Hari itu, di bulan yang penuh kemuliaan. Ketika janji sang mentari datang. Menebarkan cahaya menghangatkan setiap jiwa, menyuburkan pepohonan, menumbuhkan tunas-tunas, senantiasa taat kepada titah tuhannya. Langit kota nampak biru sejauh mata memandang. Dihiasi gumpalan awan-awan putih, bagai kapas mengambang di cakrawala. Gunung Sindoro dan Sumbing menjulang tinggi dengan gagahnya. Menjadi latar belakang yang menawan, sungguh memesona.

Hari itu, hari ke-6 di Bulan Ramadhan. Sesuai dengan janji-Nya, sepuluh hari penuh rahmat. Ketika doa-doa dikabulkan, ketika taubat-taubat diterima, ketika amal kebajikan dilipatgandakan pahalanya. Bulan yang selalu dinanti, bulan yang setiap hamba-Nya senantiasa merindu. Bulan yang di dalamnya terdapat malam kemuliaan. Malam yang lebih utama dari seribu bulan. Malam Lailatul Qodar. Bulan dimana Al Qur’an diturunkan. Pintu neraka dututup rapat, sedangkan pintu surga dibuka lebar-lebar. Bulan dimana terdapat janji, janji bagi siapa yang berpuasa sebulan penuh, maka diampuni dosa-dosa yang telah lalu.

Anakku. Hari itu engkau terlahir ke dunia. Menjadi hadiah terindah bagi kami.

Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 13.18. Angin berhembus perlahan. Menelisik jendela-jendela, menggerakkan anak-anak rambut. Ikan-ikan di kolam menari gembira. Berkejaran berebut makanan. Sekali-dua burung gereja berkicau. Bercanda, berterbangan dari lantai, naik keatas genting, berdecit riang. Udara sejuk menentramkan. Sungguh mendamaikan, sedamai hati ini. Damai mendengar tangisanmu nak, tangisan yang memecah ketegangan, tangisan yang membuat kami lega. Menangis Bahagia.

Anakku. Kami begitu bahagia hari itu. Hati ini bagai ditabur jutaan bintang. Hati ini bagai disiram samudra kebahagiaan. Meluap-luap tak terlukiskan.

Kupanggil engkau dengan Ilyasa. Ilyasa Abdurrahman Muhlisin.

Sesuai dengan dengan perintah Nabi, salah satu kewajiban orang tua adalah memberi nama yang baik. Nama yang menjadi doa-doa kami.

Ilyasa Abdurrahman Muhlisin. Tentunya engkau ingin tau apa makna di balik nama itu. Sebenarnya nama itu sudah ada jauh-jauh hari sebelum engkau dilahirkan. Bahkan sebelum engkau berada di perut ibumu.

Ilyasa adalah nama salah seorang nabi. Al Qur’an tidak menguraikan kisah Nabi Ilyasa. Al Qur’an hanya menyebutkan “Dan Ingatlah akan Ismail, Ilyasa, Dzulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik” (QS Shaad : 48). Nama itu menjadi doa bagi kami agar engkau kelak menjadi insan yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Agar engkau menjadi hamba yang baik. Menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Menjadi sebab kemanfaatan, sebab kebaikan bagi yang lain. Seperti Nabi Ilyasa yang menjadi hamba Allah yang baik, penyeru kebaikan.

Abdurrahman berarti Hamba Tuhan Yang Maha Pengasih. Kami memberi nama ini sesuai dengan salah satu perintah Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling disukai Allah SWT adalah Abdullah dan Abdurrahman” (HR. Muslim)

Seorang bayi telah dilahirkan untuk seorang diantara kami, lalu dia memberi nama Al Qasim. Maka kami berkata ‘Kami tidak akan memberikan kuniyah kepadamu Abu Al Qasim dan tidak pula kemuliaan.’ Perkara tersebut diceritakan kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda, ‘Namakanlah anakmu dengan Abdurrahman’.”

(HR. Bukhori dan Muslim)

Anakku, besar harapan kami engkau kelak benar-benar menjadi Hamba Allah yang sholeh. Seorang manusia yang senantiasa mengenal dirimu sendiri dan juga Tuhan-mu. Seorang Abdi yang selalu taat kepada perintah-perintah-Nya.

Muhlisin. Sebenarnya itu adalah nama ayahmu. Nama yang diberikan kakekmu kepada ayah. Nama penuh arti yang membuat ayah selalu merasa bangga dengan nama itu. Muhlisin bermakna seseorang yang ikhlas. Seorang yang ikhlas menjalani hidup. Seorang yang selalu ridho dengan segala guratan takdir. Seseorang yang selalu tersenyum menjalani pahit manis kehidupan. Meski ayah belum bisa sepenuhnya mengamalkan nama ayah, ayah selalu berusaha dan terus belajar meski tidak mudah. Ayah ingin sekali engkau kelak menjadi hamba yang ikhlas menapaki setiap jengkal kehidupan yang engkau jalani. Apapun suratan takdir yang berlaku.

Ilyasa Abdurrahman Muhlisin berarti seorang Hamba Allah yang ikhlas menjalani kehidupan laksana Nabi Ilyasa. Inilah doa kami dibalik namamu. Inilah harapan kami. Semoga Allah mengabulkan permohonan ini.

Ilyasa anakku.

Kau terlahir bukan dari seorang raja. Kau terlahir bukan dari seorang konglomerat yang kaya raya. Kau terlahir bukan dari seorang yang memiliki jabatan. Kau terlahir bukan dari seorang kiai yang penuh dengan pemahaman agama yang baik. Kau terlahir hanya dari seorang pekerja biasa. Engkau dilahirkan dari seorang proletar, manusia biasa. Namun percayalah nak, kami akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Kami tidak akan menyemaikan rizki yang tidak halal di tubuhmu. Kami akan berusaha memberikan yang terbaik, meski terkadang kebaikan belum tentu berupa kesenangan dunia.

Ilyasa anakku.

Ketika engkau lahir, negeri ini sedang dilanda krisis multi dimensi. Harga-harga melonjak tinggi. Mencari pekerjaan begitu sulit. Bencana kerap melanda. Akhak pemimpin juga rakyat di negeri ini semakin terkikis. Korupsi dimana-mana. Pembunuhan, perampokan, Ibu membuang anak, juga berita kriminal lainya selalu memenuhi layar televisi. Kesenjangan, kemiskinan dan penistaan menjadi tontonan sehari-hari. Hukum bisa dibeli, kejujuran teracuni. Masjid-masjid sepi. Semangat berjamaah melemah. Banyak manusia berdamai dengan ketidakjujuran. Sulit membedakan yang halal dengan yang haram. Setan menjadi kawan. Yang jujur yang dibenci. Lengkap sudah dibingkai menjadi badai yang melanda negeri yang kaya ini.

Oleh karena itu anakku. Semoga engkau tumbuh dengan pemahaman agama yang baik, agar engkau menjadi salah satu biji yang baik diantara jutaan biji yang busuk. Meski jumlahnya sedikit. Engkau akan tumbuh menjadi pohon yang baik dan kuat. Meski dihempas badai, meski ditiup angin, meski diterjang ombak. Engkau tetap kokoh berdiri. Menghasilkan buat-buah yang lezat, menumbukan bibit-bibit yang baik, mengharumkan negeri ini.

Ilyasa anakku.

Semoga di zamanmu, negeri ini telah menjadi negeri yang makmur. Gemah ripah loh jinawi tentrem ayem kerta raharja. Insya Allah negeri ini kelak akan menjadi negeri yang membanggakan, bak surga yang diturunkan ke muka bumi. Jangan pernah berhenti percaya nak. Jadilah engkau bagian yang mewujudkanya.

Ilyasa anakku.

Jadilah anak mandiri, jadilah anak berbakti. Tumbuhlah engkau menjadi pribadi yang baik. Menjadi pribadi yang berakhlak mulia, Mencontoh baginda Nabi Muhammad SAW, pribadi yang di jaman ayah benar-benar langka akan keberadaanya. Semoga Allah membimbingmu, nak.

Lembah Sindoro, 25 November 2012