Sudah beberapa hari jagoanku merengek minta dibuatkan rumah-rumahan. Semenjak saya ajak ke Perpustakaan Kota Magelang, Ilyasa terobsesi untuk memiliki rumah rumahan mainan seperti yang ia liat di perpus. Rumah rumahan tersebut terbuat dari bahan plastik yang luasnya sekitar 1,25 meter persegi. Istri saya mencoba mencari-cari di toko online, dapat sih, tapi harganya lumayan wow. Kemudian terlintas dalam pikiran saya, kenapa tidak membuat sendiri?

Hore… Rumah Ilyas dan Jadi

Tak terasa, malaikat kecilku telah menginjak umur 5 tahun. Daya kreatifnya semakin bertambah. Karena belum jadi dibuatkan rumah – rumahan oleh ayahnya, ia mencoba berkreasi sendiri membuat rumah rumahan dari beberapa payung yang dibuka dan dijadikan satu. Alasnya menggunakan beberapa keset yang digandeng jadi satu. Lokasinya berpindah-pindah; kadang di halaman rumah, kadang di halaman rumah tetangga, kadang di teras rumah tetangga. Dan begitu dia bosan, segera ditinggalkan begitu saja. Namanya juga anak-anak.

Sementara ayahnya masih bingung, mencari bahan yang tepat untuk membuat rumah rumahan, menuruti keinginan anaknya.

Awalnya saya ingin membuatkan rumah rumahan dengan berbahan kardus tanpa rangka, seperti di video yang sempat saya lihat di timeline facebook. Namun untuk membuat yang semacam itu dibutuhkan kardus yang besar dan kuat. Sempat terpikir juga menggunakan rangka dari kayu, namun tetap membutuhkan banyak kardus bekas dan di tempat saya susah untuk mencarinya. Terlintas juga membuat rumah rumahan menggunakan bahan seperti yellow board, triplek atau partikel namun akhirnya tidak jadi juga.

Hingga pada suatu hari ketika saya mengantar anak sekolah, saya melihat beberapa pernak-pernik hiasan di sekolah anak saya menggunakan bahan semacam karpet lantai ( saat itu saya belum mengetahui namanya ). Bahan tersebut berwarna-warni, mudah dipotong dan dilem. Dan setelah mencari-cari informasi di internet, saya mengetahui kalau bahan tersebut bernama sponati atau sponhard. Ya, akhirnya saya memilih menggunakan bahan tersebut untuk membuat dinding rumah rumahan anak saya. Sementara untuk rangka, saya menggunakan reng kayu dengan bahan yang tidak terlalu bagus.

Saya membeli bahan sponati di toko pernak-pernik Hosana Magelang. Saya membeli tiga gulung sponati masing dengan warna biru, hijau muda dan orange. Satu gulung sponati berukuran sekitar 2 x 1,5 meter dengan harga dua puluh ribu rupiah.

Untuk membuat rangka saya membeli bahan reng dari kayu waru dengan ukuran sekitar 2,7 meter. Saya membeli 13 potong di toko bangunan dekat rumah, dengan harga 3 ribu rupiah setiap potongnya.

Alat dan bahan lain yang saya gunakan adalah; lem tembak, gunting, cutter, penggaris besi dan paku pines, paku kayu, gergaji.

Untuk proses pembuatannya cukup mudah. Pertama saya memotong reng dengan ukuran kurang lebih 1 meter ( saat itu belum ada penggaris, kayu saya potong dengan ukuran kira-kira 🙂 ) dan saya kaitkan dengan paku sehingga membentuk rangka sebuah rumah.Maklum, bukan tukang kayu. Jadi asal pasang saja.

Setelah rangka rumah jadi, langkah selanjutnya adalah memotong sponati dengan cutter dan menempelkannya pada rangka tersebut. Langkah ini membutuhkan kreatifitas masing-masing. Agar hasilnya lebih cantik, saya mengkombinasikan warna saat membuat atap dan tembok bagian depan. Agar sponati menempel pada kayu dengan lebih kuat, selain dengan lem tembak, saya juga menambahkan paku pines. Saat proses tempel-menempel ini cukup memakan waktu. Kurang lebih seharian saya melakukannya.

Dan alhamdulillah setelah beberapa hari tertunda, akhirnya saya bisa menyelesaikan rumah rumahan untuk anak saya ini.

Menurut saya, membuat rumah rumahan seperti ini cukup mudah. Cuma butuh niat, ketekunan dan kesabaran.

Bagaimana? Anda tertarik? Yuk buatkan sendiri mainan untuk anak-anak kita. Lumayan untuk melatih kreatifitas kita 🙂