Berasal dari bahasa Sansekerta “Di” yang berarti tempat tinggal dan “Hyang” yang berarti dewa, kata Dieng dapat diartikan sebagai tempat tinggal bagi para dewa. Asal usul kata yang cukup beralasan melihat lokasi wisata Dieng berada di dataran tinggi. Bahkan pemerintah kabupaten setempat memberikan sebuah slogan “Negeri di atas awan”.

Dataran Tinggi Dieng yang juga dikenal dengan Dieng Plateau adalah komplek wisata yang berada di Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah. Pesona wisata alam yang dipadukan dengan budaya setempat yang khas membuat Dieng menjadi salah satu destinasi wisata yang patut kita kunjungi. Dieng menawarkan beberapa lokasi wisata seperti komplek candi, tlaga warna, tlaga menjer, waduk, perkebunan teh tambi, air terjun, pemandian air panas juga beberapa puncak bukit. Berbicara mengenai Dieng rasa-rasanya tidak perlu aku uraikan detailnya di sini, karena sudah banyak info yang disampaikan di web maupun sosial media lainya.

Di sini aku hanya ingin menceritakan sepenggal perjalanan kami sekelompok gerombolan “tengik” ( karena ada yang belum mandi 🙂 ) yang menamakan diri dengan Kuclucker.

Berawal dari sebuah usulan salah satu anggota Kuclucker di grup Whats Apps (WA), maka kami sepakat jalan-jalan bareng pada hari Sabtu-Minggu tanggal 24 s/d 25 Mei 2014 dengan tujuan utama adalah Puncak Sikunir, Dieng. Sebenarnya tujuan dari refresing ini untuk menyegarkan pikiran beberapa anggota Kuclucker yang sedang “bunek/sumpek/mbededeg” karena sedang dilanda kegalauan yang tak kunjung berkesudahan….:). Namun sayang sekali aktor utamanya malah tidak bisa datang dikarenakan jarak yang terlampau jauh dan kesibukannya yang tidak bisa diganggu gugat(kecuali kegalauan itu sendiri yang dapat mencabik-cabik hatinya…:) ). Akhirnya kami berdelapan berangkat dengan satu pasien yang sebenarnya sudah mendapatkan obatnya. Pasukan terdiri dari Afnan + Calon Istri (katanya) , Rosi, Mbak Santi + Suami, Aku + Istri + Anakku.

Kami bertolak dari Temanggung sehabis Isya’, kira-kira pukul delapan malam. Berjalan pelan-pelan tapi stabil. Adalah seorang Rosi atau nama kerennya Rozzy Keane yang didaulat menjadi nahkoda kapal besi beroda empat dalam perjalanan malam itu. Pelan tapi pasti dan Alhamdulillah kami selamat sampai tujuan.

Setelah sejenak mampir di Alon-alon Wonosobo untuk sekedar bernarsis ria, akhirnya pasukan ini tiba di Dieng sekitar pukul sebelas malam. Kami belum memesan penginapan karena memang acara ini diadakan secara mendadak. Malam itu secara sepontan kami mencoba mencari penginapan. Beberapa kali kami mencoba bertanya kepada bapak-bapak yang berdiri di pinggir jalan tetapi mereka mengarahkan kepada penginapan yang harganya kurang terjangkau menurut kami. Akhirnya kami berinisiatif bertanya di Dieng Information Center yang berada di dekat tugu perbatasan antara Wonosobo dan Banjarnegara.

Bak gayung bersambut. Seorang yang bertugas disitu memberikan informasi sebuah homestay dengan harga sewa yang murah. Namanya Saliksia Homestay, rumah milik Mas Kabul ini disewakan dengan harga empat ratus ribu sehari semalam. Dengan fasilitas 2 kamar, 1 tempat santai (untuk nonton teve), 1 ruang tamu, 1 dapur, 1 kamar mandi dalam dengan penghangat air juga mobil yang bisa masuk ke dalam rumah, menurutku harga itu sudah sangat murah sekali. Kami akhirnya memutuskan untuk bermalam di sana.

Alarm di hp-ku berbunyi sampai tiga kali. Karena saking lelapnya aku baru mendengar bunyi alarm yang ketiga kalinya. Tak terasa aku ketiduran setelah semalam ngobrol-ngobrol sambil menyantap Pop Mie dan dilanjutkan dengan menonton final Liga Champion antara Real Madrid melawan Atletico Madrid. Pukul setengah empat kami semua sudah bangun, tak terkecuali malaikat kecilku yang hampir menginjak usia dua tahun.

Setelah bersiap sejenak kami segera berangkat menuju lokasi tujuan. Kira-kira seperempat jam perjalanan dari homestay. Sesampai disana kami disambut dengan telaga Cebong yang membentang di bawah siluet bukit Sikunir. Cerahnya langit dengan bulan sabitnya yang menggantung juga taburan bintang gemintang membuat pagi itu terasa memesona. Hembusan udara dingin seakan masuk sampai kerusuk membuatku memakai pakaian yang berlapis.

Sesampai di sana kami segera menyempatkan diri untuk Sholat Shubuh. Sayang sekali di lokasi wisata yang lumayan rame ini hanya ada mushola kecil yang hanya dapat menampung sekitar empat orang. Ini membuat kami harus antri lumayan lama. Tempat berwudhunya pun tidak kami temukan. Untung tadi sebelum berangkat kami sudah kompak mengambil wudhu di homestay.

Selah selesai sholat kami segera bersiap untuk naik keatas. Mbak santi yang sedang hamil tiba-tiba kebelet ke belakang ditemani sang suami. Sementara istri dan anakku menunggu di mobil karena khawatir kalau ikut naik Ilyasa anakku tak kuat menahan dingin. Kami menunggu Mbak Santi di pintu masuk parkir. Aku baru sadar kalau sinyal Indo*sat ternyata tidak menjangkau daerah itu. Segera aku menuju mobil untuk memberikan hp-ku yang ada sinya Telkom*elnya. Kebetulan istruku cuma pakai Indo*at.

Sesampai di mobil istriku bilang kalau Ilyasa ingin BAB. Aku tak tega meninggalkan istriku mengurus Ilyasa sendirian. Meskipun ambisiku naik ke puncak Sikunir sudah meluap-luap, bagaimanapun istri dan anak lebih penting. Aku memilih untuk mengurungkan niatku dan membantu istri mengurus Ilyasa ke toilet.

Setelah aku meminta ijin untuk menunggu di bawah, mereka berlima akhirnya beranjak mendaki puncak Sikunir. Perlahan-lahan langit malam mulai berganti dengan pagi. Sinar mentari yang sedikit berawan pagi itu membuat udara pagi itu terasa segar. Telaga Cebong semakin memesona. Terlihat tenda-tenda di sekeliling telaga. Subhanallah…Alangkah indahnya pagi itu.

Mobil berjalan sedikit kencang. Kali ini yang menjadi nahkoda adalah Kapten Afnan. Sepanjang perjalanan berangkat maupun pulang kami senantiasa saling melempar candaan konyol, Selalu begini ketika kuclucker berkumpul. Nggak pernah ada sedih. Sebelum berangkat pulang kami mampir ke warung makan dan juga membeli oleh-oleh khas Wonosobo.

Tadi setelah turun dari puncak Sikunir kami menyempatkan lagi berfoto ria dengan background tlaga Cebong. Kemudian kami kembali ke homstay, istirahat sebentar dan bersiap untuk segera pulang.

Perjalanan kali ini bagiku menyenangkan. Meski hanya sebentar bersama teman-teman, namun cukup untuk melepas penat yang melekat mengiringi rutinitas.

Pukul tiga siang aku sampai di rumah. Ilyasa sudah tertidur pulas, Kuclucker istirahat dan langsung meneruskan perjalanan pulang. Kali ini yang mengemudi sekaligus menjadi obat nyamuk adalah Mr. Umchamad Rozikin.

Bersambung ke destinasi selanjutnya…. :).