Hari jumat dan sabtu dua minggu yang lalu, tepatnya tanggal 1 s/d 2 April 2016, kantor saya mengadakan acara sosialisasi tentang kepegawaian. Acara ini dilaksanakan di Hotel Griya Persada yang berlokasi di Jl Boyong No 99, Kaliurang Barat, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan kali ini menghadirkan narasumber dari Badan Kepegawaian Provinsi Jawa Tengah. Adapun materi yang dikupas adalah Undang-Undang No 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara.

Sebenarnya saya sanksi untuk bisa hadir dalam acara ini. Disamping kondisi tubuh yang agak kurang fit, acara ini juga bertepatan prosesi akad nikah kakak ipar saya. Namun membayangkan akibat yang akan terjadi jika saya tidak berangkat (pem-bully-an dari teman-teman yang tak kunjung berkesudahan), maka saya berusaha untuk mengatur waktu dengan sebaik mungkin. Mencari kesempatan terbaik untuk bisa mengikuti kedua acara penting ini. Kebetulan juga leading sector acara ini berada di ruangan tempat saya bekerja. Jadi, mau nggak mau tetap harus berangkat. Walaupun menyusul.

Hari H pelaksanaan kegiatan, saya ijin tidak masuk kerja untuk menngikuti rangkaian acara pernikahan kakak ipar saya. Dan akhirnya, tepat pukul 14.30 acara pernikahan sudah selesai. Setelah membantu beres-beres, saya segera berpamitan, bergegas menyusul teman-teman yang sedari siang sudah berada di lokasi sosialisasi.

Perjalanan dari Temanggung ke Kaliurang saya tempuh sekitar 2,5 jam dengan mengendarai sepeda motor. Entah mengapa sepanjang perjalanan seakan-akan ada energi positif berkali-kali merasuk ke tubuh saya. Mungkin perasaan girang karena akan terbebas dari bully-an teman-teman, atau juga karena bisa membuktikan pada teman-teman akan ucapan saya yang berjanji akan menyusul ke lokasi jika memungkinkan. Meski 2 kali melewati daerah dengan kondisi hujan lebat yang membuat sebagian pakaian saya basah, namun suasana cerah Kaliurang sore itu membuat saya benar-benar gembira. Atas bantuan mbah Google saya bisa sampai lokasi tanpa perlu bertanya kepada seorangpun.

Singkat cerita acara sosialisasi kepegawaian berakhir pada pukul 21.00 WIB. Sebagian peserta ada yang memilih untuk pulang kerumah, sebagian yang lain tetap menginap di lokasi untuk mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya yaitu otbon pada hari kedua.

Mendengar informasi tentang lokasi otbon, awalnya saya agak neg-thing. Bagi saya otbon seru itu berada di lokasi alam bebas yang penuh tantangan. Namun informasi tersebut mengatakan lain. Otbon akan digelar di lapangan yang berada di dalam area hotel. Batin saya berkata “Paling cuma otbon-otbonan” :).

Dan pagi itu, sekitar pukul 08.30, otbon dilaksanakan di lapangan berbentuk lingkaran yang berada di area hotel. Setelah semua sarapan kami bergegas menuju lokasi. Empat orang kru otbon berbaju orange sudah siap memandu kami.

Pada sesi pertama, para peserta disuruh berdiri bejajar membentuk lingkaran di tengah lapangan. Seorang pemandu memberikan aba-aba yang diikuti oleh para peserta. Pada sesi ini pemandu mengajak peserta untuk lebih berkonsetrasi. Sesi ini ditutup dengan membagi para peserta menjadi dua kelompok. Kelompok satu bernama kelompok Kuda yang di ketuai oleh Mbak Sita, sedangkan kelompok yang satunya diberi nama kelompok Sapi yang diketuai oleh saya sendiri. Masing-masing kelompok disuruh membuat yel-yel singkat, kemudian diadu satu sama lain. Bagi saya kegiatan pada sesi pertama ini masih tergolong biasa.

Sesi selanjutnya setiap kelompok membuat lingkaran sendiri. Kelompok saya yang terdiri dari sebelas peserta dipandu oleh salah satu kru yang bernama mas Widhi.

Pada sesi kali ini kami diminta untuk melempar dan menangkap benda secara bergiliran. Beberapa benda yang sudah disediakan tersebut yaitu; bola tenis, air dalam botol plastik, dan air dalam balon. Teknis permainan ini adalah masing-masing anggota kelompok harus melempar bola menyilang ke salah satu teman dan masing-masing anggota harus mendapat giliran. Pada sesi ini kita dituntut untuk lebih konsentrasi dan cekatan.

Permainan selanjutnya adalah permainan yang melatih kekompakan. Setiap kelompok diberikan selembar kain/media berbahan karung. Media tersebut diimajinasikan sebagai sebuah sekoci yang berada di tengah lautan. Bagaimana agar masing-masing peserta dapat bertahan di dalam sekoci tersebut tanpa ada satupun yang tertinggal. Media tersebut berbentuk persegi panjang kecil. Pada tahapan-tahapan permainan, media tersebut dilipat beberapa kali, sampai akhirnya kami menyerah karena sudah tidak dapat menemukan cara untuk membawa kelompok kami berada di sekoci tersebut.

Gelak tawa dari kedua kelompok dan beberapa penonton riuh mengiringi permainan ini. Mas Edi yang menjadi juru kamera pada pagi itu, senantiasa mengintai untuk membidik pose-pose yang laik untuk diabadikan. Dan permainan sementara di skorsing untuk beristirahat sembari menikmati secangkir dawet yang ditemani makanan khas kaliurang yaitu jadah tempe.

Setelah selesai istirahat, permainanpun dilanjutkan. Kali ini kedua kelompok diadu dalam beberapa permainan. Kuda dan Sapi harus bersaing ketat untuk meraih predikat juara.

Permainan pertama adalah memindahkan sebuah bola yang ditaruh di atas pipa pvc. Pipa tersebut dihubungkan dengan beberapa tali yang melingkar. Masing-masing anggota kelompok memegang sebuah tali dan bersama-sama memindahkan bola tersebut ke tempat yag sudah disediakan. Pada permainan ini bola dan pipa tidak boleh jatuh. Posisi bola dan pipa harus berdiri tegak seperti pada posisi awal.

Pada permainan yang pertama ini kelompok Sapi sudah berada di lokasi tujuan lebih dulu. Akan tetapi karena suatu hal pipa yang diletakkan tidak bisa berdiri dengan sempurna. Dan akhirnya pipa jatuh beserta bola yang berada di atasnya. Sementara kelompok Kuda yang datang belakangan berhasil meletakkan pipa dengan sempurna. Alhasil kelompok Kuda yang memenangkan permainan ini. 1-0 untuk Kuda.

Permainan selanjutnya adalah melempar bola air (air yang dimasukkan dalam plastik). Setiap kelompok terdiri dari 10 orang. Satu orang sebagai pelempar bola. Empat orang bertugas memegang taplak meja sebagai penerima pertama bola air. Empat orang ini juga bertugas melemparkan ke penerima kedua. Penerima kedua sama dengan penerima pertama. Sedangkan satu orang berada di belakang sebagai penerima terakhir bola air ini. Dalam permainan ini kelompok Sapi lebih unggul dari kelompok Kuda. Kedudukan sekarang 1-1.

Permainan berikutnya adalah masing-masing kelompok diberikan kain/media berbahan karung yang berbentuk melingkar seperti v belt. Masing-masing anggota kelompok harus berada di dalamnya dan bergerak maju seakan-akan menjadi sebuah roda. Setiap kelompok harus dapat meletakkan dua buah bola ke tempat yang sudah disediakan. Pada permainan ini kelompok Sapi lebih unggul. Dan kedukan berubah menjadi 1-2 untuk kelompok Sapi.

Permainan yang terakhir adalah perang air. Kelompok satu menjadi penyerang sedangkan kelompok yang lain bertahan. Kelompok penyerang dibekali beberapa amunisi (air dalam plastik). Kelompok penyerang diberikan hak untuk melemparkan air kepada kelompok bertahan sampai lilin yang dibawanya padam. Di lain pihak, kelompok bertahan harus membawa lilin dari titik start sampai dengan finish dengan kondisi api masih menyala. Apabila kelompok bertahan mampu mempertahankan lilin tetap menyala sampai dengan garis finish berarti kelompok bertahan dinyatakan menang. Begitu juga sebaliknya, jika nyala lilin padam sebelum garis finish, berarti kelompok penyerang yang menang. Masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk menjadi kelompok yang menyerang dan bertahan. Pada permainan ini kelompok Kuda yang menjadi pemenangnya. Alhasil kedudukan kedua kelompok menjadi seimbang tanpa ada yang kalah dan menang.

Sebenarnya beberapa permainan yang disediakan cukuplah sederhana. Akan tetapi karena setiap permainan dikemas dengan menarik, juga semangat peserta yang tetap membara sampai dengan permainan selesai, membuat otbon kali ini sukses. Sepanjang permainan diiringi tawa lepas teman-teman. Bahkan di beberapa sesi permainan, kami sampai jungkir balik karena tak kuat menahan tawa. Baju kami basah kuyup. Hingga tak terasa waktu sudah siang. Dan Otbon kali ini ditutup dengan mengupas apa makna dari setiap permainan yang telah dilaksanakan.

Menurut saya kegiatan otbon sangatlah perlu untuk diadakan secara rutin. Disamping untuk menghilangkan penat, otbon juga dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan kekompakan sehingga setiap instansii akan semakin solid dalam menjalankan apa yang menjadi tugas-tugasnya. Tak heran jika banyak instansi maupun perusahaan bonafit yang senantiasa mengadakan kegiatan lapangan semacam ini.

Pukul 12.00 kami harus beranjak pulang ke rumah masing-masing. Lelah yang dirasa tak sebanding dengan manfaat yang di dapatkan. Kini kami semua kembali fresh dan siap untuk menjalani aktifitas masing-masing.

Bagi saya pribadi, dari beberapa otbon yang pernah saya ikuti, otbon kali ini adalah otbon yang seotbon-otbonnya.

Temanggung, 17 April 2016