SORE MENJELANG MAHGRIB. Matahari sama sekali tak kelihatan. Mungkin jika tampak, sang bola merah sedang tenggelam di sarangnya. Menyisakan semburat jingga yang memesona. Namun tidak sore ini. Yang nampak hanyalah awan-awan hitam bergelanyut malas di petala langit. Meghujamkan rinai gerimis yang membasuh kota kecamatan. Air membasahi sepanjang jalan. Kendaraan tetap saja berlalu lalang, tentunya dengan keperluan masing-masing. Gerimis tak dapat menghentikan rencana untuk menjalankan aktifitas mereka. Terlihat sepeda motor nekat membelah gerimis. Ada yang memakai mantel, tetapi ada juga yang bandel berhujan-hujanan. Apalagi pasangan muda-mudi yang melintas barusan. Mereka senang sekali memanfaatkan gerimis. Baginya gerimis membuat semakin romantis. Sore ini aktifitas tetap berjalan tidak jauh berbeda dari biasanya. Di mini market, rumah sakit, juga kios-kios yang memagari jalan. Sekali dua terlihat beberapa orang mengenakan payung berlalu lalang. Begitu juga di sebelah timur jalan. Sebuah kios kecil dengan papan nama bertuliskan Agen Bus Antar Kota Antar Provinsi tidak terlihat sepi. Malahan sore ini agak ramai dari pada hari-hari biasa. Namun hatiku tak seramai Agen Bus. Yang terasa hanya sepi, sepi sekali. Menyisakan mendung yang merekah dihati. Semendung sore ini. Sore yang memilukan.

“Kau harus ikhlaskan kepergianku, Kangmas”. Afifa berkata dengan mata berkaca-kaca. Entah apa perasaan yang sedang berkecamuk di hatinya.

“Insya Allah aku ikhlas, Deajeng. Aku hanya berharap semoga setelah Deajeng berada di sana, Deajeng akan selalu mengingatku, juga mimpi-mimpi kita. Ku harap Engkau selalu meminta kepada Allah di malam-malam heningmu, agar kita dipertemukan kelak di pelaminan. Aku juga akan tidak henti-hentinya berdoa”. Aku menatap Afifa penuh harapan.

“Insya Allah, Kangmas. Jika kita memang berjodoh, aku pasti akan kembali”.

“Iya, Deajeng. Aku yakin kita kelak akan bersatu”.

Hari ini adalah hari dimana aku harus berpisah dengan Afifa. Dia akan pergi ke Bengkulu. Salah satu Kabupaten di Propinsi Bengkulu, Sumatera. Dekat dengan Kota Padang. Sore ini aku akan berpisah dengan seseorang. Seseorang yang telah kupilih untuk menjadi teman hidupku. Entah kapan aku akan bertemu lagi. Semoga waktu berbaik hati.

***

Beberapa hari lalu di kota tempat aku bekerja.

Ruang komputer terlihat sepi. Para siswa sudah selesai mengikuti ekstrakurikuler komputer yang aku ampu. Beberapa guru juga telah beranjak pergi. Hanya meninggalkan satu dua guru yang sedang menyelesaikan pekerjaanya. Terlihat beberapa komputer masih menyala. Juga komputer server. Komputer tanpa monitor yang digunakan sebagai data pusat. Tempat penyimpanan semua file-file kerja, sehingga jika ingin menggunakan bisa di buka lewat komputer lain yang terhubung. Mbak Yulva dan Mbak Pur -rekan kerjaku, sesama guru honorer- sedang asyik di depan komputer masing-masing. Aku tak tahu mereka sendang mengerjakan apa. Atau sekedar nge-game. Sementara pemandangan di luar ruangan berbeda dari biasanya. Abu putih menyelimuti atap-atap, dedaunan, jalan juga pelataran sekolah. Abu tebal hampir 1 cm ini hasil kiriman dari gunung berapi paling aktif sedunia, Gunung Merapi. Hari-hari ini abu tebal ditumpahkan dari kawah merapi. Terbawa angin sampai kedaerah-daerah sekitar, tak terkecuali kota ini.

Hari ini kami bertiga sedang asyik mengerjakan tugas masing-masing. Aku sedang menyelesaikan laporan inventaris barang yang tak kunjung usai. Seperti biasa untuk melepas jenuh, kami selalu bekerja sembari bercanda. Sesama guru honorer kami sangat akrab. Bahkan sudah seperti keluarga sendiri.

Tiba-tiba HP yang ku taruh di atas meja komputer depan, berdering memekik telinga. Nadanya terlalu kencang. Aku santai menggapainya. Kulihat di layar HP tertera nama Al-Afifa memanggilku. Aku senang. Mungkin sedang kangen, ingin berbicara denganku. Perlahan ku angkat HP itu.

“Assalamu’alaikum, Deajeng”. Aku membuka dengan salam.

Satu detik, dua detik, sepuluh detik, Afifa hanya diam.

“Halo……”. Aku mencoba menyapanya lagi.

Kali ini terdengan suara lirih. Samar-samar. Bukan suara orang tapi isak tangis. Jelas sekali itu isak tangis Afifa. Sementara Afifa belum berbicara sepatah kata pun. Seketika aku terperanjat. Otakku diliputi perasaan ingin tahu. Kenapa Afifa menangis?

“Kangmas…”. Sengau suara Afifa terdengar pelan diiringi isak tangis.

“Kita harus berpisah, Kangmas. Aku beberapa hari lagi harus berangkat ke Bengkulu. Entah sampai kapan. Tadi siang Mas Broto menelponku, katanya aku diterima menjadi CPNS Daerah Bengkulu”.
Seketikah hatiku berdesir tak karuan. Antara percaya dan tidak percaya.

Memang beberapa bulan yang lalu Afifa mendaftar sebagai CPNS di beberapa instansi. Tidak terkecuali di Bengkulu. Itu saran dari Kakak pertamanya. Katanya kalo daftar di sana lebih mudah diterima. Sebenarnya Afifa keberatan kalau harus bekerja disana. Tapi karena selama ini telah dibantu dalam banyak hal termasuk kuliah dan lainnya, membuatnya sungkan untuk menolak saran dari kakaknya. Afifa hanya menurut saja. Semoga nanti Afifa tidak diterima disana. Itu doa kami selama menunggu pegumuman dari Bengkulu.

Namun guratan takdir berkata lain. Afifa dinyatakan diterima sebagai CPNS. Bahkan ia mendapat peringkat satu. Padahal kemarin saat mengerjakan tes masuk sudah berusaha asal-asalan. Aku tahu kalau Afifa dapat peringkat satu dari Mbak Yuyun, Mantan guru honorer satu sekolah yang diterima menjadi PNS di Bengkulu.

Aku sedih karena harus berpisah dengan Afifa. Apalagi urusan ini begitu sulit buatku. Tak mungkin aku menyusul ke sana, jauh dari orang tua yang telah begitu baik denganku. Sementara aku sendiri hanyalah guru honorer yang baru saja lulus D3. Belum jelas masa depanya. Jangankan menghidupi keluarga. Mengisi perut sendiri masih kesulitan. Aku bingung.

Aku hanya berusaha mengikhaskanya. Dengan harapan kelak aku dapat menjadi pengusaha yang sukses. Mempunyai banyak uang sehingga aku bisa mengganti gaji Afifa bekerja di sana dan membawanya bersanding di dekatku.

Namun itu hanya mimpi. Mimpi yang semu. Bagai berharap air ditengah padang tandus. Bak melukis pelangi tanpa hujan. Semuanya hanya harapan kosong. Aku semakin bingung.

“Terus kapan Deajeng akan berangkat”. Aku mencoba menguatkan diri.

“Besuk sabtu aku akan berangkat, Kangmas. Maafkan aku mengambil keputusan ini. Aku sungguh sungkan untuk menolak permintakan Mas Broto. Dia sudah begitu banyak membantuku. Menyekolahkanku, Menghidupi aku. Aku sungguh minta maaf. Aku telah menghempas mimpi-mimpi yang sedang kita bangun”. Afifa menggugu tak kuat menahan tangis.

“Sudahlah Afifa, semua ini sudah diatur Allah. Jika kita memang berjodoh, kelak engkau pasti kembali”. Aku berpura-pura bijak. Padahal dalam hatiku ingin sekali mengatakan Jangan pergi!, Tetaplah disini!, Nanti mencari kerja disini!, Siapa kakakmu!, Dia bukan penentu jalan hidupmu! Ah namun semuanya hanya ada dalam imaginasi. Jelas aku tak mungkin bersikap seperti itu.

Pembicaraan kami ditutup dengan sedih. Hatiku seketika sepi. Gelap. Bagai diselimutai malam tanpa bintang, tanpa bulan tanpa cahaya. Sungguh sepi hati ini tanpamu.

“Ada apa Mas. Kok wajahnya berbeda”. Mbak Pur menegurku. Diam-diam Mbak Pur mendengar percakapan yang keluar dari mulutku. Meski tanpa kesimpulan.

“Tidak apa-apa Mbak. Semua baik-baik saja”. Aku pura-pura dalam kondisi baik.

***

Bus yang kami tunggu belum datang juga. Bus yang akan mengantarkan Afifa sampai ibu kota. Perjalanan Afifa sampai Bengkulu ditempuh beberapa jam. Rencana sore ini Afifa berangkat ke Jakarta. Menginap dirumah kakaknya yang nomer empat. Paginya Afifa akan terbang ke Bengkulu. Dari Bengkulu naik travel yang sudah disiapkan Mas Broto sampai ke Bengkulu.

Sementera gerimis masih membungkus sore. Berlari-larik dihujamkan dari langit mengenai apapun yang ada di bawahnya. Membuat daun-daun bergoyang mengikuti alunan nyanyian alam. Langitpun semakin suram. Seperti mengerti jikalau hati ini sedang bermuram durja. Lengkap sudah sore ini menjadi melodi-melodi yang mengalunkan nyanyian kesedihan.

“Apakah Kangmas akan tetap mencintaiku?” Lirih suara Afifa memecah bising lalu-lalang kendaraan.

“Tentu Deajeng, bukankan aku sudah berjanji akan selalu mencintaimu. Hatiku telah memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku. Aku ingin Engkau menjadi yang pertama dan yang terakhir untukku”. Aku menghela nafas panjang.

Sementara gerimis semakin rapat.

“Seandainya aku tak bisa pulang lagi, apakah kangmas akan tetap menjadi suamiku? Ataukah kangmas akan mencari penggantiku”. Sekali dua Afifa mengusap air matanya.

“Aku akan berusaha untuk selalu mencintaimu Afifa. Namun setiap manusia sudah digariskan siapa yang akan menjadi jodohnya. Semuanya telah terukir dalam ketentuanya. Seandainya engkau memang diciptakan untukku, aku yakin Allah akan memberi solusi buat kita. Karena Allah Maha Adil. Dia tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Semoga Allah berkendak lain. Jangan pernah berhenti berdoa”.

“Semoga saja, Kangmas. Aku mencintaimu”.

“Aku juga mencintaimu, Deajeng”.

Suasana hening, pilu, sedih, sendu bercampur menjadi satu. Meski aku mencoba tegar, namun hatiku belum bisa berdamai dengan keadaan ini.

Aku tepekur dalam lamunan. Teringat saat-saat pertama kami mengikat komitmen untuk membangun sebuah mahligai rumah tangga. Bersama-sama bermimpi membangun bahtera sakinah dalam mengarungi samudra kehidupan dengan segala pernak-perniknya.

Saat itu kami sedang berada di bangku kuliah. Saat-saat akhir kuliah ketika sebagian mahasiswa sedang megejar Tugas Akhir Kuliah.

Hari itu, siang menjelang sore. Ketika aku sedang berada di kampus. Entah ingin membicarakan apa aku mengirimkan SMS pada Ulfa yang intinya aku ingin bertemu. Ulfa membalas SMS-ku. Dia memberitahukan bahwa dia sedang berada di lantai tiga. Dia sedang membantu Edi mengerjakan pelajaran Bahasa Jerman.

Tanpa berpikir panjang aku beringsut naik ke lantai tiga. Ku temui Ulfa, Edi, Anum juga Lita. Ternyata mereka sedang beramai-ramai belajar Bahasa Jerman. Aku bergabung dengan mereka. Kami berbicara panjang lebar. Pembicaraan kami akhirnya tiba pada saat Anum dan Lita mengerjaiku. Mereka meledek dengan memberitahuku bahwa Afifa bersimpati padaku. Bahkan Anum saat itu menelpon Afifa, memberitahu jika aku sedang berada di sana.

Sebenarnya aku sudah melupakan kejadian di lantai tiga. Aku menganggap bahwa itu hanyalah guyonan belaka. Aku tidak menanggapi dengan serius. Hingga pada suatu malam, Aku mencoba iseng menanyakan tentang guyonan Anum dan Lita di lantai tiga. Aku mengirim SMS.

Sebenarnya sudah biasa aku atau Afifa saling mengirim SMS. SMS yang kami kirimkan biasanya berisi motivasi-motivasi dengan muatan Islam.

Malam itu akhirnya aku mendapat kesimpulan. Berawal dari iseng sampai dengan pembicaraan serius. Inti pembicaraan kami malam itu adalah memang benar Afifa bersimpati padaku. Dan jika aku serius, Afifa bersedia menjadi pendampingku. Aku tak tahu harus sedih atau bahagia. Yang jelas jantung ini berdegub kencang. Hingga SMS berakhir. Tanpa kesepakatan.

Hari berganti hari. Siang berganti malam, malam berganti siang. Sang waktu terus berputar mengurat sejarah.

Hari itu, sesuai apa yang tertulis oleh pena langit. 4 Oktober 2009. Setelah beberapa hari melakukan sholat istikharoh, akhirnya kami berkomitmen. Tentunya dengan kesepakatan yang telah kami setujui sebelumnya. Hatiku berdesir, buncah seketika. Ku tulis dalan status Facebook-ku “Terima kasih karna kau mencintaiku”.

malam-malam terang benderang

bagai diguyur jutaan bintang

jiwa yang sepi tlah terobati

bak dibasuh pesona bidadari

indah merekah menghias hati

malam-malam terang benderang

bagai diguyur jutaan bintang

cinta bersemi di taman hati

bak terlukis sejuta pelangi

indah merekah menawan hati

Aku tersadar dari lamunan. Kulihat Afnan yang sejak tadi mengantarku sedang duduk takzim. Tampaknya ia mengerti benar perasaanku. Perasaan yang akan ditinggal pergi. Tak tau entah kapan akan kembali.

Sedari ba’da asar tadi aku dan Afnan mampir kerumah Afifa. Rencana kami hendak ngaji di rumah Pak Teguh sekalian mengantarku untuk melepas kepergian Afifa. Kami bertiga berangkat sekitar pukul 17.00 dari rumah Afifa. Rumah Afifa agak dekat dengan kota kecamatan. Kami hanya menempuh beberapa menit saja untuk sampai ke tempat pemberhentian Bus. Afifa membawa beberapa tas yang berisi perlengkapan untuk ke Bengkulu.

Dua hari yang lalu selepas Afifa menangis lewat telepon. Aku men-support Afifa agar dia segera mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan. Aku mengantar Afifa untuk menggandakan berkas-berkas. Tanpa sengaja kami melihat stiker kecil menjuntai dalam tatanan yang ada di atas etalase tempat kami fotokopi. Stiker berwarna kuning bertuliskan kalimat yang dalam “Tunggu Aku Dengan Cintamu”. Aku meminta Afifa agar menempelkan stiker itu di kaca helm yang aku pakai. Harapku kata-kata ini kelak akan menjadi sebuah kenangan entah itu akan manis untuk dikenang, atau malah menyakitkan. Yang jelas kata-kata itu akan selalu menjadi motivasi bagiku untuk selalu berusaha memperjuangkan mimpi-mimpi yang telah kami bangun. Atau kelak stiker ini akan menjadi bukti jikalau Allah menghendaki, maka meskipun kami telah terpisah jauh pasti kami akan bertemu lagi. Akupun tak henti-hentinya berharap-harap cemas.

Jam di tanganku menunjukkan pukul 17.50. Bus yang kami tunggu belum juga kelihatan. Sangat terlambat dari jadwal yang seharusnya. Langitpun semakin gelap. Sementara gerimis masih tak mau berhenti. Terlihat siluet beberapa gedung yang berada di sekitar jalan. Lampu-lampu penerangan mulai menyala. Cahayanya berpendar membungkus gelap. Juga lampu-lampu kendaraan mulai bergantian menyilaukan mata. Sekali dua terdengar salak klakson mobil yang berdengking keras. Maghrib telah datang. Aku semakin terpaku dalam pilu.

Terdengar Adzan Maghrib berkumandang dari salah satu masjid kota kecamatan ini. Panggilan Illahi itu bergema menerabas jutaan gerimis sampai bergetar di gendang telingaku. Suara muadzin yang elok juga makna yang mendalam dari panggilan Tuhan membuat hatiku juga bergetar. Aku dan Afnan ingin segera menunaikan Sholat Maghrib. Sementara Afifa belum juga dapat Bus. Aku mulai bimbang. Antara menunaikan panggilan Tuhan atau menunda sholat demi melepas kepergian seseorang yang kucinta. Hatiku penuh kebimbangan. Disaat kepergian seseorang yang mungkin tidak akan kembali lagi pantaskah aku tidak berada disana. Otakku mulai berhitung. Dan ternyata Sholat lebih penting dari Afifa. Menunaikan panggilan Allah lebih mulia dari pada sekedar mengantar kepergian seseorang. Karena manusia harus lebih mencintai Allah dan Rosul-Nya dari pada cintanya dengan apapun. Aku semakin mantap. Aku memutuskan untuk sholat Maghrib dulu.

Aku meminta diri pada Afifa. Dan Afifa-pun mengiyakanya. Aku dan Afnan bergegas menuju masjid. Semoga setelah sholat Afifa belum berangkat.

Aku menunaikan sholat dengan perasaan tidak tenang. Segera setelah selesai sholat aku wirid sebentar dan bergegas hendak kembali bertemu Afifa. Aku tak mau ketingalan momen penting ini. Aku mulai menghidupkan sepeda motor.

Belum beranjak dari tempat parkir tiba-tiba HP-ku bergetar. Sebuah SMS masuk ke HP yang kubawa. Kubuka dengan tanda tanya. Jangan-jangan?

“Kangmas, aku sudah di bus berangkat ke Jakarta. Kangmas yang sabar ya… Mudah-mudahan Allah memberi yang terbaik buat kita”.

Aku tertegun. Hatiku retak seketika. Bagai dihujami ribuan anak panah. Seperti diselimuti awan gelap. Bak dijejali jutaan kenangan bersama Afifa yang tiba-tiba muncul. Pekat. Sesak. Sakit. Ternyata memang menyakitkan jika harus berpisah dengan orang yang dicintai.

Afnan hanya termangu menatapku. Segera memberanikan diri bertanya ikhwal yang terjadi.

Aku tersenyum pura-pura, segera menjawab lemah. “ Afifa telah berangkat”.

Hati ini masih tercabik-cabik. Ya Allah….bimbinglah hamba-Mu ini.

duhai engkau yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku

kenapa engkau harus pergi

meninggalkan aku sendiri

tenggelam dalam sepi

duhai engkau bidadari penyejuk jiwaku

mengapa kau tinggalkan aku dalam nestapa

menyisakan separuh hati yang terluka

dikungkung duka lara

***

Beberapa bulan kemudian. Ketika hari yang dijanjikan itu datang.

Seiring mentari menyemburatkan sinarnya di waktu dhuha. Burung-burung menari gembira. Awan-awan putih mengambang indah. Air gemercik mengalir jernih. Daun-daun tumbuh bersemi. Bunga-bunga merekah bermekaran.

Hari ini. 3 April 2011. Sesuai gurat takdir yang sudah digariskan.

Afifa duduk takzim mengenakan gaun pengantin. Bersanding denganku yang sedang diliputi perasaan tak karuan. Aku mengikrarkan janji suci.

“Qobiltu nikakhaha wa tazwijaha linafsi bi mahril madzkur haalan”.

“Saya terima nikah dan kawinnya (Afifa binti Abu Afifa) dengan mas kawin yang telah disebutkan dibayar tunai”.

Alhamdulillah. Separuh agamaku telah disempurnakan. Disaksikan Allah, Malaikat, keluarga, kerabat juga sahabat.

Aku telah halal untuk Afifa dan Afifa telah halal untukku.

Beberapa bulan yang lalu, ketika hatiku dirundung kegalauan.

Aku mencoba berdamai dengan keadaan. Meski hati masih terasa sakit. Senantiasa berdoa dan terus berdoa. Karena janji-janji itu adalah sebuah keniscayaan.

Hari-hari semenjak kepergian Afifa, kabar menggembirakan itu bagai diturunkan dari langit. Selain di Bengkulu Afifa juga diterima di BPN Pusat dan Pemerintah Kabupaten Afifa berada. Akhirnya Afifa memilih yang dekat denganku. Aku memanjatkan syukur. Segera kubulatkan niatku. Menikah dengan Afifa.

Semoga Allah menanugrahkan sakinah dalam maghligai keluarga kami. Semoga ujian berat yang telah berlalu menjadi perekat cinta kami. Semoga Allah menanugrahkan kami hati yang selalu bersyukur, memberikan kami keturunan yang sholeh dan sholihah, serta menjadikan kami pribadi yang berakhlak mulia serta senantiasa giat menimba ilmu yang bermanfaat.

Duhai Afifa…semoga kelak engkau menjadi bidadari surgaku.

“Dunia adalah kesenangan sementara. Dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita (istri) yang sholihah” .

(HR. Muslim)

“Jika wanita shalat lima waktunya, berpuasa di bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang engkau sukai’”.

(HR Ibnu Hibban dan Tabrani)

Tegaljoho, 27 Januari 2013