Langit di desa kami nampak mendung. Beberapa gumpalan awan menggelanyut di angkasa. Namun gerimis maupun hujan tak kunjung datang. Membuat udara sore ini terasa lebih gerah dari biasanya.

Waktu menunjukkan pukul 15.30. Ba’da asar ini, aku dan beberapa teman-teman segera mempersiapkan peralatan untuk tanding. Sesuai rencana sore ini kami akan melangsungkan pertandingan melawan kesebelasan sebuah desa di Kecamatan Salaman.

Kami saling berbagi tugas. Ada yang mengumpulkan kaos tim dan sepatu, ada yang mencari kendaraan, ada juga yang mengajak teman-teman yang lupa atau memang bandel tidak berkumpul.

Aku mendapat tugas mengumumkan lewat pengeras suara di masjid.

“Pengumuman….pengumuman ini kami tujukan kepada tim sepak bola Mangunrejo, agar segera berkumpul di perempatan, karena waktu sudah sore dan sudah ditunggu teman-teman yang lain. Sekali lagi kepada tim sepak bola Mangunrejo, agar segera berkumpul di perempatan, karena waktu sudah sore dan sudah ditunggu teman-teman yang lain. terimakasih”. Aku menyelesaikan tugasku dengan kalimat hafalan yang hanya itu-itu saja, meniru orang-orang dewasa.

Tidak seperti biasanya. Kali ini yang akan bertanding adalah murni dari tim anak-anak kecil seumuranku. Kalau biasanya kami berbaur antara remaja tanggung dan anak-anak. Kali ini tim anak-anaklah yang menantang kesebelasan lawan. Kebetulan di desa kami juga sedang persiapan hajatan tahunan nanti malam. Jadi sebagian besar remaja ikut membantu bapak-bapak mempersiapkan segala keperluanya.

Lima belas menit kemudian teman-teman satu tim beserta supporter sudah berkumpul di perempatan. Memakai kaos kebanggaan warna merah. Tim sepak bola “Tiger” junior siap turun gunung menghajar lawan.

Mobil yang akan mengantar kami juga sudah siap. Adi yang mendapat tugas mencari mobil segera meminta tolong kepada Wo Kurdi. Dengan mobil kol bukaan-nya, dengan senang hati Wo Kurdi bersedia mengantar kami ke Salaman.

Kami yang sudah berkumpul dari tadi segera naik ke kendaraan. Dayat yang mendapat jatah mengumpulkan uang iuran untuk membeli bensin, segera bergegas meneriaki teman-teman.

Kami duduk di tepi dan bersandar di bak mobil. Ada beberapa pemain dan supporter yang berdiri di bak depan, tepatnya di belakang kepala mobil. Sebatang bambu kecil berukuran 2 meter berdiri tegak di samping kanan mobil. Salah seorang pemain memegangi tongkat yang digunakan untuk mengibarkan bendera tim kami. Bendera yang bergambar seekor macan terbang hendak menendang bola. Lambang keperkasaan, ketangkasan dan keberanian tim kami.

***

“Dalam pertandingan, kalah menang adalah hal yang biasa. Yang memalukan adalah ketika kita tidak mau menerima dengan kekalahan sehingga menimbulkan hal-hal yang negatif seperti tawuran, saling mengejek dan  menjelek-jelekan atau perbuatan negatif lainya”. Pak Muhsin yang sejak tadi menjelaskan tentang sepakbola masih berdiri di depan kelas. Murid-murid asik mendengarkan. Satu dua mencatat di buku pelajaran olah raga.

“Anak-anak, Seorang petarung sejati akan ikhlas menerima kekalahan. Dia akan menjadikan kekalahan sebagai pelajaran untuk selalu meningkatkan kualitas dirinya. Tentunya dengan terus berlatih, belajar, belajar dan selalu belajar”.

“Dalam pertandingan yang lebih penting adalah kejujuran. Apa artinya menang jika dengan kecurangan”.

Sedikit demi sedikit aku mencerna penjelasan Pak Muhsin. Merenungkan dalam-dalam memasukkan dalam hati. Ada hal yang lebih penting dari pada sebuah predikat kalah menang. Kejujuran dan Persahabatan.

***

Perlahan mobil berderak maju. Empat rodanya kompak berputar menindas jalan. Juga menindas rerumputan yang tumbuh di sela-sela batu di jalan kricak desa kami.

Suasana riang gembira mengiringi perjalanan kami. Dengan perasaan senang dan optimis kami meninggalkan desa. Kami siap bertempur di kandang lawan.

“Gol-gol-gol-ale-ale-ale, Mangunrejo memang paling Oke!!!” Sesekali kami kompak menyanyikan yel-yel, berlagak sudah seperti timnas. “Gol-gol-gol-ale-ale-ale, Mangunrejo tetap paling Oke!!!”. Gegap gempita sepanjang perjalanan kami. Sungguh sore yang menyenangkan.

Waktu menunjukkan pukul 16.15. Setelah menempuh setengah jam perjalanan yang diwarnai keceriaan anak-anak, akhirnya kami sampai juga di lapangan Salaman.

Terlihat tim lawan juga sudah siap sedang melakukan pemanasan. Tanpa menunggu ba-bi-bu kami langsung bersiap-siap. Antok selaku penghubung antara tim kami dengan lawan segera menjumpai kawanya. Kami memakai sepatu segera melakukan pemanasan.

“Prittt………..!!!”

“Prittt………..!!!”

“Prittt………..!!!”

Bunyi peluit wasit memekik telinga. Pertanda agar kedua tim segera ke tengah lapangan untuk memulai pertandingan.

Sore ini mendung masih tetap menggelanyut di langit Salaman. Namun di balik awan-awan hitam yang bergelantungan masih terlihat selarik dua larik cahaya matahari. Nampaknya gerimis belum mau turun. Lapangan ini berada di sebelah timur terminal. Kira-kira butuh lima menit jalan kaki dari terminal. Di sebelah utara lapangan ini dipagari ruko-ruko yang berjajar menghadap ke jalan raya. Sisi lainya dihiasi ladang-ladang milik penduduk.

Sudah biasa kami melakukan pertandingan persahabatan. Hampir sebulan sekali kami bertanding keluar. Karena lapangan kami yang kurang besar dan kondisinya yang sulit, tim kamilah yang sering bertandang ke kandang lawan. Kadang kami kalah, namun tak jarang kami menang. Sesuai kata Pak Muhsin, kalah menang adalah hal yang wajar dalam sebuah pertandingan. Yang penting sportif. Menjunjung tinggi kejujuran.

“Prittttttttttt!!!”

Lagi-lagi peluit sang wasit berderit kencang. Tanda pertandingan telah dimulai.

Tiga menit yang lalu wasit mengundi tempat. Babak pertama ini kami mendapat tempat di lapangan sebelah barat. Sebelumnya kami sudah menentukan formasi bermain. Kali ini kami menggunakan formasi 4-3-3-1.

“Lempar bolanya Pin!”. Antok meminta bola kepada Ripin yang sedang menggiring bola. Lima menit pertandingan berjalan tim kami sudah menguasai bola.”Ayo lempar…!” Antok bergegas menerobos pertahanan lawan.

Bola pun menggelinding ke arah antok.

“Sikat bolanya!!!”. Ripin meneriaki Antok yang sudah mendapat bola. Sedikit menggiring sambil mencari posisi yang pas.

“Duk…..”. Bola berhasil dieksekusi. Tidak pendek tapi juga tidak terlalu tinggi. Bola bergulir ke arah kiri gawang.

“Pritttttt…..!!!”. Wasit lagi-lagi meniup peluit panjang.

“Goal…….!!!”. Supporter yang berada di pinggiran lapangan riuh rendah meneriaki. Mereka semangat sekali sambil meloncat-loncat.

“Gol-gol-gol-ale-ale-ale, Mangunrejo memang paling Oke”. Sesekali terdengar yel-yel dari para supporter kami.

***

Beberapa hari yang lalu di lapangan Munggang saat kami berlatih dengan desa tetangga.

“Tunggu!!!”. Suara seseorang terdengar lantang.

Kami segera mendekat ke tempat kejadian.

Ternyata salah seorang back lawan sudah mencengkeram kerah baju Adi, bersiap memukul Adi. Beruntung kami segera mendekat dan berhasi menghentikan kejadian itu.

“Ada apa ini kok ribut-ribut”. Salah seorang anggota tim lawan yang sudah dewasa mencoba melerai.

“Itu si Adi menendang kakiku”. Jawab back lawan dengan muka memerah.

“Benar Adi?”

“Tidak benar. Aku tidak sengaja menendangnya. Tadi ketika aku hendak menendang bola, kakinya sudah di depanku.” Adi membela diri.

“Jangan bohong kau. Munafik!!”. Tanganya mengenggam bersiap menghantam lagi.

“Sudah-sudah”. Kembali kami melerai mereka.

“Sudah. Tidak ada gunanya berkelahi. Kalian berdua akan rugi sendiri. Lagian kita semua ini kan bersaudara. Apalagi desa kita bersebelahan. Memalukan kalau sampai ribut-ribut. Anggap saja tadi kecalakaan. Sekarang segera kalian bersalaman dan meminta maaf masing-masing”. Tegas mas-mas dengan tubuh yang agak besar itu melerai mereka.

Akhirnya keduanya bersalaman. Saling memaafkan.

Haripun sudah sore. Kami bergegas pulang ke rumah masing-masing

***

Bola sudah digenggaman. Tendangan barusan hampir saja menjebol gawangku. Selisih 5cm saja mungkin sudah menghajarku. Beruntung aku segera melompat dan bola mengenai mistar gawang segera terpelanting keluar. Kembali bola di tendang lawan. Kali ini bola berhasil sempurna kutangkap.

“Duk…”. Bola berputar melambung. Bergerak cepat menuju ke arah Antok.

“Prittt………..!!!”

“Prittt………..!!!”

“Prittt………..!!!”

Untuk terakhir kalinya peluit wasit memekik telinga. Tanda pertandingan telah usai.

Sore ini adalah hari keberuntungan kami. Kami menang telak 10-0.

Aku sebagai kiper berhasil melakukan beberapa penyelamatan gawang. Tentunya dibantu oleh back.

Belum pernah kami menang dengan skor sebanyak ini. Kami segera berkemas pulang ke kandang kami.

Perasaan gembira membuncah sepanjang perjalanan. Decak kagum para supporter juga perasaan bangga di hati kami tak mau luntur. Sepanjang perjalanan pulang kami menyanyikan yel-yel lebih meriah. Membuat pengendara lain atau pejalan kami yang melihat seketika tertegun, terheran-heran.

Bendera macan terbang menendang bola berkibar mempesona. Hari ini sang macan benar-benar berhasil memangsa lawan.

“Hong…..trotok-tok-tok. Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap. Tumbas martabak tanpo klopo, monggo disimak Babat Alas Wonomarto”.

Suara dalang dan gamelan membahana sampai di pintu masuk desa.

Tiga puluh menit perjalanan kami kembali sampai di desa.

Kebetulan desa kami sedang mengadakan acara besar tahunan, Pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Kami yang baru pulang pertandingan seolah-olah disambut dengan acara ini. Membuat kami semakin riang. Menghilangkan kelelahan kami.

Ya semuanya terbayar sudah. Pertandingan yang bersejarah bagi kami.

Menang 10-0.

Lembah Sindoro, 14 Maret 2013