Inilah Indonesia. Negara dengan luas wilayah lebih dari 1.900.000 Km2 yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Zamrud Khatulistiwa ini terdiri lebih dari 17.000 pulau yang berdiri kokoh diantara samudra Hindia dan Pasifik. Bangsa besar dengan jumlah penduduk sekitar 260.000.000 jiwa yang terdiri dari kurang lebih 1.300 suku bangsa ini memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Tanahnya subur, kekayaan tambang yang banyak, kekayaan lautnya, hutanya, juga keberagaman yang terkandung di dalamnya membuat negeri ini bak percikan surga yang tertetes ke dunia. Tak heran jika dahulu Negeri ini menjadi incaran para penjajah.

Sudah hampir 69 Tahun negeri ini berdiri. Sejak dibacakannya teks Proklamasi oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 negeri ini mengalami pasang surut dalam dinamika kehidupan berbangsa. Ujian dan cobaan tak kunjung berkesudahan. Krisis multi dimensi mendera, berbagai persoalan tak henti-hentinya menerjang. Membuat negeri yang indah ini bagai bahtera yang terombang-ambing dihempas badai di tengah lautan luas. Korupsi di mana-mana, kekerasan, kriminalitas, kemisikinan, pelecehan juga sederet permasalah yang tak kunjung usai. Lemahnya penegakan hukum, keluhuran budayanya yang semakin terkikis, hutang semakin bertambah juga segudang problematika lainya yang membuat masyarakat cenderung skeptis dan pesimistis terhadap pemerintah, sehingga lambat laun semangat nasionalisme penduduknya semakin pudar.

Tercatat sudah enam kami negeri ini mengalami pergantian kepemimpinan. Sedikit demi sedikit negeri ini mengalami perubahan. Namun progres perbaikan yang lambat membuat negeri ini tertinggal jauh dari negara-negara yang lainya. Tak heran jika setiap diadakan pemilihan pemimpin negeri ini, angka golput-nya semakin bertambah. Masyarakatpun mulai apatis terhadap pemerintah.

Namun angin segar nampaknya mulai berhembus. Beberapa instansi penegak hukum seperti KPK perlahan-lahan mengembalikan kepercayaan publik pada pemerintah. Beberapa tokoh-tokoh politik dengan rekam jejak yang membanggakan sedikit demi sedikit mulai bermunculan. Juga kreatifitas dan prestasi anak bangsa yang tak tumbuh terus menerus. Mungkin hal ini yang membuat angka golput pada pemilihan legislatif tahun ini sedikit menurun dibandingkan dengan pemilu sebelumnya.

Sejarahpun terus berjalan merekam setiap kejadian-kejadian yang dialami bangsa ini. Hingga pada hari ini Selasa, 8 Juli 2014. Yang menandakan jika pemilihan Presiden Republik Indonesia tinggal menunggu satu hari lagi. Kali ini pilpres hanya diikuti oleh dua kandidat yaitu pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Euforia para pendukung semarak di berbagai penjuru tanah air. Bahkan hanya karena demi memenangkan pasangan yang didukungnya tak jarang para pendukung melakukan kampanye hitam, menjelek-jelekkan bahkan memfitnah kubu pesaingnya. Isu sara-pun tak lepas pada pilpres kali ini. Dukungan-dukungan dari lembaga maupun perseorangan terus mengalir dari seantero negeri ini. Bahkan media-media baik media cetak, televisi juga media online turut memberikan dukungan pada pasangan masing-masing. Tak heran jika suhu politik di negeri ini semakin memanas. Perang di dunia mayapun tak dapat dihindari. Setiap pendukung menghalalkan segala cara untuk membela yang didukung. Bahkan sampai bertengkar dengan teman, kerabat, atau keluarga sendiri. Padahal mereka menyadari kalau kedua pasangan sebenarnya putra terbaik bangsa yang sedang berkompetisi untuk memberikan yang terbaik bagi negeri. Hal ini sebenarnya tidak memberikan pendidikan demokrasi yang baik bagi generasi penerus bangsa.

Terlepas dari hal tersebut di atas, pilpres kali ini dilaksanakan di waktu yang istimewa. Pemilihan presiden secara langsung yang ketiga kalinya ini dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014, bertepatan dengan tanggal 11 Ramadhan 1435 H. Bulan yang suci bagi umat Muslim di seluruh dunia. Bagaimana tidak, pilpres yang diadakan di negeri yang hampir 87 % penduduknya beragama Islam ini diselenggarakan di bulan yang paling mulia diantara sebelas bulan lainya. Pilpres kali ini dilaksanakan dibulan yang penuh keberkahan, bulan penuh rahmat juga bulan dimana doa-doa dikabulkan. Mungkinkah ini pertanda kebaikan? Bisa jadi. Bukankah dulu ketika Negeri Ini terang-terangan mendeklarasikan kemerdekaanya juga di bulan Ramadhan? Ah semoga saja Tuhan telah mengguratkan takdir kejayaan negeri yang kita cintai ini.

Oleh karena itu mari kita manfaatkan pilpres kali ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan kesempatan sepertiga malam terakhir nanti malam untuk berdoa bagi Indonesia. Jangan lupa bagi yang beragama Islam untuk melakukan istikharoh mohon petunjuk kepada Dzat Yang Maha Pemberi Petujuk. Mudah-mudahan Prahara yang melanda negeri ini segera terselesaikan. Semoga “Bahtera Besar” ini akan mendapatkan seorang “Nahkoda” yang mampu membawa keluar dari badai yang terus-menerus menerjang. Sehingga negeri ini akan mampu berbenah diri menjadi bangsa berkarakter, berbudaya, adil dan penuh kesejahteraan. Semoga sang fajar akan segera menyingsing mengusir gulita malam. Siapapun Presidenya, semoga ini menjadi kabar menggembirakan yang dihadiahkan Tuhan dari langit untuk segenap rakyat Indonesia.

Selamat Memilih. Jangan mencoblos sebelum memohon petunjuk kepada Allah, Tuhan seluruh Alam.

Tegaljoho, 8 Juli 2014