“Ayo ambil papannya, Dik! Kita pasang di atas pohon kemundung ini”. Aku menyuruh Sidik untuk segera bergegas. Ku tatap pohon kemundung yang berada di pekarangan rumah Sidik ini sembari mencari tempat yang pas untuk markas kami.

“Siap. Kebetulan itu ada dua dahan yang menjulur agak kuat”.

“Ayo bekerja!, ini akan menjadi tempat belajar terhebat di dunia”. Alim dan Antok menimpali, saling menyahut riang.

Kami berempat, Alim, Aku, Antok dan Sidik adalah teman satu kelas. Di kelas kami hanya ada empat anak laki-laki dan enam anak perempuan. Kami selalu kompak. Kami menamakan diri dengan nama Genk Alas. Alas adalah huruf depan dari nama kami ; Alim, Lisin, Antok dan Sidik.

Siang ini. Seperti biasa selepas pulang sekolah kami langsung bermain. Kami bermain sesuai kehandak hati. Terkadang kami bermain di sungai, di ladang, bermain layang-layang atau mobil-mobilan yang kami buat sendiri dengan kayu. Namun tidak siang ini. Kami berempat sudah berencana untuk membuat markas genk kami, sebuah tempat khusus untuk belajar kelompok, atau sekedar tempat bermain.

Pagi tadi kami sudah menentukan tempat yang pas untuk membuat markas Genk Alas. Pilihan jatuh di belakang pekarangan rumah Sidik. Tepatnya berada di pohon kemundung yang berada di pojok utara pekarangan ini. Pekarangan yang dipenuhi berbagai tumbuhan termasuk kelapa, bambu, pepaya, sirsat juga beberapa pohon yang lain. Rindangnya beberapa pohon membuat tempat ini menjadi teduh. Udara desa kami yang masih murni, membuat angin selalu berhembus pelan, nan sejuk menentramkan. Di samping pekarangan ini juga dialiri sungai kecil yang bening airnya. Suara gemerciknya menjadi alunan melodi nyanyian alam yang syahdu. Dari atas pohon kemundung ini juga terlihat pemandangan yang sungguh menawan. Hamparan sawah yang menguning, juga sungai yang berkelok-kelok dengan air beningnya. Benar. Ini pilihan kami yang benar. Tempat yang tepat untuk markas kami. Markas tempat belajar kelompok kami.

“Ini papannya teman-teman”. Sidik agak terengah-engah meletakkan seikat papan yang baru saja di ambil dari rumah.

“Bagus kawan. Coba lihat! Dua dahan paling bawah sendiri. Dahanya sudah cukup kuat bukan? Nanti papan-papan ini kita pasang melintang. Ujung sini kita paku dengan dahan ini dan yang sana kita paku dengan dahan yang sana”. Aku memberikan instruksi sambil menunjuk ke dua dahan pohon kemundung di atas kami.

“Okelah….Ayo kita selesaikan kawan!” Lagi-lagi Antok dan alim semangat menimpali percakapan.

Kami memang sangat kompak. Persahabatan atas dasar perasaan senasib serta rasa kesetiakawanan yang mendalam membuat kami sudah seperti keluarga sendiri.

Pernah suatu hari kami berempat kompak dihukum Pak Guru gara-gara tidak memakai sepatu.

Alkisah sekolah kami baru saja kedatangan guru baru. Namanya Pak Kuat. Beliau sangat disiplin, cerdas, semangat juga kreatif. Sebelum beliau datang, bel masuk sekolah selalu berbunyi setelah pukul 7.15. Namun setelah kedatangan beliau jam masuk sekolahpun dimajukan menjadi pukul 7.00. Sebelumnya murid-murid juga banyak yang tidak mengenakan alas kaki alias nyeker, maka setelah kedatangan beliau kami diwajibkan memakai sepatu.

Memakai sepatu adalah hal yang baru dan tidak nyaman. Bagi kami yang sudah terbiasa nyeker, memakai sepatu hanya menambah beban di kaki. Tidak bisa fleksibel dan pokoknya ribet. Namun peraturan adalah peraturan. Kami hanya bisa mematuhi dengan peraturan baru ini.

“Nggak enak ya pake sepatu, ribet, nggak nyaman”. Aku menyeringai di depan Genk Alas sambil memainkan sepatu baru yang ku pakai.

“Iya ni ribet banget, mana sepatuku sudah bolong depannya”. Sahut Alim yang menunjukkan sepatunya yang kebetulang sudah sobek di bagian depanya.

“Bagaimana kalo besuk jumat kita nyeker aja. Besuk jumat kan olahraga, ga enak kalau harus pakai sepatu”. Aku mengusulkan ide.

“Nanti kalo ketahuan gimana?” Sidik bertanya sambil memainkan pensil di mejanya.

“Gampang, bilang aja sedang dicuci, atau ketinggalan dirumah”.

Dan hari jumatpun datang. Kami sepakat tidak memakai sepatu. Jum’at adalah hari yang menyenangkan. Pagi hari kami mengikuti pelajaran olahraga yang memang dilakukan tidak memakai sepatu.

Setelah pelajaran olahraga selesai, kami segera mengikuti pelajaran di kelas.
Tiba-tiba saja kami salah tingkah melihat Pak Kuat melototi kami.

“Kenapa tidak pakai sepatu, Lim?” Pak Kuat bertanya sambil melotot ke arah Alim.

“A….anu Pak! Se..sepatu saya sedang dicuci”. Alim agak gugup menjawab pertanyaan Pak Kuat.

“Kamu Sidik?”

“Sepatu saya rusak, Pak. Belum beli lagi? Sidik menjawab sekenanya sambil cengengesan.

Begitu juga aku dan Antok. Kami hanya menjawab asal-asalan saat ditanya Pak Kuat.
Pak Kuat pun tersenyum. Kami berempat merasa lega.

“Baiklah. Karena hari ini kalian melanggar aturan, maka kalian harus mendapat hukuman”.
Mendadak wajah kami pias. Dan akhirnya kami berempat mendapat hukuman membersihkan halaman sekolah.

***

“Aku di bawah aja ya?”. Berat suara Antok memecah senyap.

Antok yang berbadan paling gendut di antara kami tidak berani memanjat.

“Baiklah. Biar Aku dan Alim aja yang memaku papan ini. Sidik juga biar di bawah. Dia telah kelelahan membawa papan-papan ini”.

Saat kami bersama, kami hanya merasa riang dan gembira. Entah karena kami masih berada di bangku kelas 4 SD yang notabene belum mengeri masalah-masalah yang di hadapi orang dewasa, atau memang karena kami yang selalu bercanda saat bersama. Yang jelas kami selalu riang dan gembira.

Karena saking kompak dan selalu riang gembira, terkadang kami melakukan hal-hal aneh yang membuat kami merasa geli saat mengenangnya.

Pernah suatu ketika Aku, Antok dan Sidik hendak menyatakan cinta kepada murid baru di kelas kami. Namanya Alfita. Sementara Alim tidak ikutan. Dia merasa malu karena dia dan Alfita tinggal di dusun yang sama. Aku, Antok dan Sidik tinggal di Dusun Krajan, sedangkan Alim dan Alfita tinggal di Dusun Karangsari.

Alfita adalah anak baru di kelas kami. Dia pindah sekolah dan tinggal bersama bibinya di dusun tempat Alim berada. Wajahnya yang manis membuat teman-teman di kelas menjodoh-jodohkan kami layaknya orang dewasa.

“Ayo kita bertiga berlomba menyatakan cinta pada Alfita!”. Aku mengajak Antok dan Sidik.

“Caranya bagaimana?”. Sidik bertanya penasaran.

“Kita membawa bunga mawar masing-masing. Nanti kita kasihkan ke Alfita, bunga siapa yang di terima maka dia pemenangnya”.

“Baik. Siapa takut” Antok dan sidik sepakat.

Segera kami menuju Dusun Karangsari. Masing-masing kami membawa sekuntum mawar terbaik yang kami petik dari kebun tetangga yang akan diberikan pada Alfita.

Kami merasa PD dengan keyakinan masing-masing.

Hingga kami tiba di depan rumah bibi Alfita.

“Ayo kamu duluan….”

“Enggak Ah Kamu duluan….Ini kan idemu”.

Kami saling dorong. Tiba-tiba mental kami menciut saat di depan rumah bibi Alfita. Apalagi bibi Alfita terkenal galak dan ketus.

Kami masih saling dorong satu sama lain.

Tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu rumah.

“Ada-apa kalian ribu-ribut di rumah orang heh….”. Galak suara bibi Alfita membentak kami.

Kami berhitung dengan keadaan. Tanpa berpikir panjang lebar. Luntur sudah mental kami saat bertemu dengan bibinya Alfita.

“Kabur……”. Kami segera berlari meninggalkan rumah bibinya Alfita.

Kami teringat bunga yang masih kami pegang. Kami sudah kehilangan nyali. Mawa-mawar itu kami tancapkan di batang pohon pisang depan rumah bibinya Alfita. Soal siapa pemenangnya? Kami bertiga kalah semua untuk mendapatkan cinta sang Alfita. Cinta? Ah kami belum mengenal cinta dalam artian yang sebenarnya.

***

“Tok-tok-tok”. Terdengar palu alim menghantam paku yang paling ujung.

“Akhirnya selesai juga kawan”. Alim tersenyum penuh kepuasan.

Kami juga tersenyum puas. Segera kami berempat mencoba naik di atas papan.

“Menyenangkan sekali belajar di sini kawan!”

Tak terasa waktu sudah sore. Kami memutuskan untuk pulang. Mempersiapkan belajar esok hari di sekolah, juga di tempat ini. Markas Genk Alas. Markas yang akan kami gunakan untuk belajar kelompok. Mempelajari hal-hal yang baru dengan menyenangkan. Mengukir mimpi. Menjemput masa depan yang lebih cemerlang.

Magelang, 5 Maret 2013