Pagi yang memesona. Seiring embun menggelanyut di ujung dedaunan. Ketika sang surya menyemburatkan sinarnya. Indah, merekah membasuh bumi. Sinarnya yang mengambang di antara kabut, menerabas melewati sela pepohonan. Membangkitkan semangat, menyemai harapan-harapan baru. Terus bergerak mengiringi sang waktu. Entah sampai kapan? Aku tak tahu.

Pagi ini, inginku menuliskan sebuah kisah. Kisah yang mungkin tidak spesial buat kalian. Namun bagiku, kisah ini akan kusimpan indah di sudut hati. Begitu indah, seindah makna yang tersirat dalam kata persahabatan. Takkan terganti, bak puzzle yang setiap bagian memiliki keistimewaan tersendiri. Ya…inilah kisah spesial di hari spesial 12-12-2012.

***

Selasa Wage, 11-12-2012.

Rencanaku besuk nyaris berantakan gara-gara surat yang datang ke kantor hari ini. Jadwal Des Anggaran 2013 bersama dengan Komisi A, DPRD Kota akan dilaksanakan besuk jam 13.30. Padahal kemarin aku baru bersepakat dengan Rosi untuk mengantar salah satu sahabat kami pergi. Pergi? Ah tepatnya bukan pergi tapi datang. Bagaimana sebuah perjalanan mulia itu bisa dibilang pergi? Bagaimana perjalanan yang diiringi malaikat, dikatakan pergi? Aku ralat, menghantar salah satu sahabat kami untuk datang. Datang menjemput sakinah, juga keberkahan yang berlipat-lipat tak terhitung. Bagaimana tidak? Seseorang yang mengikhlaskan diri untuk lari dari kenyamanan, meninggalkan kampung halaman tercinta, menjauh dari kerabat juga sahabat, beribu-ribu kilometer dan mungkin ada salah satu sudut hatinya yang belum bisa berdamai dengan keadaan ini. Perjalanan yang tak lain dan tak bukan, hanya demi mendapat ridho suami tercinta. Dan kami amat pantas untuk mengantar keberangkatanya. Wujud solidaritas kami sebagai sahabat. Juga apresiasi tertinggi kami untuk sahabat yang penuh karakter ini. Sebut saja namanya Dina?, eh bukan yang tepat Funa.

Kembali ke surat tadi pagi. Sebagai karyawan biasa, ketika atasan sudah menugaskan untuk A, B, atau C maka ketika hal tersebut tidak melanggar prinsip-prinsip hidup yang sudah kutanamkan, maka tiada jawaban lain kecuali “siap”. Meski berat, aku memutuskan besuk tetap mengikuti Des. Dengan resiko aku terlambat ke Jogja. Mudah-mudahan acaranya singkat. Atau keadaan yang bergaik hati. Meminjamkan kesempatan untukku.

“Ros, bsk q ad rpt d dprd, mlai pkl 13.30 blm tau smpai jam brp. Bsk km posisi di mn? Ntar nek slse cpt q sms”.

Sebuah pesan singkat ku kirim ke Rosi.

“brarti klo smp jm 3 kt tlt lek. Q bsk di rmh”.

Rosi menjawab SMS-ku.

Rencana pesawat Funa berangkat pukul 16.00. Sementara dari kota kami sampai bandara butuh waktu sekitar satu setengah jam. Itu berarti maksimal pukul 14.30 hami harus sudah berangkat. Teringat jadwal tadi pagi, semoga takdir berkata lain.

Beberapa kilometer dari kota ini. Terlihat perempuan berkerudung hijau sedang mengemas barang yang akan dibawanya. Pengantin baru ini sedang disibukkan dengan banyak hal, juga hatinya diliputi banyak perasaan. Antara bahagia, senang, gembira, sedih, duka, atau perasaan apalah bercampur menjadi satu. Namun di hatinya terlintas berkas cahaya iman, yang membuat sorot matanya bercahaya. Sungguh, hatinya tersenyum indah. Jika kalian bisa menyaksikan senyum ini, kalian akan menyaksikan keindahan yang melebihi dunia dan seisinya. Senyum indah dalam sebuah penerimaan. Senyum yang merekah, menghamba, mentaati perintah Nabi, mencari ridho sang suami, demi keridhoan Illahi.

***

Rabu Kliwon, 12-12-2012.

Hari ini spesial bagi orang-orang tertentu. Bagi ibu yang sedang hamil tua atau calon bapaknya, berharap-harap cemas agar banyinya lahir di hari ini. Bahkan ada yang memaksakan melahirkan hari ini, secara paksa. 121212….ya itulah sepesialnya. Padahal sebenarnya jika ditulis dengan komplit 12122012, tidak terlalu cantik lagi. Spesialnya hanya angkanya saja, selebihnya tak jauh berbeda dengan hari-hari lainya. Tidak ada naik angkot gratis, apalagi tiket pesawat gratis.

Namun bagiku hari ini spesial. Tetapi dengan wujud dan arti yang berbeda. Spesial karena hari yang bertepatan dengan 121212 ini ada kisah spesial yang terlalu indah untuk tidak kuceritakan.

Pagi ini keajaiban benar-benar datang. Guratan takdir seperti memihak kepada kami. Jadwal Des Anggaran dimajukan menjadi jam 11.30. Entah karena alasan apa, yang jelas ini membuatku mempunyai kesempatan. Mudah-mudahan rapat tidak berjalan lambat. Semoga!.

Lagi-lagi situasi seperti yang ku harapkan. Rapat benar-benar berjalan cepat. Pukul 12.30, Des Penetapan Anggaran 2013 sudah selesai. Pukul 13.00 aku beserta pimpinan dan beberapa staf yang lain, segera kembali ke kantor. Segera aku menghubungi istriku untuk meminta ijin, juga menelpon Rosi untuk segera bergegas. Sesuai dengan rencana berangkat jam 14.00.

Siang ini. Hujan membungkus kota. Air membasuh permukaan tanah. Membuat genangan di mana-mana. Membasahi dedaunan. Sementara langit nampak suram dengan gumpalan awan-awan hitamnya, sesuram hati kami. Suram?

Rosi datang tepat waktu ketika jam di dinding kantor menunjukkan pukul 14.01. Mengenakan celana jeans, kaos java musikindo dan jaket hitam. Sayang sekali hujan masih mengguyur. Penampilan Rosi yang seperti biasa bergaya casual, terpaksa harus dibungkus mantel batman. Aku menghela nafas lega. Segera aku mohon ijin dengan pimpinan, juga tak lupa berpamitan dengan beberapa teman kantor yang lain.

Kami segera bergegas. Memakai mantel bersiap. Kami sepakat menggunakan satu sepeda motor. Motor Rosi ku titipkan di kantor. Rosi yang mengemudikan, aku membonceng di belakang. Sementara gerimis masih membasuh kota. Mencoba berdamai dengan hujan, kami segera berangkat. Waktu kami kurang dari 2 jam.

Sore yang suram di Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta. Suram? Ya…suram! Suram bagi hati seorang ibu yang harus melepas anaknya. Suram bagi seorang bapak yang harus berpisah dengan anak yang selama ini selalu bersama. Sore ini suasana bandara sunyi. Sunyi? Ah bukan. Bukan bandaranya yang sunyi. Tetapi sang hati. Hati bagi siapa sapa yang harus berpisah jauh, bahkan belum tau kapan akan kembali. Hati ini pasti sunyi. Meski derum suara pesawat terbang sesekali membahana. Bergema mengetarkan lonceng di dekat tempat parkir. Memenuhi setiap sudut bandara. Namun sunyi! Dalam suasana ini pasti akan terasa sunyi. Meski bandara dijejali beberapa calon penumpang maupun kolega, juga sanak saudara. Kalian pasti akan merasa sunyi. Tepatnya, sunyi dalam keramaian.

Aku dan Rosi tiba di bandara beberapa saat sebelum keberangkatan Funa. Terlihat ibu, bapak, adik serta beberapa saudara Funa ikut menghantar keberangkatanya. Juga terlihat wajah tersenyum yang sudah tidak asing lagi bagi kami. Saat ini masih bisa tersenyum. Karena dia belum sampai pada masa depan beberapa menit kedepan yang nanti akan membuatnya sedikit mengurangi senyumnya. Siapa lagi kalo bukan Afnan. Afnan beberapa menit yang lalu mendadak kuberitahu tentang keberangkatan Funa. Saat itu dia yang sedang berada di Gunung Kidul, segera menuju bandara. Afnan tiba di bandara lebih dulu selisih beberapa menit. Kami saling bersalaman. Dengan Afnan juga Keluarga Funa. Funa? Dimana Funa? Jangan-jangan Aku dan Rosi terlambat?. Sebenarnya kami bisa setengah jam lebih awal tiba di bandara. Tetapi karena dalam perjalanan kami mendengan Azan, kami memutuskan untuk sholat Asar terlebih dahulu.

Ternyata kami belum terlambat. Funa sedang mengurus barang bawaanya di dalam. Kami sempat berbincang-bincang dengan Afnan dan Keluarga Funa.

Gumpalan awan hitam masih menggelanyut malas di langit bandara. Rintik-rintik gerimis mengiringi sore ini. Sesekali terdengar deru pesawat lepas landas, menggelegar, bergema. Sekali dua terdengar suara dari dalam speaker yang terhubung ke ruang pusat informasi. Suara merdu nan cantik. Orangnya? Aku tak tahu, apalagi hatinya.

Sesaat sebelum berangkat tiba-tiba Funa keluar untuk berpamitan. Matanya sembab berkaca-kaca, wajah nya yang pias mulai mengembang. Menjadi hiasan yang menyesakkan di sore itu. Melihat perpisahan sementara sebuah keluarga dengan seseorang yang dicintainya. Kami juga berpisah tapi tidak menangis. Sebenarnya haru juga sih, tapi kami malu untuk menangis. Masa cowok-cowok keren menangis di bandara? Dan akhirnya Funa berangkat juga. Sebelumnya kami sempat berfoto bersama sebelum Funa masuk ruangan untuk menunggu pesawatnya berangkat.

“Selamat jalan Funa, semoga selamat sampai tujuan”.

Sore yang mendung. Semendung hati kami. Gerimis masih membungkus bandara. Gumpalan-gumpalan awan hitam masih menggelanyut malas. Rintik-rintik air berlarik-larik memenuhi pelataran tempat parkir. Sesekali jatuh di rerumputan. Membuat rumput-rumput bergoyang. Beberapa mobil berjajar rapi di tempat parkir. Juga motor-motor pengunjung bandara. Beberapa pengunjung berlalu lalang membawa barang bawaan. Terkadang juga melintas turis-turis dari luar negeri. Mereka saling bencanda dan tertawa penuh suka cita.

Ceria! Kebanyakan pengunjung ceria. Tetapi kali keceriaan itu tak terlukis di wajah Afnan. Beberapa menit yang lalu wajahnya terlihat kuyu. Raut mukanya seperti digantung gumpalan-gumpalan awan hitam. Wajah afnan seketika mendung.

Bukan karena larut dalam kesedihan ditinggal sahabat tercinta, apalagi luruh dalam peratapan yang mendalam. Tidak sama sekali. Senyumnya yang mampu memikat peri-peri bandara seketika musnah. Tepatnya ketika dia menyadari bahwa kunci yang dibawanya ternyata hilang. Ketika usahanya mencari juga bertanya kepada petugas parkir tidak membuahkan hasil. Kami bertiga mencoba berfikir mencari solusi. Mencari, mencari, bertanya, mencari, bertanya ke pusat informasi, mencari, membongkar sepeda motor, mencari tukang kunci, mendorong motor, mengambil kunci, mencari di dalam saku, bertanya kepada petugas parkir. Akhirnya permasalahan terselesaikan dengan kebaikan hati petugas parkir yang bersedia menghubungi rekanya untuk menduplikat motor Afnan. Beberapa menit berlalu, urusan Afnan terselesaikan. Wajahnya yang kuyu seketika berubah riang. Bak pelangi yang melengkung di langit bandara. Rp. 80.000,-, harga yang harus di bayar untuk sebuah kelalaian. Kesedihan tadi? Ah sudah tertinggal di belakang. Saatnya menonton Bidadari-bidadari Surga.

***

Kak Lais di Lembah Lahambay. Seorang kakak tiri yang kurang beruntung memiliki tubuh yang tidak ideal. Wajahnya tidak cantik, rambut gimbal, kulitnya hitam dan tubuhnya pendek. Namun kecintaanya kepada adik-adiknya begitu tulus dan tak terhingga. Hidup serba kekurangan bersama mamak dan empat adik-adiknya. Dia rela berhenti sekolah dan membantu mamak lainuri bekerja agar adik-adiknya bisa sekolah, agar adik-adiknya berkesempatan mendapat janji kehidupan yang lebih baik. Usahanya yang gigih mengantarkan dia menjadi seorang yang sukses berkebun strowbery. Keempat adiknya pun sukses. Namun sayang kak Laisa tak kunjung mendapatkan jodoh hingga keempat adiknya menikah. Tubuhnya yang kurang proporsional membuat beberapa lelaki enggan mendekati. Pernah beberapa kali adiknya mencoba mencarikan jodoh. Tetapi selalu gagal. Namun hati Kak Lais tak pernah bersedih. Hatinya penuh penerimaan atas guratan takdir yang berlaku. Ia selalu berbuat baik. Hingga ajal menjemput.

Film berakhir pukul 9 malam. Kami segera pulang setelah menghabiskan pisang rebus yang diberikan keluarga Funa tadi di bandara. Aku habis 5 Afnan 3 dan Rosi 4, teman Afnan 1.

***

Kamis Legi, 13-12-2012 Pukul 03.30.

Kamar Rosi gelap. Hanya bersinarkan cahaya remang dari kamar sebelah. Jam dinding berdetak di tengah kesunyian.

“Aduh, Malam-malam kok sudah ada telek”. Rosi menggerutu ketika kakinya menginjak kotoran ayam di depan pintu kamarnya.

Aku yang juga tersadar, tersenyum dalam hati.

Semalam kami tiba di rumah pukul 11.30. Aku memutuskan menginap di rumah Rosi.

Sementara awan masih mengambang di langit arah timur. Hitam, pada malam hari awan yang sebenarnya berwarna putih tetap nampak hitam. Namun di atas awan hitam, pemandangan nampak berbeda. Berkas cahaya kuning berpendar dari bulan yang sedikit gompal. Sungguh memesona. Tiba-tiba terdengar suara yang membahana. Pesawat penerbangan malam hari itu melesat membelah malam.

Terlihat seorang perempuan berjilbab abu-abu sedang duduk takzim di kabin pesawat. Matanya megantuk, tetapi jiwanya terjaga. Hatinya sedang diliputi berbagai macam perasaan. Sesekali menghela nafas, mencoba berdamai dengan keadaan. Tepekur.

Terdengar bisikan lirih dari hatinya yang paling dalam.

“Duhai Allah. Semoga ini menjadi yang terbaik bagiku. Semoga ini menjadi jalan tuk menggapai keridhoan-Mu. Semoga ini menjadi bukti akan cintaku kepada-Mu, Bimbinglah kami Ya Allah”. Sekali menghela nafas. Kali ini nafas penuh penerimaan.

Dan lihatlah di kerajaan langit nan jauh. Para Malaikat tersenyum menyaksikan ini. Seraya membentangkan sayap-sayapnya. Mereka berkata “Amin”.

Temanggung, 22 Desember 2012