Dua hari yang lalu sandal kesayangan saya putus. Setelah tiga tahun menemani, sandal warna hitam hadiah ulang tahun dari istri saya ini terpaksa harus saya lempar ke tempat sampah. Padahal masih sayang (cie…).

Bagaimana tidak? Sandal ini selalu saya pakai setiap saat, baik di rumah, di kantor, saat berangkat ke masjid, saat kondangan, saat mengikuti seminar dan di acara-acara yang lain. Nggak peduli dengan ucapan teman “Kondangan kok sandal cepitan“.

Sandal jepit merek eig*r ini dibeli di toko outdoor adventure di daerah Temanggung. Sebelumnya, saya tidak pernah menggunakan sandal semacam ini dan lebih memilih menggunakan sandal jepit hijau merek swall*w. Selain murah, sandal sejuta umat ini ringan dan nyaman di kaki. Namun setelah beberapa kali sandal saya tertukar dengan sandal milik orang lain (padalah sudah dikasih tanda juga), yang mengakibatkan saya harus nyeker pulang ke rumah, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan sandal dengan jenis yang lain.

Berbicara tentang sandal, saya punya pengalaman yang kurang menyenangkan. Dulu, saat jaman pacaran, saya dibelikan sandal sama pacar saya. Sandalnya lumayan bagus warna coklat, jadi langsung saya gunakan. Penggunaan perdana, ketika saya mengikuti pengajian ahad pagi di salah satu majlis. Namun sial, begitu selesai pengajian sandal saya berubah menjadi warna hitam dan jelek. Padahal baru dipakai sekali.

Nggak penting banget ya, mbahas sandal? Eits…tunggu dulu, ternyata sandal ini memiliki nilai-nilai yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita lho. Yuk kita simak.

Rela Berkorban Untuk Kebahagiaan yang Lain

Apapun jenis dan sandal, mau yang murah atau yang mahal, mau yang bermerek ataupun tidak, sandal rela berkorban untuk yang memakainya. Ia rela diinjak-injak, terkena paku, terkena kotoran, terkena air dan benda lainnya demi kebaikan, kesehatan dan kebersihan pemakainya.

Saling Melengkapi

Sandal akan bermanfaat jika ia bersama dengan pasangannya. Jika yang satu hilang atau rusak maka yang lain menjadi tidak berfungsi.

Selalu Akur Tidak Pernah Berebut Posisi

Sandal tidak pernah berebut posisi. Ia dan pasangannya selalu akur. Mereka sadar, baik di depan maupun di belakang sama-sama memberi manfaat. Mungkin cocok dengan semboyan dari Ki Hajar Dewantara. Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang artinya di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.

Setia dan Tak Pernah Sakit Hati

Sandal tak pernah sakit hati walaupun ketika sang pemakai menemui lantai yang bagus, ia melepaskannya. Padahal sebelumnya sandal rela bergelut dengan kotoran dan menginjak paku demi kebaikan pemakainya. Begitu berada di tempat yang baik, sang pemakai meninggalkannya. Ia juga setia menunggu sang pemakai untuk menggunakannya kembali.

Mudah Bergaul dengan Siapa Saja dan Tak Pilih-pilih Teman

Di sebelahkan dengan siapapun, sandal senantiasa menerima. Tidak peduli bersanding dengan merek yang bagus atau yang jelek ia tetap nyaman-nyaman saja.

Selalu Dinanti Manfaatnya

Meskipun ketika ada, ia selalu diinjak-injak, tetapi saat hilang, pemiliknya akan merasa kehilangan karena ia begitu bermanfaat bagi pemiliknya.

Demikian beberapa nilai-nilai kebaikan dari sandal, mudah-mudahan kita dapat belajar dan meneladaninya :). Anda punya nilai-nilai yang lain? Monggo ditambahkan di komentar!