Suatu ketika ada seorang suami yang hendak membeli cincin untuk hadiah ulang tahun istrinya. Setelah beberapa bulan menabung, akhirnya terkumpulah sejumlah uang yang dapat digunakan untuk membeli cincin. Tidak berbilang banyak uang yang dikumpulkan karena sang suami hanyalah seorang pekerja rendahan. Namun sejumlah uang tabunganya cukup untuk membuat besar hati sang suami.

Pada suatu sore yang cerah berangkatlah sang suami ke toko perhiasan dengan hati yang gembira. Niatnya untuk sesekali membahagiakan istrinya akan segera terwujud. Sesampainya di toko perhiasan ia segera memilih cincin yang dirasa bagus untuk sang istri tercinta. Hasil tabunganya dapat ia belikan cicin seberat 3 gram. Sebenarnya ia ragu dengan ukuran cincin yang agak besar namun karena ukuran yang lebih kecil beratnya juga lebih kecil maka ia tetap mengambil cicin yang ukuran lebih besar. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya. Persepsi sang suami, semakin berat perhiasan maka itu semakin baik.

Sesampainya di rumah segeralah dipakaikan cincin itu kepada sang istri. Namun apa yang terjadi, cicin itu terlalu besar untuk jemari istrinya.

Keesokan harinya sang suami terpaksa harus menukarkan cicin istrinya dengan ukuran yang lebih kecil. Meski beratnya juga lebih kecil namun sang suami telah memahami bahwa yang baik itu bukan cincin yang termahal ataupun yang terbesar jumlah timbanganya, namun cicin yang pas untuk jemari istrinya.

***

Sahabat, seperti itulah kehidupan. Terkadang kita mempunyai persepsi yang kurang pas dalam menyikapi peristiwa dalam hidup. Misalnya ketika kita hendak memilih pasangan hidup. Apakah harus yang paling cantik/tampan? Apakah harus yang paling seksi? Apakah harus yang paling kaya? Apakah harus yang sempurna? Banyak contoh disekitar kita yang terlalu perfectionis malah sampai tua tidak mendapat pasangan hidup. Apakah kecantikan, kekayaan bisa menjadi jaminan? Banyak sekali contoh public figur kita yang gagal membina rumah tangga justru karena kecantikan/ketampanan atau karena kekayaanya.

Seperti kisah pembeli cincin tadi, sejatinya dalam memilih pasangan hidup tidak harus mencari yang sempurna tetapi carilah yang pas di hati kita. Meskipun tidak terlalu cantik/tampan, tidak terlalu seksi, tidak terlalu kaya asalkan dia pas dihati kita, terutama dari segi akhlak juga sifatnya yang bisa menerima kekurangan kita, kenapa tidak? Bisa jadi, kesempurnaan adalah ketika kita bisa menerima ketidaksempurnaan pasangan kita.

Sejatinya kecantikan, ketampanan, kekayaan juga ukuran-ukuran di dunia yang lain hanyalah sebuah persepsi atau standar yang ada pada masing-masin diri kita. Sejatinya kecantikan, ketampanan, kekayaan juga ukuran-ukuran dunia lainya tergantung hati kita. Tergantung dari segi apa kita bandingkan, tergantung dengan apa kita bandingkan. Maka bagi saya pasangan ideal itu cukuplah pasangan yang senantiasa bisa menerima kekurangan kita, pasangan yang ikhlas hidup sederhana serta mensyukuri setiap pemberian dari Allah, pasangan yang senantiasa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, juga pasangan yang senantiasa setia atas kesabaran, sabar atas kesetiaan demi mempertahankan hubungan yang terbalut ikatan suci-Nya.

Temanggung, 12 Januari 2014