Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini untuk mengenang jasa-jasa Raden Ajeng Kartini. Beliau adalah sosok perempuan yang telah memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dari stigma yang berlaku pada masa itu. Sudah menjadi tradisi tahunan jikalau hampir semua instansi pemerintah memperingatinya dengan mewajibkan pegawainya mengenakan pakaian adat. Tak terkecuali di Lingkungan Pemerintah Kota Magelang.

Pemerintah Kota Magelang juga melakukan hal serupa. Tidak seperti pada peringatan tahun lalu yang hanya mewajibkan menggunakan pakaian adat bagi kaum perempuan saja, tahun ini semua pegawai baik perempuan maupun laki-laki wajib mengenakan pakaian adat jawa.

Peringatan Hari Kartini kali ini juga semakin gayeng. Selain mewajibkan berpakaian adat kepada seluruh pegawai, Khusus di lingkup Sekretariat Daerah Kota Magelang juga diadakan acara Resepsi Peringatan Hari Kartini yang di dalamnya terdapat beberapa kegiatan diantaranya adalah potong tumpeng, lomba menyanyi, lomba fashion show dan juga selingan hiburan spontanitas dari para pejabat eselon. Pada event kali ini kita bisa menyaksikan beberapa pejabat eselon benyanyi, berjoget juga saling melempar candaan secara spontan. Mereka para penggede dan pemangku kebijakan di kota ini berusaha menghilangkan sekat antara atasan dan bawahan, mencoba menampilkan sisi lain mereka, bahwa pejabat juga manusia. Pokoknya dua jempol.

Sementara, pada peringatan Hari Kartini yang ke 137 ini saya mendapat jatah mengikuti lomba fashion show bersama rekan kerja saya bernama Mbak Riska.

Saya nggak tahu kenapa ibu kepala memilih saya untuk mewakili instansinya mengikuti lomba fashion show berpakaian adat Jawa Tengah ini. Sebenarnya saat itu saya belum tahu siap atau tidak. Pasalnya sebagai seorang yang cenderung introvert, saya sering mengalami demam panggung, grogi dan sebangsanya. Akan tetapi, saya berusaha mengikuti apa yang menjadi nasihat dari teman sekaligus guru saya. Beliau mengatakan bahwa ketika saya mendapat sebuah amanah/tugas dari seseorang maka kerjakanlah. Barangkali di situ terdapat proses yang bernama belajar sehingga saya akan mendapat pengalaman-pengalaman baru. Maka saya mengiyakan, bersedia mengikuti lomba. Saya berseru jumawa kepada teman-teman “OK lah klo memang yang maju harus yang paling cantik dan gantheng” :). Tentunya dengan hati yang penuh dengan dag-dig-dug.

Mungkin bagi Mbak Riska, kegiatan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa. Pengalamannya di dunia protokoler, juga kepiawaiannya tampil di muka umum, membuat tugas ini dapat ia tunaikan sambil menutup mata.

Berbeda dengan saya. Seumur-umur baru kali ini saya mengikuti lomba fashion show. Apalagi dalam lomba ini harus berpasangan, dan kata teman saya jika ingin menang maka peserta perempuan harus menggandeng pasangannya (baca: Pasangan lomba). Aduh biyung!, padahal seingat saya, belum pernah ada perempuan non-muhrim yang menggandeng atau saya gandeng kecuali istri saya sendiri. Namun bagaimana lagi. Sudah kadung menyanggupi, pantang menarik kembali. 🙂

Karena ada acara gandeng-menggandeng, maka sebelumnya saya minta ijin kepada istri saya. Dia membolehkan. Saya semakin mantap melangkah maju. Tentunya dalam bingkai profesionalitas. Semata-mata mengusahakan yang terbaik. Tidak kurang, tidak lebih.

Hari-hari sebelum lomba menjadi hari yang lumayan berat. Bagaimana tidak, begitu teman-teman sekantor mengetahui saya yang ditunjuk ikut lomba, mereka seperti mendapat mangsa empuk. Maka bully-an itu liar tak dapat terhindarkah bertubi-tubi melesat ke arah saya. Untunglah saya telah terlatih menggunakan jurus woles bin hewul alias luweh. Meskipun agak sedikit kualahan, namun tidak menjadi masalah yang berarti.

Dua hari sebelumnya, saya bersama Mas Hestu, Mbak Deni, dan Mbak Riska mencari tempat sewa pakaian adat yang akan kami pakai. Hujan lebat tak menghalangi kami. Beberapa tempat yang kami datangi telah kehabisan stok pakaian adat. Maklum, pada peringatan hari Kartini kali ini, di Kota Magelang saja hampir 4000 pegawai harus menggunakan pakaian adat. Belum ditambah instansi BUMD dan anak-anak sekolah. Dan setelah kesana-kemari berhujan-hujanan dan tak kunjung mendapatkan pakaian, akhirnya kami memperoleh pakaian yang kami inginkan di Sanggar Rias Renata yang berlokasi di Terminal Lama Kota Magelang. Lega rasanya.

Hari H pelaksanaan lomba, hati saya semakin dag-dig-dug. Maklumlah, saya masih pemula amatiran. Meski sehari sebelumnya saya sudah berlatih, tapi perasaan was-was itu seperti menjalar di sekujur tubuh. Jangan-jangan? Tapi saya mencoba menenangkan diri. Berusaha mengupayakan yang terbaik. Kami memilih nomor urut 7. Nomor andalan saya.

Pukul 08.00 kami sudah standby di lokasi lomba. Setelah didahului lomba menyanyi dan beberapa acara lainnya, akhirnya sekitar pukul 11.30 lomba fashion show ini digelar. Agak grogi juga sih, tapi lumayan terkendali dan lancar. Beberapa saat sebelumya saya ikut berjoget di depan beserta beberpa peserta yang lain. Hal ini bembuat saya lebih rileks.

Dan beberapa saat kemudian pengumuman pemenang di sampaikan. Saya tidak berharap banyak. Melihat pasangan-pasangan yang lain beraksi penuh improvisasi, rasanya saya tidak akan menang. Namun keberuntungan masih berpihak pada kami. Kami dinyatakan menjadi juara 3 dari 16 pasangan lomba yang mengkuti kontes. Alhamdulillah. Kata temen saya cukup baik bagi seorang pemula seperti saya.

Banyak hikmah dan manfaat yang di dapat dari mengikuti lomba ini. Selain mendapat pengalaman, saya juga mendapat hadiah dari panitia. Ada satu lagi, ketika teman-teman yang lain harus membayar biaya sewa pakaian adat sendiri, alhamdulillah kami dibayarkan oleh instansi. :). Sik-asik bukan?

Dan terakhir, masalah bully mem-bully, saya hanya bisa bersabar sambil membatin dalam hati “Hutang bully dibayar bully . Tunggu saja pembalasan dariku!!!”.

Temanggung, 25 April 2016