Ada kabar gembira bagi kita yang bekerja di Lingkungan Pemerintah Kota Magelang, khususnya di Lingkungan Sekretariat Daerah Kota Magelang. Pasalnya pemerintah setempat sedang mengubah mushola yang dulu sering kebanjiran menjadi sebuah masjid yang besar nan megah.

Bagi saya ini sebuah langkah yang cemerlang. Disaat pemerintah pusat sedang gencar-gencarnya menggaungkan Revolusi Mental, juga di lingkup perkantoran yang sedang semangat melaksanakan Reformasi Birokrasi, Pemerintah Kota Magelang yang notabene sebagian besar pegawainya beragama Islam tak segan-segan menggelontorkan dana yang jumlahnya tidak sedikit demi membangun sebuah masjid.

Pembangunan masjid yang digarap oleh PT. Aneka Bangun Cemerlang Jaya ini akan dilaksanakan selama 135 hari dengan nilai kontrak Rp. 2.375.053.000,00. Pembangunan dilaksanakan mulai tanggal 05 Agustus 2015 s/d 17 Desember 2015. Luar Biasa.

Mungkin saya termasuk orang yang beruntung karena insyaAllah sebentar lagi saya dapat melaksanakan sholat lima waktu di masjid ini. Kebetulan kantor saya termasuk berdekatan dengan lokasi masjid. Hanya berjarak beberapa meter saja.

Saya membayangkan, kelak kalau sudah jadi pastinya akan betah melaksanakan ibadah di masjid yang bagus ini. Ruangannya luas dan sejuk, lantainya dari batu granit, karpetnya empuk, soundsystem-nya bagus, desain interiornya memukau, tempat wudhunya memadai, toilet bersih dan wangi, imamnya fasih, juga keistiewaan-keistimewaan yang lainnya. Sungguh, masjid ini akan menjadi tempat yang kondusif dan representatif untuk menjalankan ibadah.

Namun kemakmuran sebuah masjid tidaklah hanya diukur dari kualitas bangunan fisiknya saja. Akan tetapi banyaknya jamaah dalam menjalankan sholat, juga banyaknya aktifitas keagamaan yang dilaksanakan akan lebih memberikan nilai pada kemakmuran masjid tersebut. Buat apa masjid dibuat bagus kalau jamaahnya sepi. Apalah artinya masjid megah jika aktifitas keagamaanya hanya diisi sholat lima waktu saja.

Jika kita mau menilik pada masa Rosulullah SAW dahulu, fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah saja. Namun masjid pada masa itu juga difungsikan sebagai tempat pembelajaran, musyawarah, merawat orang sakit bahkan untuk asrama bagi Ahlus Suffah. Amatlah sayang jika masjid besar ini hanya difungsikan sebagai tempat sholat tanpa ditambahi kegiatan-kegiatan ibadah yang lain.

Bercermin pada kondisi beberapa bulan yang lalu ketika masjid ini masih berupa mushola, saya pikir ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar nantinya masjid ini semakin makmur dan lebih memberikan manfaat positif bagi spiritualitas para jamaahnya, khususnya para pegawai. Dan jika diperkenankan, ijinkanlah saya mengunkapkan harapan-harapan pada masjid tercinta ini.

Yang pertama masjid ini perlu memilih seorang imam tetap.

Jika kita menengok pada kegiatan sholat berjamaah sebelumnya, sering kali kita dihadapkan pada aksi saling tunjuk imam ketika iqomah selesai dikumandangkan. Jika saja ada imam tetap yang sudah dipilih,  pastilah secara otomatis imam itu akan langsung menempatkan diri. Dan seandainya memungkinkan imam tersebut dapat dipilih dari kalangan bukan pegawai sehingga sang imam  setiap saat dapat standby di masjid tanpa terganggu oleh kegiatan kedinasan. Syukur-syukur sang imam tersebut dipilihkan dari kalangan pesantren dengan kualitas ilmunya yang mumpuni.

Saya kira jamaah akan semakin giat sholat berjamaah di masjid ini.  Mereka akan merasa lebih mantap sholat berjamaah dengan imam yang benar-benar paham akan ajaran agama Islam. Di samping itu dengan kedalaman ilmu yang dimiliki,  sang imam dapat memberikan kultum setiap harinya. Misalnya ketika selesai melaksanakan jamaah sholat dhuhur.

Saya yakin semakin semakin sering menerima siraman rohani, jamaah akan semakin kuat imanya. Pun kualitas akhlaknya pastinya akan semakin meningkat. Sangat singkron dengan slogan Revolusi mental yang sedang santer dipromosikan oleh pemerintah, bukan?

Yang kedua, masjid ini perlu memiliki soundnsystem yang bagus.

Tidak dipungkiri, rutinitas yang padat terkadang membuat kita lupa akan waktu sholat. Dengan soundsystem yang bagus dalam hal ini bisa terdengar sampai keseluruh ruangan yang ada, maka suara adzan yang berkumandang dapat mengingatkan kita untuk segera melaksanakan sholat. Tidak seperti sebelumya. Suara adzan hanya dapat didengar dari ruangan yang dekat dengan mushola saja. Sedangkan di ruangan yang berjauhan, suara adzan tidak terdengar.

Jika kita mau memanfaatkan sebenarnya kantor di lingkungan ini sudah memiliki sistem room call dimana sebuah informasi dapat disampaikan melalui speaker yang sudah terhubung ke ruangan-ruangan. Jika takmir masjid dapat mengkondisikan, maka suara adzan tersebut bisa dimasukkan ke jaringan  ini. Jika suara adzan dirasa terlalu panjang dan mengganggu maka setidaknya bisa memberikan tanda bahwa waktu adzan dan iqomah telah tiba. Informasi akan mengingatkan jamaah untuk segera pergi ke masjid. Tentunya waktu tunggu antara adzan dan iqomah harus disepakati dan disesuaikan dengan jarak terjauh sehingga jamaah yang datang ketika adzan, sesampai di masjid tidak ketinggalan jamaah.

Kalau informasi biasa saja bisa disampaiakan, kenapa informasi untuk melaksanakan sholat tidak? Bukanya sholat lebih penting dari pada kegiatan lainnya?

Ketiga, masjid ini perlu diwarnai dengan berbagai macam kegiatan keagamaan.

Rasanya sangat disayangkan jika masjid yang telah menelan biaya cukup besar ini hanya digunakan untuk rutinitas sholat berjamaah saja. Alangkah indahnya jika masjid ini mengadakan kegiatan rutin misalnya kajian-kajian keagamaan. Kajian ini bisa diadakan setiap seminggu sekali dengan materi yang berbeda. Misal minggu pertama fiqih, minggu kedua akhlak, minggu ketiga tafsir, minggu keempat sejarah. Bisa juga dengan kombinasi yang lain sesuai keinginan jamaah.

Tentunya kegiatan kajian ini jangan sampai memecah belah jamaah. Jangan sampai karena perbedaan yang ada malah menkotak-kotakan jamaah.  Takmir perlu mensiasati untuk mencari pemateri yang berwawasan luas dan tawadhu’. Dengan demikian tidak akan mudah untuk mengolok-olok, menjek-jelekan serta menghakimi pihak lain yang tidak sejalan dengan apa yang diyakininya. Syukur-syukur pemateri bisa diterima semua pihak dengan keberagamannya.

Harapanya dengan banyaknya kegiatan keagamaan ini mudah-mudahan dapat meningkatkan pemahaman jamaah akan keluhuran ajaran Islam. Dengan bertambahnya pemahaman tentang keislaman insyaAllah para jamaah akan menjadi pribadi-pribadi yang berakhlak mulia. Jika dia seorang pegawai insyaAllah akan menjadi seorang Muslim Birokrat yang senantiasa bekerja dengan tulus karena mengharap ridho Allah semata.

Keempat, jika menjalankan sholat jum’ah saya berharap dilaksanakan dengan dua adzan.

Saya meyakini bahwa satu adzan maupun dua adzan sama-sama memiliki dasar hukum yang kuat. Oleh karena itu saya terkadang melaksanakan sholat jum’at dengan satu adzan, dilain waktu saya juga melaksanakan dengan dua adzan. Tergantung di masjid mana saya melaksanakan sholat jum’at tersebut. Saya mengikuti saja.

Namun jika dipandang dari kemaslahatan, menurut saya ibadah sholat jum’at dengan dua adzan akan lebih khusuk untuk dijalankan.

Berdasarkan pengalaman saya di beberapa tempat, sholat jum’at dengan dua adzan cenderung lebih tertib dan teratur. Adzan pertama akan mengajak jamaah yang sudah berada di masjid untuk  mengisi baris depan yang kosong, meluruskan shafnya serta melaksanakan sholat  kobliah jum’ah bersama-sama. Begitu juga dengan jamaah yang masih berada di luar masjid. Mendengar kumandang adzan pertama ini akan mengingatkanya untuk segera bergegas menuju masjid. Begitu adzan kedua dikumandangkan, beberapa shaf depan sudah tertata rapi dan jamaah yang tadinya di luar masjid sudah siap di masjid untuk mendegarkan khotbah jum’ah dengan hidmat.

Lain halnya dengan sholat jum’ah yang dilaksanakan dengan satu adzan. Ketika adzan biasanya masih banyak jamaah yang berada di luar masjid. Begitu khotib berdiri menyapaikan khotbah, jamaah yang terlambat ada yang berusaha mengisi shaf-shaf depan yang kosong. Belum lagi jika mereka segera melaksanakan sholat tahyatul masjid. Maka akan terjadi pemandangan dimana banyak orang berdiri, ada yang di depan ada juga yang di belakang melaksanakan sholat sunah saat sang khotib sedang menyampaikan khotbah jum’ahnya.

Terlepas dari perbedaan pendapat yang ada, saya cenderung lebih mathuk sholat jum’ah dengan dua adzan. Menurut saya lebih tenang dan khusuk.

Kelima, masjid ini perlu memiliki pengurus yang aktif.

Untuk menjalankan program-program masjid maka diperlukan sebuah kepengurusan yang aktif dan memadai. Melihat kesibukan masing-masing instansi yang senantiasa penuh dengan kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan, masjid ini perlu membuat struktur pengurus tersendiri. Anggota takmir masjid dapat diambilkan dari berbagai kalangan yang ada.

Dengan kepengurusan yang mandiri, saya rasa kegiatan masjid akan berjalan dengan lancar. Tanggung jawab kepengurusan tidak hanya dibebankan pada satu instansi saja melainkan kepada beberapa person dari kalangan yang berbeda.

Rapat-rapat rutin akan senantiasa dilaksanakan dengan waktu yang dikhususkan untuk memikirkan masjid. Berbagai sumbangsih pemikiran akan tercurah untuk memajukan kegiatan masjid. Kreatifitas dan inovasi akan bermunculan ketika pengurus masjid senantiasa aktif melakukan koordinasi.

***

Sungguh saya adalah orang yang bahagia akan hadirnya masjid ini. Sebagai bagian dari jamaah saya bersyukur Pemerintah Kota Magelang peduli terhadap religiusitas para pegawainya.

Semoga masjid yang sedang dikebut penyelesaiannya ini benar-benar akan menjadi masjid yang makmur. Mudah-mudahan masjid ini menjadi masjid yang penuh berkah dimana setiap harinya di sana akan berkumpul pemimpin dan yang dipimpin tanpa sekat dan jarak. Semoga masjid ini akan menjadi pusat pengajaran ilmu-ilmu keislaman dimana pemeluknya akan senantiasa berakhlak mulia sesuai dengan ajaran agama Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Mudah-mudahan masjid ini akan mengantarkan Kota Magelang menjadi kota yang baldatun toyyibatun warobun ghofur.

Terakhir saya mendoakan semoga dalam pelaksanaan pembangunan masjid ini tidak ada kepentingan-kepentingan egois yang merugikan, sehingga kedepan masjid ini tidak akan menemui masalah baik masalah hukum maupun masalah lain seperti atap bocor, cat mudah mengelupas, kualitas bangunan ecek-ecek dan lain-lain.

Kan lucu juga jika hal tersebut terjadi. Dan pastinya akan mencoreng keindahan ajaran Islam sendiri. Masa setelah Alqur’an, Dana Haji, Masjid juga mau dikorupsi?

Mudah-mudahan tidak akan terjadi di kota yang kita cintai ini. Amin, amin Ya Rabbal ‘alamin.