya sungai serayu tak lagi terdengar merdu.

Seperti orang kehilangan separuh nyawanya. Kehilangan HP jaman sekarang seolah-olah membuat kita tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi di dalam HP terdapat banyak aplikasi-aplikasi dan informasi penting, termasuk email kode booking kereta Taksaka yang akan kami naiki nanti.

Kami melaporkan permasalahan kami kepada petugas keamanan atau Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska). Petugas muda yang tampilannya seperti polisi atau tentara ini segera membawa kami ke ruang/kantor keamanan. Dengan sigap dan cekatan, beberapa petugas yang berbadan tegap tersebut menanyakan permasalahan kami. Setelah mengetahui bahwa HP Mas Wid tertinggal di Gerbong 1 Nomor Kursi 3A/3B, mereka segera mengontak rekannya yang berada di kereta Senja Utama. Al hasil, setelah menunggu sejenak, HP tersebut bisa diamankan. Wajah Mas Wid yang mendung segera kembali cerah.

Kami berpamitan setelah berbicara beberapa lama dengan Polsuska dan sepakat bahwa kami akan mengambil HP tersebut di Stasiun Senen. Sebagai tanda syukur dan terima kasih, Mas Wid berniat memberikan sedikit uang kepada Polsuska tersebut. Namun dengan lugas, petugas tersebut menolaknya.

Pagi harinya kami mengunjungi Stasiun Senen. Di ruang Polsuska Stasiun Senen, Mas Wid menerima HP yang semalam sempat tertinggal di gerbong kereta, dengan menunjukkan tiket dan KTP. Setelah difoto dengan memegang HP tersebut, kami berpamitan. Seperti semalam, Mas Wid berniat memberikan sedikit tanda terima kasih, tetapi tanpa ragu petugas tersebut menolaknya.

Sudah beberapa tahun ini performa Kereta Api Indonesia mengalami peningkatan yang tajam. Dari sebelumnya yang terkesan semrawut, kini berubah drastis dengan pelayanan yang sangat baik.

Ternyata tidak kalah dengan Jepang. Barang yang tertinggal di kerata api, bisa segera kita dapatkan kembali. Kualitas manajemen kereta api kita sudah bagus. Mudah-mudahan kualitas penumpangnya juga tidak kalah bagus. Apabila menemukan barang tertinggal, tanpa ragu segera menyerahkan kepada petugas.

Terima kasih Polsuska. Terima kasih Kereta Api Indonesia.

Lembah Sumbing, 14 Oktober 2018