Jika ingin mengacaukan harimu maka bangunlah kesiangan dan berpikir negatif. Itu kalimat yang terngiang hari ini. Entah dari siapa aku pernah mendengarnya. Yang jelas hari ini agak kacau. Bukan karna bangun kesiangan bukan pula karena berpikir negatif, namun karena sebuah manajemen hidup yang belum teratur. Standar Operasional Prosedur (SOP) keluarga yang belum tertata. Sedikit kesalahan dapat mengacaukan seluruh hak atas kebahagiaan hidup hari ini.

Alkisah hari ini aku bagun tepat waktu. Namun pukul 6 kurang lima menit pakaian seragamku belum ku setrika. Belum sarapan, belum memanaskan motor dan juga belum mempersiapkan yang lainnya. Jarak antara kantor dengan rumah sekitar 35 Km. Biasanya aku membutuhkan waktu minimal 50 menit untuk sampai di kantor. Itu berarti jika jam kantor dimulai pukul 07.00 tit, maka harus berangkat maksimal pukul 06.10. Pagi ini jarum jam sudah menunjukkaan pukul 06.20.

Telat. Itulah sebuah kata yang pagi ini senantiasa terbesit mengiringi perjalananku. Mungkin bagi sebagian orang, telat bukanlah hal yang menakutkan. Bahkan sudah menjadi kebiasaan. Namun bagiku sebaliknya. Menyedihkan. Bukan karena teguran dari atasan, ataupun karena potongan gaji dan sejenisnya. Namun batinku yang memberontak. Omong kosong, ketika aku berusaha mendukung gerakan disiplin jika pada kenyataan aku sering telat. Apalagi saat ini aku bekerja pada instansi yang sedang melaksanakan Gerakan Disiplin Nasional. Percuma mendisiplinkan orang lain, kalau mendisiplinkan diri sendiri saja tidak becus. Tidak ada perubahan kalau tidak dimulai dari diri sendiri.

Motorku melaju dengan kecepatan 60, 70, 80 dan 90 Km/Jam. Berharap secepat mungkin sampai kantor. Seandainya aku terlambat ikut apel setidaknya hanya beberapa menit saja. Namun keadaan tidak mendukungku. Kondisi jalanan yang ramai membuat aku tidak bisa cepat dan leluasa. Apalagi melihat jumlah bensinku yang tinggal dua strip, itu menandakan harus segera di isi.

Aku mulai berputus asa. Menerka jika aku pasti terlambat. Perlahan kuturunkan kecepatan. Berharap semoga tidak terlalu parah.

Dan waktu tetap berjalan sesuai yang digariskan. Guratan takdir telah terukir sesuai ketetapannya. Sejatinya manusia hanya bisa menerka, Allah-lah yang menentukan segalanya.

Ketika aku mulai berputus asa, seolah-olah keadaan berbalik arah. Bak pesawat melakukan manuver. Keadaan berubah drastis 180o mendukungku. Jalanan yang tadinya ramai seketika berubah jadi sepi. Seakan memberiku keleluasaan untuk menguasai jalan. Dari 14 Traffic light yang kulalui hampir semuanya berpendar hijau. Membuatku semakin bebas untuk megejar waktu.

Waktu menunjukkan pukul 07.00. Kuparkirkan sepeda motorku dengan rapi. Terdengar protokol apel memanggil karyawan yang ada di luar lapangan. Aku menghela nafas lega. Alhamdulillah…

Magelang, 18 Juni 2013