Ayo kanca dolanan ing njaba. Padhang mbulan mbulane kaya rina. Rembulane ne angawe-awe. Ngelingake aja pada turu sore.

Cahaya rembulan malam tiga belas berpendar terang membasuh bumi. Membuat nampak jelas pepohonan, genting, pager gedheg, batu, tanah juga rumput-rumput yang ada di tanah lapang ini. Sebuah halaman rumah milik Pak Nur, tetangga kami. Halaman rumah tempat kami bermain kasti, lompat tali, gobak sodor, benthik, dakon, dam-daman, kling brok, kelereng dan permainan-permainan lainya. Halaman ini ini tidak terlalu luas juga tidak terlalu sempit. Cukup bagi kami untuk bermain bersama-sama. Di sudut timur tumbuhlah pohon pepaya. Di bawahnya dipasang kursi bambu yang memang sengaja dibuat untuk sekedar duduk-duduk santai. Di sebelah utara pohon pepaya terdapat bongkahan batu yang telah dipecahkan. Batu-batu ini sengaja ditumpuk untuk persiapan membangun rumah. Di sebelah selatan, halaman rumah ini berbatasan dengan rumah Mbah Dikun. Sedangkan di sebelah barat terdapat bak penampungan air dengan selang-selang yang menyerupai gurita.

Malam ini malam tiga belas bulan hirjiah. Itu berarti bulan di langit nampak bulat sedikit gompal. Cuaca malam yang cerah bertepatan dengan musim kemarau tahun ini membuat lagit desa kami nampak terang sejauh mata memandang. Awan-awan tipis nampak melayang menghias cakrawala. Bukit di sebelah barat desa kami juga tak mau kalah untuk berbagi keindahan. Siluetnya yang menjulang indah membuat suasana serasa di alam lain. Desa kami memang belum dialiri listrik. Jadi, suasana bumi yang terang di malam hari nampak begitu mempesona. Membuat kami anak-anak kecil merasa gembira. Inilah saat yang tepat untuk bermain bersama teman-teman. Bagaimana tidak, biasanya kami melalui malam hanya ditemani dian. Penerangan kecil yang dibuat dari botol pestisida, atasnya ditutup dengan tutup sprite yang dikasih sumbu dan diisi dengan minyak tanah. Kadang kami belajar juga menggunakan lampu sederhana ini. Pernah juga buku pelajaran kami basah karena terkena minyak tanah yang tumpah. Wajarlah jika saat-saat bulan berpendar menjadi saat-saat yang kami nanti kehadiranya.

Malam ini malam tiga belas bulan hijriah. Jarang-jarang warga desa kami menonton televisi. Paling hanya saat-saat tertentu. Itupun kami harus mengantri ataupun berebut tempat duduk. Di desa kami yang mempunyai televisi bisa dihitung jari. Jadi ketika acara dimulai, satu ruangan bisa penuh seperti acara rapat desa. Biasanya televisi menggunakan listrik dari accu. Jadi kalau accu-nya sudah habis meski acara belum selesai mau tak mau kami harus membubarkan diri. Pun demikian jika pemilik televisi tidak sempat menyetrumkan accu-nya. Itu berarti penantian kami seharian bakal berakhir sia-sia. Tapi kamipun juga tidak kecewa. Sudah diijinkan menonton saja kami sudah banyak berterimakasih.

Malam ini malam tiga belas bulan hijriah. Kami juga mengaji dengan penerangan dian. Tidak ada jenset, lampu emergency ataupun lampu-lampu terang seperti di kota. Paling hebat menggunakan storem. Lampu dengan minyak yang dipompa dengan kaos yang dapat menyala lebih terang. Itu pun jarang. Paling ketika warga kami ada hajatan seperti tahlilan, lahiran, maupun pernikahan. Dian menjadi teman kami menuntut ilmu. Malahan bisa berfungsi ganda karena biasanya menjadi alat buat kami untuk menandai sampai mana kami mengaji. Caranya dengan menggunakan tuding (sapu lidi yang kami gunakan untuk menunjuk huruf saat mengaji) yang dibakar dan menandai lingkaran sampai mana kami mengaji dengan arang hasil bakaran tuding ini.

Malam ini malam tiga belas bulan hijriah. Hembusan angin malam membuat daun-daun pohon cengkih milik Mbah Dikun bergoyang-goyang. Juga menerpa wajah kami. Cahaya bulan juga memantul ke blumbang yang ada di sebelah timur rumah Mbah Dikun. Membuat riak airnya nampak bergelombang kecil. Juga ikan-ikan yang bergerak berlalu-lalang. Malam ini kami tidak bermain membela seperti biasanya. Tidak pula petak umpet, ayam-ayaman, ndrem-ndremo wulung ataupun ular naga. Ya, malam ini cukup kami habiskan untuk memandang sang rembulan yang bertahta di angkasa. Ditemani jutaan bintang yang ditumpahkan ke langit. Juga nyanyian kodok dan jangkrik yang membuat syahdu malam ini. Tidak ada HP, tidak ada televisi, tidak ada internet. Malam ini kami duduk-duduk di atas bongkahan batu yang ditumpuk di sebelah timur halaman rumah Pak Nur. Bercerita tentang kejadian di sekolah, di Sigayam, Siblondo, pancuran Ndiwek atau Munggang. Juga kadang kami berencana untuk mencari kayu bakar, merumput atau mencari ikan di sungai. Sekali dua kami saling ejek. Tertawa lepas tanpa beban. Atau sekedar mendendangkan lagu yang sedang ngetren saat ini. Siapa lagi kalau bukan Eksis dengan Mencari Alasan-nya. Bisa menghapalkan lagu ini pun sudah merasa hebat sekali. Saat menyanyikan lagu ini sembari menyapu saat piket sekolah serasa menjadi artis papan atas.

Malam ini malam tiga belas bulan hijriah. Malam yang takkan pernah kutemui ditahun-tahun yang akan datang. Malam-malam penuh keceriaan. Jauh dari keangkuhan. Malam apa adanya dibingkai dengan kesederhanaan hidup. Malam yang senantiasa kami kan merindu……Entah untuk berapa tahun lagi.

Tegaljoho, 9 Desember 2013