SORE YANG INDAH. Langit biru menghias cakrawala sejauh mata memandang. Diselingi selarik awan cirus tipis yang mengambang bagai kapas. Di sebelah utara dan barat dipagari dengan pemandangan bukit menjulang dengan pepohonannya yang hijau. Sementara di belakang bukit sebelah utara berdiri dengan kokohnya gunung sumbing yang menawan. Hembusan angin sore yang kencang membuat terik matahari sore seperti tak sedikitpun menyentuh kulit. Membuat rambut, baju juga dedaunan bergerak kecang. Membuat siapa saja yang berada di sini bagai berada di atas awan.

Wusss!!!. Bola melambung ke atas. Terus bergerak, bergulir, melesat maju. Posisinya sekarang berada di daerah lawan.

“Ayo kejar bolanya, Di!” Teman-teman kompak meneriaki Adi yang berada di posisi paling dekat dengan bola. Dan sebelum teman-teman berhenti meneriaki, Adi sudah beringsut mengejar bola.

Heading, Di”. Bola sudah mendekat ke arah penjaga gawang.

Duk….!!! Kepala Adi cekatan mengheading bola. Membuat bola berputar cepat, melesat ke arah kanan gawang lawan.

Sang kiperpun tak kalah cekatan. Tanpa berpikir panjang, reflek melompat dengan gaya macan terbang. Membuat punggung tanganya segera menghantam bola.

“Brak!!!”. Gawang berhasil di selamatkan. Hanya menghasilkan tendangan sudut bagi tim kami.

“Yah….”. Adi mengeluh kesal sembari mengibaskan tangannya.

Sedangkan sang kiper lawan tersenyum lega. Benar-benar penyelamatan yang hebat. Atau hanya sebuah keberuntungan?

Sore yang indah. Seperti biasa aku dan teman-teman asyik bermain bola. Kami selalu semangat penuh keceriaan. Bagaimana tidak? Permainan yang sudah merakyat dan melegenda ini selalu menjadi hal yang kami nanti-nanti.

Bermain bola selalu mengasikkan. Selain dapat mengasah skill, kami juga dapat melatih kerjasama dan kekompakan. Di samping itu sepak bola juga membuat kami sehat.

Sore ini. Aku dan beberapa temanku seperti ; Adi, Cipto, Dayat, Arip, Ripin, Mamat, Antok sudah bersiap di tempat ini. Tempat yang indah untuk kami dan anak-anak Mangunrejo lainya bermain sepak bola. Bahkan ada juga beberapa anak-anak dari desa tetangga yang jauh-jauh datang kemari hanya untuk bermain sepak bola. Ya…Kami menyebutnya Lapangan Munggang.

Lapangan Munggang adalah satu-satunya lapangan di desa kami. Sebuah lapangan tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil yang berada di bukit atas desa kami. Pemandangannya yang bagus membuat kami betah berlama-lama di lapangan ini. Selain dipagari bebukitan hijau di sebelah barat dan utara, dari lapangan ini kami juga dapat menyaksikan hamparan sawah nan luas yang berada di desa bagian bawah. Juga sungai-sungai, jalan setapak maupun jalan raya. Karena letaknya yang berada di atas, kami sangat leluasa untuk mnyaksikan pemandangan yang mengagumkan.

“Ayo kita awali dengan pemanasan dulu teman-teman”. Antok mengajak kami untuk segera melakukan pemanasan.

“Bagaimana kalau kita lari-lari dulu”. Dayat dan Adi beranjak lari perlahan mengitari lapangan. Diikuti teman-teman yang lain. Dilanjutkan dengan latihan oper bola.

Sementara aku yang mendapat amanah sebagai penjaga gawang tetap tak mau ketinggalan melatih reflek serta kelenturan badanku. Aku dan Cipto berlatih dengan shooting-shooting pendek.

“Tendang bolanya, Cip”. Aku menempatkan diri di pojok selatan lapangan.

Sebagian lapangan ditumbuhi rumput grinting yang hijau. Kecuali di bagian tengah sejajar dengan gawang. Rumputnya mengelupas. Menyisakan tanah tandus dan keras berwarnya coklat tua.

Aku mengambil posisi berdiri agak membungkuk, bersiap-siap menangkap bola. Cipto yang sudah siap, segera mengambil jarak bersiap menendang bola.

“Siap Sin?”.

“Ayo…Siapa takut!!”.

Duk…!!! Kaki Cipto menendang bola. Cukup pelan ke arah kanan.

“Yap….”. Segera aku lompat menangkap bola.

“Cuma segitu kemampuanmu, Cip”. Aku nyengir mengejek Cipto.

“Coba ini…”.

Wuss…..!. Lagi-lagi Cipto menendang agak keras. Bola bergulir cepat ke arah kiri.

Reflek aku melompat layaknya pemain betulan. Segera tanganku menjulur menggenggam bola.

“Yah…” Cipto mendesah sebal.

“Sini giliranku”. Antok mencoba menendang bola.

Lagi-lagi bola berhasil ku tangkap. Begitu juga bergantian dengan teman-teman yang lain.
Sore ini kami berlatih dengan maksimal. Menjelang pertandingan beberapa hari kedepan. Pertandingan persahabatan melawan salah satu desa di Kecamatan Salaman.

***

Matahari terus bergerak menuju sarangnya. Langit yang tadi nampak biru kini berubah kemerahan. Angin segar masih terus berhembus. Malah semakin kencang. Sesuai dengan pelajaran IPA di kelas tentang angin, ketika sore hari angin yang berada di gunung bergerak menuju lembah. Sekali dua terdengar decit kawanan burung pipit yang beranjak pulang. Juga tak mau ketinggalan derik suara jangkrik yang dari persawahan di sekitar lapangan yang menambah ramai suasana.

“Kalian masih ingat tidak sejarah sepak bola?”. Aku bertanya pada teman-teman yang sedang duduk istirahat. Nafas mereka masih terengah-engah.

Teman-teman menggelengkan kepala.

“Lho bukanya Pak Muhsin sudah menjelaskan beberapa hari yang lalu?” Aku menunjuk ke arah Antok. Teman satu kelasku.

“Dah lupa kawan”. Antok menjawab santai sembari meneguk minum yang di bawa dari rumah.

Pak Muhsin adalah satu-satunya guru olah raga kami. Beberapa hari yang lalu beliau telah menjelaskan tentang sejarah sepak bola di kelasku. Aku masih ingat betul penjelasan Pak Muhsin tempo hari.

Saat itu hari jum’at. Giliran pelajaran olah raga kelas kami. Namun karena gerimis mendadak menguyur, kami terpaksa mengikuti pembelajaran olah raga di dalam kelas.

“Anak-anak, siapa yang tahu ukuran standar lapangan sepak bola?”.Pak Muhsin berdiri di depan kelas, antusias bertanya pada murid-murid.

“Saya Pak”. Antok yang hobi melihat pertandingan sepak bola di teve segera mengacungkan jari.

“Panjang lapangan sepak bola berkisar antara 100 m sampai dengan 120 m. Sedangkan lebarnya bekisar antara 65 m sampai dengan 75 m”. Antok menjawab penuh optimis.

“Betul sekali anak-anak. Beri tepuk tangan untuk Antok”.

Kami sekelas serentak memberi aplos untuk antok.

“Sekarang siapa di antara kalian yang mengerti sejarah sepak bola”. Kembali Pak Muhsin memberi pertanyaan.

Kami hanya terdiam. Menyisakan ruang kelas yang lengang. 60 detik berjalan tanpa satupun jawaban. Kami saling menggelengkan kepala.

“Siapa yang ingin tahu?”

Segera kami sekelas mengacungkan jari. Menatap Pak Muhsin penuh perasaan ingin tahu.

“Pada jaman dulu sekitar 2400 tahun yang lalu sepak bola sudah dimainkan oleh orang-orang kuno di daerah Tiongkok, atau negara Cina. Mereka menyebutnya dengan Cu-ju. Mereka terus menerus memainkan permainan ini tentunya masih dengan sangat sederhana. Begitu juga di negara-negara yang memiliki peradaban kuno seperti Mesir, Yunani juga di negara eropa lainya. Hingga pada pertengahan abad ke 19 di Inggris sudah mulai dikenal sepak bola modern”. Pak Muhsin menghela nafas.

Kami semakin asyik mendengar kan penjelasan Pak Muhsin.

“Hingga sampai sekarang anak-anak. Sepak bola menjadi olahraga yang digemari juga dimainkan oleh kebanyakan orang di seluruh dunia”.

Kami semakin takzim mengikuti pelajaran Pak Muhsin.

***

“Sekarang kenapa bola itu bulat?”. Aku kembali melemparkan pertanyaan setelah tadi mengulang penjelasan Pak Muhsin kemarin di sekolah.

“Agar mudah di pegang?”.

“Agar bisa menggelinding”.

“Jawabanya benar tapi kurang tepat menurutku”.

“Terus apa, Sin?”

“Kalo kotak itu namanya wajik hahahaha….”. Aku menjawab seenaknya sambil berlari ke lapangan. Diikuti teman-teman lain, bersiap meneruskan pertandingan.

Sore ini kami sedang bertanding dengan desa tetangga. Skor sementara masih 1-1. Setelah istirahat sebentar, kami bergegas melanjutkan permainan. Tenaga kami sudah pulih semangat kamipun masih membara.

“Oi sini lempar bolanya”. Teman-teman berteriak lantang.

Bola sekarang sudah melambung ke tengah diterima Dayat dengan cekatan. Segera Dayat menggiring bola, sekali dua melakukan umpan-umpan pendek dengan Adi dan Antok yang posisinya sebagai straiker. Terobosan-demi terobosan dilancarkan. Sekali dua melakukan umpan one two.

Namun sayang kali ini bola berhasil direbut lawan. Terus digiring maju mendekati gawangku. Teman-teman back dari timku sudah mati-matian mengejar bola. Namun pemain lawan lebih tangkas memainkan bola. Bola semakin mendekat. Hanya beberapa meter saja dari gawangku.

“Kejar bolanya oi…”. Aku berteriak sembari mengambil sikap siaga. Mencoba membaca arah tendangan lawan.

“Di kawal satu-satu”. Kembali aku berteriak lantang.

Di depanku lawan sudah siap men-shooting bola.

Satu detik. Dua detik. Duk!!! Kaki lawan sudah menendang bola. Menghasilkan tendangan melintir ke kiri gawang. Tendangan tipuan. Aku sudah bergegas mengambil maneuver ke kanan gawang. Dalam gerakan lambat sepersekian detik. Aku justru bergerak menjauhi bola. Aku terpelanting ke tanah. Hanya bisa menatap bola mengarah pojok atas sisi atas gawang. Dan Brak!!!. Bola menghantam mistar gawang, segera terlempar ke luar lapangan. Aku menghela nafas lega.
Belum selesai aku menendang bola, tiba-tiba teman-teman baik dari desaku maupun dari desa sebelah segera berlari ke arah gawang lawan.

Dari kejauhan terlihat seorang Back musuh mencenkeram erat bagian depan baju Adi sembari mengepalkan tangan kananya bersiap memukul Adi.

“Tunggu…..”.Terdengar teriakan lantang. Entah siapa yang berteriak.

Aku semakin penasaran. Apa yang terjadi? Bukankan semuanya berjalan baik-baik saja?

Sang mentari sempurna sudah tenggelam di sarangnya. Menyisakan semburat merah di langit arah barat. Bukit-bukit hijau berubah menjadi siluet yang temaram. Pertanda malam akan segera mengusir siang.

Tegaljoho, 7 Maret 2013