Hari-hari ini proses penerimaan cpns dibuka hampir bersamaan di seluruh Indonesia, baik di pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Animo masyarakat untuk melamar setiap tahunnya semakin bertambah. Dengan penuh harapan mereka antusias untuk mengikuti tahapan demi tahapan dalam proses seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil ini.

Saya adalah salah satu manusia yang paling beruntung di dunia ini. Pasalnya ketika teman-teman saya sedang sibuk untuk mengikuti seleksi cpns ini, alhamdulillah tiga tahun yang lalu saya sudah diterima menjadi salah satu cpns di salah satu pemerintah daerah. Saya sangat bersyukur karena Allah telah memberikan kemudahan pada saya dalam menapaki setiap batu loncatan untuk mendapatkan pekerjaan yang menurut saya lebih baik. Alhamdulillah hampir bisa dikatakan semenjak lulus SMK saya belum pernah menjadi pengangguran sama sekali. Mungkin karena keinginan kuat saya untuk selalu bekerja, sehingga Allah membukakan jalan terbaik bagi saya. (cerita lengkap dapat dibaca di Doaku Terkabul Setelah Empat Tahun)

Bulan Oktober 2010 saya dinyatakan lulus kuliah. Beberapa hari kemudian tepatnya bulan November 2010 saya mendapat informasi tentang penerimaan cpns daerah di seluruh Jawa Tengah. Segera saya menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan dan saat itu pula saya segera mempersiapkan diri untuk memaksimalkan usaha agar bisa diterima menjadi cpns.

Saya pernah berkata pada teman saya bahwa 50% dari takdir adalah usaha. Maksudnya meskipun takdir itu hak prerogatif Allah, namun kita sebagai hamba Allah harus berjuang dengan maksimal. Jika toh nanti hasilnya nihil, kita tidak salah karena telah berjuang dengan sekuat tenaga. Namun ketika tidak memaksimalkan usaha berarti ibarat kita ingin melangkah seribu, kita hanya santai-santai berada di langkah ke sepuluh saja. Mana mungkin sampai ke tujuan.

Saat itu saya benar-benar berharap ingin menjadi cpns. Bagaimana tidak, saat itu saya sudah mempunyai seorang pacar (meski saat ini saya menganjurkan kepada orang lain untuk tidak pacaran) dan ingin segera menikah. Padahal saya hanya seorang tenaga honorer biasa yang notabene gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Maka, dengan segala cara (tentunya yang cara yang halal) saya bulatkan tekat untuk segera mengerahkan segala kemampuan yang dapat saya lakukan. Termasuk dengan berbagai macam riadhoh/tirakat.

Pertama-tama saya memohon ijin kepada kedua orang tua saya terutama ibu. Saya memohon kepada bapak ibu untuk mendoakan saya sehabis sholat malam. Saya yakin doa orang tua terutama ibu amat sangat mustajab. Apalagi jika dilakukan pada sepertiga malam terakhir sehabis sholat tahajut.

Saya berusaha untuk sholat dhuha dan tahajut. Selain itu saya berusaha berdoa pada saat-saat dan keadaan dimana doa-doa akan dikabulkan. Diantaranya adalah ketika azan dan iqomah, ketika duduk diantara dua khutbah jum’ah, pada sepertiga malam terakhir, doa ketika berpuasa, juga doa ketika sehabis minum air zamzam. Saya berusaha melakukan secara kontinyu dengan penuh harapan agar bisa diterima.

Selain berdoa saya juga mencoba bernazar, jika saya diterima saya lunaskan hutang-hutang teman-teman saya. Saat itu tidak banyak uang yang dipinjam teman saya, namun tetaplah jumlahnya berarti bagi saya yang berpenghasilan kecil. Saya juga bernazar jika saya diterima saya akan membelikan buku tes cpns kepada beberapa teman saya jika saya diterima.

Ide lainpun bermunculan untuk menyempurnakan ikhtiar saya. Saya mencoba untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik lainya. Mulai dari memfotokopikan soal-soal cpns kepada beberapa teman, saya juga dengan senang hati mengantarkan berkas beberapa teman saya ke kantor pos. Berharap Allah akan membalas dengan sebaik-baik balasan. (terlalungarep.com).

Terakhir saya menyempatkan i’tikaf setiap malam ketika tes selesai dilaksanakan sampai dengan hasil diumumkan. Hampir setiap malam, saya berusaha tidur di masjid. 🙂

Disamping usaha secara batiniah, tak kelupaan saya mempersiapkan usaha secara lahiriah. Mulai dari download soal-soal cpns, saya juga memfotokopi beberapa buku cpns yang saya anggap bagus (untuk beli, saat itu masih terasa berat). Buku tersebut menyajikan beberapa materi yang berkaitan dengan tes cpns juga menyediakan banyak latihan soal beserta jawaban dan cara penyelesaianya (untuk matematika). Dari situ saya dapat berlatih satu persatu soal juga penyelesaianya. Saya juga berusaha menghafalkan UUD 1945 dan beberapa wawasan kebangsaan lain dengan membuat bagan peta pikiran dengan software main mapping.

Usaha demi usaha telah saya lalukan, dan kini saatnya saya pasrah kepada kehendak Allah. Saya meyakini jikalau penentu diterima atau tidaknya itu murni keputusan Allah. Bukan karena usaha saya. Saya berusaha dengan maksimal hanya karena ingin berusaha menjadi hamba Allah yang baik dengan memaksimalkan ikhtiar. Saya percaya bahwa dalam hal ini tidak ada hukum sebab akibat. Oleh karena itu saya berusaha untuk pasrah dan tidak menggantungkan pada usaha saya.

Alhasil setelah proses demi proses saya lalui, akhirnya saya dinyatakan lulus menjadi cpns. Meski banyak pertanyaan yang mencerca saya “harus bayar berapa?” dan sejenisnya, Alhamdulillah saya lolos tanpa perlu menyuap.

Dan kini setelah jadi pns saya berusaha untuk bersyukur dengan berusaha menjadi hamba yang baik, terus belajar menjadi orang baik, agar senantiasa dapat mempersembahkan karya terbaik saya kepada Allah SWT.

Akhirnya, segala keinginan, impian dan harapan membutuhkan ikhtiar yang maksimal. Setelah itu berharaplah hanya pada Allah, bukan pada usaha kita. Dan setelah takdir berlaku, alangkah baiknya kita pasrah dan ikhlas, karena sejatinya kehendak Allah itulah yang terbaik bagi kita. InsyaAllah.

Demikian sepotong cerita ini, silakan ambil hikmahnya jika bermanfaat dan tinggalkan sekiranya tidak berguna.

Magelang, 12 September 2014