Krik….Krik….Krik…. Derik suara jangkrik memecah keheningan. Bintang gemintang bertabur indah di langit Grabag. Jalan depan sekolah mulai lengang. Dari kejauhan terlihat siluet pohon kelapa tinggi menghias malam. Juga gedung-gedung sekolah terlihat remang-remang disinari lampu penerangan. Angin malam berhembus pelan. Berdesau menelisik masuk lewat lubang-lubang ventilasi. Waktu menunjukkan pukul 22.00.

“Cek-cek satu-dua-tiga, kelas IA gimana Bung”. Suara Iqmal terdengar lantang dari speaker yang terpasang di dinding ruang kelas IA.

“Kelas IA OK. Pindah ke kelas IIA”. Aku berlari menuju kelas IIA sambil menekan tombol call pada HT yang kubawa.

“OK. Cek-cek satu-dua-tiga, kelas IIA gimana Bos?” Kembali suara Iqmal lantang memenuhi ruang kelas.

“OK. Lanjut”. Aku beranjak ke kelas-kelas berikutnya.

SMP Negeri Grabag adalah salah satu costumer perusahaan tempat kami bekerja. Kepala sekolah menyatakan deal setelah beberapa kali bernegosiasi dengan marketing. Itu berarti kami harus memasang peralatan roomcall dengan 17 Speaker yang berada di 15 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan dan 1 ruang kesenian.

Iqmal bekerja sudah hampir 5 bulan, sedangkan aku baru 1 bulan. Kami bekerja sebagai technical support pada perusahaan yang bergerak di bidang IT dan elektronik. Proyek-proyek yang kami kerjakan adalah pemasangan mesin absensi sidik jari beserta instalasi jaringan dan konfigurasinya, memasang roomcall (sebuah peralatan komunikasi suara yang biasanya dipasang di sekolah dengan input mic pagging dan kontrol di ruang guru, sedangkan output-nya berupa speaker di ruang-ruang kelas dan ruang lainya) jugamelakukan scaning Lembar Jawab Komputer (LJK) ketika musim ujian tiba.

***

Sudah tiga hari kami mengerjakan proyek di SMP Negeri Grabak.

Tiga hari yang lalu. Kami bersama salah satu pimpinan tiba di sekolah membawa peralatan.

“Selamat siang Pak. Kami dari CV. Mentari mau memasang roomcall yang dipesan”. Kami menyapa beberapa guru dan karyawan sekolah.

Roomcall apa ya Pak?”. Beberapa guru saling menoleh kanan kiri, saling bertanya tidak tahu.

“Silakan duduk dulu Pak, Mohon tunggu sebentar”. Salah seorang guru mempersilakan kami duduk.

Kami mengiyakan untuk duduk di ruang tamu yang berada di ruang guru sekolah.

Detik demi detik berlalu menjadi menit. Menit-menit berlalu, tak terasa sudah 15 menit kami menunggu di ruang tamu. Tanpa ada kepastian.

Bapak Kepala Sekolah sedang pergi keluar. Mungkin belum ada koordinasi antara kepala sekolah dengan pihak guru dan karyawan. Entah karena sibuk, atau lupa.

Jadilah kami sedikit terlantar. Seperti tamu yang tak diundang.

Sementara Pak Teguh—Salah satu pimpinan kami—sudah tak sabar menunggu. Beliau sudah beranjak pulang kantor beberapa menit yang lalu.

Kami juga tidak sabar.

Di luar matahari bersinar terik. Membuat kering beberapa tumbuhan di halaman sekolah. Suara seorang guru berteriak lantang terdengar dari ruang kelas sebelah. Tak kalah para murid bersorak gegap gempita. Entah meneriaki apa.

Sudah 20 menit kami menunggu tak juga ada tanggapan. Kami memutuskan bertanya ke ruang TU.

“Selamat siang Pak. Kami dari CV Mentari mau memasang roomcall yang telah dipesan”. Dengan santun aku menyapa bapak-bapak separuh baya sedang asyik bermain komputer. Kelak kami akrab dengan Bapak ini, namanya Pak Pian.

Satu orang lagi dengan wajah sumringah sedang duduk di samping Pak Pian. Kelak kami juga sangat Akrab. Namanya Pak Topo. Umurnya jauh lebih muda dari pada Pak Pian.

“Selamat siang Mas. Sini-sini duduk dulu. Gimana Mas?”. Pak Pian hangat membalas sapaan kami. Pak Topo masih tersenyum di sebelahnya.

Aku dan Iqmal beranjak masuk. Duduk di kursi tamu ruang TU.

“Begini Pak, kami dari CV. Mentari mau memasang roomcall yang sudah di pesan. Tadi kami sudah masuk ke ruang guru, mengutarakan maksud kedatangan kami, tetapi tidak ada respon”. Aku kembali menjelaskan.

“Terus masangnya kapan Mas?”. Pak Topo menambahi sambil membenarkan posisi duduknya.

“Nanti Pak, setelah para siswa pulang sekolah”. Iqmal membalas pertanyaan Pak Topo.

“Baiklah. Bapak kepala yang pesan alatnya to? Mau dipasang alat bagus kok pada bingung hehehe. Nanti alat-alat bawa sini aja Mas. Ntar biar ditemenin Pak Topo. Kebetulan Pak Topo tinggal di sekolah. Kalo ada apa-apa nanti langsung bilang aja ke Pak Topo”. Dengan gaya guyon-nya Pak Pian tegas memberi solusi.

Hangat, baik hati dan suka bercanda. Itulah kesan pertama kami kenal dengan Pak Pian dan Pak Topo. Walaupun bukan pejabat sekolah, tetapi bagi kami baliau sangat menghargai tamu.

Hari berganti hari, waktu terus berlalu. Kami semakin Akrab dengan Pak Pian dan Pak Topo.

***

Pukul 22.30.

“Cek-cek terakhir. Ruang kesenian gimana hasilnya”. Lirih suara Iqmal terdengan dari HT.

Harusnya suara Iqmal terdengar lantang mengisi ruangan. Namun kali ini speaker yang telah terpasang hanya diam. Tak mau mengeluarkan suara.

“Ruang kesenian tidak bunyi Bos. Coba cek tombol selector-nya. Pastikan ON”. Aku mengontak Iqmal lewat HT-ku.

“Tombol sudah ON Lek”. Iqmal membalas.

“Coba cek kabel speaker jalur ruang kesenian. Apakah koneksi sudah terpasang dengan baik?”. Aku mencoba menerka penyebab utama speaker ruang kesenian tidak berfungsi.

“Sebentar….”.

“Kabel sudah terpasang dengan baik. Barusan sudah ku copot dan pasang lagi. Apa mungkin sambungan kabelnya Lek”. Iqmal juga ikut mencari solusi.

“Bisa Jadi”.

Prinsip kerja roomcall ini cukup sederhana. Setiap speaker yang terpasang di masing-masing ruangan terhubung dengan selector menggunakan kabel. Selector juga terhubung dengan amplifierAmplifier terhubung dengan media input seperti tapeVCD, radio, juga mic paggingSelector berfungsi untuk mengontrol output suara. Kelas mana saja yang mau dibunyikan speaker-nya tinggal tekan tombol pada selector ini.

Tiga kemungkinan speker tidak berbunyi. Pertama, speaker-nya memang rusak. Namun kasus ini jarang terjadi. Kedua, Koneksi pada selector tidak pas sehingga arus terputus. Sedangkan yang ketiga adalah sambungan kabel penghubung antara selector dan speaker yang kurang baik sehingga juga mengakibatkan arus terputus.

Masih ada dua kemungkinan. Speaker rusak atau sambungan terputus. Entah kurang kencang atau tertarik.

“Kau ambil tangga ya Mbal. Aku siapkan peralatanya”. Aku mulai memasukkan peralatan ke dalam tas kecilku.

“Oke”. Iqmal bergegas.

***

Dingin membungkus malam. Pekat menyelimuti ruang sempit atas plafon. Terlihat kuda-kuda gedung sekolah yang tersorot lampu senter. Genting-genting berjajar rapi. Penyangga-penyangga plafon menjadi tempat kami berpijak. Berhati-hati. Mengendap-endap menyusuri kabel di atas plafon ruangan. Jangan sampai salah mengambil pijakan. Bisa berakibat fatal.

Sudah menjadi kebiasaan kami. Memanjat genting, begelap-gelapan di atas plafon juga menerobos genting masuk kedalam. Bagai spiderman, bak pemburu hantu, juga seperti maling. Menendap-endap, bergelap-gelapan menarik kabel bermeter-meter.

“Hati-hati Lek, jangan sampai terjatuh”. Iqmal memegangi senter dari jarak 2 meter.

“Siap Bos”. Aku mendekati sambungan kabel.

Dan ternyata benar. Masalah ini terlalu gampang. Hanya sambungan yang kurang kuat sehingga mudah lepas ketika kabel di tarik. Cukup 1 menit masalah beres.

Mungkin karena keaadaan yang berpihak pada kami.

Bayangkan. Ruang kesenian adalah ruangan yang terjauh dari ruang kontrol. Ini berarti membutuhkan kabel terpanjang di antara kelas-kelas yang lain. Ada sekitar 4 sambungan. Seandainya kesalahan tidak kunjung ketemu, kami harus berkali-kali menaiki plafon mencari sambungan. Belum lagi malam yang semakin larut.

Dan semua telah berakhir. 17 speaker roomcall berfungsi dengan baik. Saatnya berkemas.

Aku tersenyum dalam hati. Lega.

Waktu menunjukkan pukul 23.00.

“Sudah lengkap semua peralatannya?”. Aku bergegas mengemasi peralatan. Memasukkan beberapa peralatan ke dalam tas.

Terlihat Iqmal sedang memasukkan kabel ke dalam karung, tempat kabel.

“Sudah. Ayo kita berangkat”.

“Pak Topo, kami pulang dulu”. Aku berpamitan sembari bersalaman dengan Pak Topo.

“Tidak menginap di sini saja. Sudah terlalu malam, Dik. Jalan juga sudah sepi”.

“Tidak Pak. Besuk pagi kami harus berangkat lebih awal. Persiapan ke Solo. Kapan-kapan aja tak main lagi ke sini”. Iqmal menjawab sambil membenarkan jaket yang dikenakannya.

“Terimakasih banyak ya, Dik”.

“Sama-sama, Pak. Kami yang seharusnya berterimakasih. Telah banyak dibantu”. Aku dan Iqmal bergegas menuju tempat parkir motor di halaman depan sekolah. Aku menjinjing tas peralatan, Iqmal membawa sisa kabel dalam karung.

***

Suara motor berderum malas melawan dinginya malam. Jalan depan sekolah masih tetap lengang. Terlihat siluet warung-warung juga rumah-rumah di pinggir jalan. Tegak berjajar sepanjang jalan. Bagian lain nampak temaram diterpa sinar lampu penerangan. Sementara langit masih memesona dengan taburan bintang gemintangnya. Menghias malam yang sunyi. Cahya bulan separuh berpendar dari balik awan. Angin berhembus pelan. Lembut menggerakkan anak-anak rambut.

Iqmal menaikkan posisi standar sepeda motor.

Aku yang sedang mengenakan helm, bergegas menurunkan footstep sepeda motor.

Segera Iqmal menginjak tuas perseneling dan menarik gas. Lampu indikator menyala menunjukkan posisi gigi 1. Motor melaju perlahan. Saatnya pulang.

Pukul 23.13.

Beberapa saat kemudian. Kami merasa ada sesuatu yang tidak normal. Roda belakang berputar tidak stabil. Terlalu berat. Dan setelah kami periksa ternyata ban belakang motor kami bocor.

Terlalu malam untuk mencari tukang tambal ban. Namun apa boleh buat. Kami tetap ingin segera pulang. Segera tidur. Melepas penat setelah bekerja seharian. Bahkan hingga larut malam.

Tiba-tiba melintas bapak-bapak yang juga bekerja sebagai penjaga malam di sekolah.

Sebut saja namanya Pak Nardi.

“Permisi Pak. Apakah di sekitar sini masih ada tukang tambal ban yang buka?. Sepeda motor kami bocor ban belakangnya”. Dengan santun Iqmal bertanya pada Pak Nardi.

Aku masih berdiri di dekat motor menjaga peralatan.

“Ada Mas. Njenengan jalan terus ke bawah. Nanti ada tukang tambal ban, buka 24 jam. Tidak terlalu jauh dari sini. Ohya kalau pintunya tertutup, diketuk aja tidak apa-apa”. Pak Nardi mengacungkan jari telunjuknya menunjukkan arah tukang tambal ban.

“Trimakasih banyak Pak Nardi”.

Kami segera mengikuti petunjuk Pak Nardi.

Ternyata tidak sedekat yang Pak Nardi bilang. Setelah berjalan sekitar 2 kilometer, kami baru menemukan tempat tambal ban yang ditunjukkan Pak Nardi.

Dan ternyata pintunya tertutup. Tidak terlihat ada seorangpun. Hanya suara musik dangdut yang terdengar lantang.

Aku dan Iqmal mencoba mengetuk pintu berkali-kali. Namum pemiliknya tak kunjung keluar.

Sia-sia sudah berjalan 2 kilometer.

Kami memutuskan kembali. Menginap di mushola sekolah.

***

Pagi harinya. Pukul 06.30.

Terlihat matahari mulai sepenggalah naik. Semburatnya menghangatkan setiap insan. Membantu proses fotosintesis pada dedaunan. Beberapa kendaraan mulai berlalu-lalang di jalan depan sekolah. Mengangkut barang dagangan ke pasar. Juga mengangkut para siswa yang bersekolah di Kota. Pagi yang indah.

Aku dan Iqmal bergegas pulang, setelah berpamitan lagi dengan Pak Topo. Bukan pulang tapi tepatnya berangkat ke kantor lagi. Persiapan ke Solo. Sementara Pak Pian sudah pulang tadi malam dan pagi ini Pak Pian belum berada di sekolah.

Ban belakang sepeda motor kami sudah beres setengah jam yang lalu.

Tadi sekitar pukul 06.00, kami meminta tolong pada tukang tambal ban dekat sekolah.

Sebenarnya di sana hanya terlihat ibu-ibu sedang menyapu halaman rumah.

Ibu tadi bergegas memanggil suaminya setelah mendengar cerita kami. Dan ternyata suaminya ibu tadi adalah Pak Nardi. Selain berjaga malam di sekolah beliau juga berprofesi sebagai tukang tambal ban.

Aku sempat kaget juga tertawa dalam hati. Namun tidak apa-apa. Positif Thinking aja. Mungkin semalam Pak Nardi kecapaian. Lagian juga hak Pak Nardi untuk tidak menolong kami semalam.

Semalam sebelum tidur aku juga sempat berbincang-bincang dengan Iqmal. Seperti biasa. Banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari pekerjaan yang berat, gaji sedikit, hidup pas-pasan, bagai mana besuk kalau sudah punya istri, juga berbincang tentang mimpi-mimpi masa depan kami. Semuanya menjadi pengantar tidur kami. Mengasikan. Meski sekali dua kami juga mengeluhkan betapa gaji kami tidak sesuai dengan pekerjaan. Dan aku juga mulai paham bahwa mengeluh tidak menyelesaikan permasalahan. Hanya bersabar dan terus percaya. Jika Allah Maha Adil.

Mungkin mimpi indah itu belum tepat jika terwujud saat ini. Entah diriku yang belum siap atau karena alasan lain. Hanya Allah Maha Tahu. Yang jelas yang bisa aku lakukan saat ini adalah berkarya dengan sebaik-baik karya. Berdoa serta percaya dan selalu percaya. Bahwa mimpi-mimpi itu kan jadi kenyataan. Entah tahun depan, entah bulan depan, entah esok hari.

Jikalau Allah menghendaki, apa yang tidak bisa.

Jikalau Allah mengijinkan. Tidak ada yang tidak mungkin kecuali ketidakmungkinan itu sendiri.

Dan malam semakin larut.

Aku dan Iqmal sudah terlelap. Pulas tanpa mimpi.

Tegaljoho, 4 Nopember 2012