Tulisan ini bukan tentang kisah cinta San Chai dan Tao Ming Tse. Bukan pula tentang drama korea yang sempat membuat demam masyarakat Indonesia beberapa tahun yang lalu. Tulisan ini hanya sekedar mengulas keberadaan monumen langka yang mungkin belum banyak dikenal masyarakat.

Pada hari Jum’at Pahing tanggal 11 Mei 2001, sekitar jam 09.00 WIB, sebuah meteor jatuh di Bumi Temanggung. Benda luar angkasa ini jatuh di ladang penduduk Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Konon, jatuhnya meteor ini menimbulkan suara gemuruh yang sangat keras dan ledakan yang dahsyat. Membuat penduduk sekitar terkejut dan mencari sumber suara itu. Setelah mencari kesana-kemari akhirnya penduduk setempat menemukan pecahan batu yang jatuh dari luar angkasa tersebut.

Fenomena alam yang langka ini membuat sejumlah ilmuwan tertarik untuk menelitinya. Beberapa peneliti dari Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta bertandang untuk melakukan penelitian terhadap meteorit ini. Pecahan batu tersebut kemudian dibawa ke Yogyakarta untuk diteliti lebih lanjut. Dan setelah selesai melakukan penelitian, pada tanggal 3 Mei 2010 pecahan batu ini diserahkan kembali kepada Pemerintah Kabupaten Temanggung.

AKPRIND membangun sebuah monumen di lokasi jatuhnya meteor. Monumen ini diresmikan pada tanggal 18 Februari 2002 sebagai tempat wisata pendidikan. Di lokasi yang terletak pada koordinat 07° 19’ 08.9” LS dan 110° 05’ 19.0” BT diberikan tanda titik jatuhnya meteor yang bersebelahan dengan monumen berbentuk replika meteorit. Lokasi yang dibangun di kaki Gunung Sumbing ini menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Temanggung. Di lokasi dengan background Gunung Sumbing dan Sindoro yang gagah menjulang ini kita bebas menghirup udara segar sembari menikmati taman kecil yang dikelilingi lahan pertanian penduduk.

Hari ini saya beserta anak istri menyempatkan mengunjungi Monumen Meteorit Wonotirto. Sekedar untuk refreshing di hari libur, menikmati udara segar dan pemandangan alam yang menakjubkan. Kondisi monumen sepi. Pagi ini hanya ada kami yang datang ke lokasi wisata ini.

Namun sayang, kondisi monumen yang pernah mendapat Rekor Muri ini kondisinya kurang terawat. Beberapa bangunan yang mulai rusak seperti gazebo, coretan kaum fandal di dinding-dinding lokasi taman, rumput liar yang dibiarkan tumbuh, juga beberapa sampah plastik yang berserakan sedikit mengganggu mata kami untuk menikmati keindahan monumen ini.

Mudah-mudahan kedepan monumen ini lebih diperhatikan oleh pemerintah serta mendapatkan sentuhan inovasi sehingga menjadi obyek wisata pendidikan yang lebih menarik banyak pengunjung.

Mengesampingkan kondisi taman yang kurang terawat, suasana monumen yang sejuk dengan pemandangan alam yang eksotis, cukuplah bagi kami untuk membuang penat, memompa semangat baru.

Menurut saya, kalau sekedar untuk refreshing keluarga, Monumen Meteorit Wonotirto layak untuk kita kunjungi.

Tegaljoho, 29 Maret 2015