Pernahkah kita bekerja dengan orang yang sukanya hanya bercerita kesana kemari, namun pekerjaanya tak kunjung usai? Atau, pernahkan kita bekerja dengan rekan kerja yang sering lalai terhadap tanggung jawabnya? Namun anehnya ketika saat pembagian honor tiba, teman kita di atas justru dengan semangat menerima honor tanpa merasa malu sedikitpun. Pernahkan kita menjumpainya? Jika kita seorang PNS, pasti pernah.

Suatu hari salah seorang teman saya bercerita ikhwal temannya yang sering mengabaikan tanggungjawabnya. Namun ketika giliran hak atas pekerjaan tersebut diberikan, dengan enaknya dia menerima meski sebenarnya orang tersebut tak pernah mengerjakannya sekalipun. Ia jadi merasa iri dengan temannya. Pasalnya, berkeringat atau tidak, bekerja atau tidak toh honor atau gajinya sama saja. Bahkan hal itu kadang membuat teman saya justru ingin menirunya. Atau setidaknya hal itu membuat semangat teman saya semakin memudar.

Sahabat, jika dilihat dari kacamata dunia pasti akan membuat kita sakit hati. Namun jika kita melihat dari sesuatu yang terkandung di dalam apa yang kita terima maka hal di atas tidak berpengaruh apa-apa terhadap diri kita. Kata Pak Kyai, rejeki itu jangan dilihat dari jumlahnya saja, tapi dilihat dari berkahnya juga.

Kendati keberkahan ini tidak kasat mata, namun saya meyakini keberkahan ini selalu ada. Berkah artinya bertambah dalam kebaikan. Apapun yang diperoleh dengan cara yang baik dan benar, sedikit atau banyak, insyaAllah akan mengandung keberkahan. Dimakan jadi “enak”, kalau menjadi daging akan senantiasa mengajak kita ke arah kebaikan, kalau diberiakan pada anak istri akan membuat mereka semakin berprilaku terpuji, pikiran jadi tenang dst. Sebaliknya sesuatu yang diperoleh dengan cara yang tidak baik dan benar insyaAllah tidak akan mengandung keberkahan, meskipun jumlahnya banyak. Efeknya jika kita makan rasanya “tidak enak”. Jika jadi daging akan senantiasa mengarahkan kita ke hal-hal negatif, jika dikasihkah anak istri membuatnya semakin berani pada kita, pikiran jadi kacau dan lain sebagainya.

Dan yang jelas, sesuai janji Allah kelak di akhirat akan ditanya dari mana harta kita dapatkan dan ke mana harta kita belanjakan. Siapkah kita dengan pertanyaan itu?

Jadi niatkanlah kerja untuk ibadah. Bagaimanapun sikap rekan kerja kita, tidak akan membuat kita terpengaruh. Kalau bisa, kita nasehati, kalau sungkan setidaknya kita doakan agar segera sadar. Sedangkan kita akan tetap bekerja sesuai dengan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Tak perlu risau. Bukankan Allah Maha Adil?

Terus bagaimana dengan mereka yang korupsi? Bagaimana dengan mereka yang sering datang terlambat? Bagaimana dengan mereka yang sering bermain-main dengan uang kantor?
Menurut saya, sedikit tapi berkah jauh lebih nikmat dan menentramkan dari pada banyak tapi bermasalah.

Kita doakan semoga orang-orang seperti di atas segera sadar dan bertaubat, sebelum Allah yang langsung menegurnya.

Temanggung, 31 Agustus 2014