Blabak, Oktober 2006

Malam itu. Jarum jam menunjukkan pukul 03.00. Gulita malam menyelimuti. Senyap membungkus Desa Ambartawang. Salah satu desa di Kecamatan Blabak Kabupaten Magelang. Tepatnya desa dimana saat itu aku mengadu nasib. Mencari sesuap nasi sendiri. Belajar tentang hidup. Belajar tentang kehidupan. Udara dingin tak menghalangiku untuk bangun. Perlahan kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Segera ku ambil air wudhu. Saat-saat indah dalam dekapan Sang Maha Indah. Saatnya untuk qiyamul lail.

* * *

Saat itu usiaku 19 tahun. Sudah hampir dua bulan aku bekerja di Pabrik Kertas Blabak. Tentunya setelah berkali-kali ditolak melamar kerja di perusaan besar. Ku putuskan untuk bekerja di sana meski hanya kontrak tiga bulan. Itung-itung dari pada menganggur. Mencari pengalaman baru.

Sebelumnya aku pernah melamar di perusahaan yang bonafit. Banyak teman-teman dan kakak kelasku yang dapat mengantongi banyak uang ketika bekerja di sana. Perusahaan itu adalah Showa dan Aisin, bagian dari Astra Group. Keduanya adalah salah satu perusahaan spare part kendaraan bermotor terkenal. Aku sangat berharap bisa bekerja di sana. Namun Allah berkehendak lain. Aku selalu gagal di tes wawancara, tahapan tes terakhir setelah tes tertulis dan tes fisik.

Aku juga pernah mendaftarkan diri di PT Masaro. Salah satu perusahaan terkenal yang bergelut di bidang peralatan jaringan seluler. Namun sayang. Aku gagal di tes administrasi. Dalam sebulan setelah aku lulus itu, kegagalan bertubi-tubi menghantamku. Dalam semangat yang membara ingin segera bekerja, aku selalu di tolak.
Terakhir di CV. MS, perusahaan yang kelak aku bekerja di sana. Lagi-lagi aku gagal dalam tes wawancara. Memang belum rejekiku.

* * *

Detak jam terus bergerak. Dari detik satu kedetik yang lain. Membentuk menit. Begitu juga menit satu bergerak ke menit yang lain. Membentuk Jam. Dan seterusnya hingga malam itu aku masih di beri waktu dan kesempatan untuk menunaikan Ibadah yang begitu mulia.

Sementara desau angin malam bersenandung mengiringi di pelataran. Menggerakkan dedaunan. Seakan-akan mereka berbisik. Jikalau saat itu pintu langit sedang terbuka. Saat itu doa-doa dikabulkan. Bintang-bintang dilangitpun tersenyum. Seolah-olah berkata kepadaku. Jikalau malaikat sedang turun ke bumi. Mencatat amal-amal hamba Allah yang mendirikan Qiyamul lail. Angin, pepohonan dan bintang bertasbih kepada penciptanya. Menjalankan titah Tuhanya. Terasa hening. Damai. Kuhadapkan badanku ke arah kiblat. Ya Allah, terimalah sujudku pada-Mu.

* * *

Di pabrik kertas itu, aku di tempatkan di bagian Instrument. Bagian yang bertugas merawat dan memperbaiki peralatan yang berhubungan dengan elektronika dan automation. Agak sedikit nyambung dengan jurusanku ketika sekolah di SMK. Tapi lebih banyak nggak nyambungnya. Namun aku mendapat banyak pengalaman. Biasanya di sekolah hanya pegang keyboard, dan uprek-uprek hardware dan software. Di perusahaan dengan nama PT.Kertas Blabak itu aku belajar, las listrik, valve, solenoid, compresor, relay dan masih banyak yang lainya.

Aku mendapatkan gaji lumayan meski aku masih menjadi karyawan kontrak. Enam ratus ribu setiap bulan. Belum lagi jika aku lembur. Penghasilan bisa mencapai delapan ratus ribu sampai dengan satu juta. Saat itu harga belum terlalu tinggi. Harga nasi telur cuma seribu lima ratus rupiah. Biaya kos empat puluh ribu rupiah. Buatku gajiku sudah lumayan besar.

Aku berusaha bekerja dengan maksimal. Namun karena terlalu banyak hal baru yang aku pelajari membuatku kadang melakukan kesalahan. Beberapa seniorku kadang merasa kesal. Ada juga yang sering marah-marah di hadapanku. Membuat kerja tidak nyaman. Aku mulai merasa tidak betah.

Kontrak tiga bulan itu berhubungan dengan proyek. Proyek pemasangan peralatan baru. Peralatan yang besar kadang membuatku takut. Kadang harus memanjat dinding setinggi 10 meter. Bergelantungan di atas mesin-mesin besar. Tak jarang aku menarik kabel, menyusuri lorong, menginjak kabel-kabel besar dengan tegangan ribuan volt. Benar-benar pekerjaan yang beresiko. Aku semakin merasa tidak betah.

Waktupun terus berjalan. Kontrak yang awalnya hanya 3 bulan, diperpanjang 1 bulan. Andaikan hanya melihat gaji, ingin sekali aku menjadi karyawan tetap. Namun jika melihat kondisi pekerjaan, aku pingin cepat-cepat keluar. Perasaan bingung terus membingkai keseharianku. Aku lelah, namun tak kurasa. Ingin sekali aku memiliki pekerjaan yang lebih mapan.

Hingga pada suatu hari aku bercakap-cakap dengan temanku. Kami asyik membicarakan tentang Pegawai Negeri Sipil. Suatu pekerjaan yang tak pernah aku impikan sebelumnya. Bukannya aku nggak minat jadi PNS. Namun melihat keadaanku saat itu, PNS adalah mimpi semu. Ibarat hendak memeluk gunung, apa daya tanganku tak sampai. Menginginkan sesuatu yang tak mungkin. Ibarat punguk merindukan bulan. Hanyalah khayalan.
Namun apa yang tak mungkin Jika Allah menghendaki. Ya Allah, ijinkanlah punguk kecil ini memeluk rembulan-Mu. Perbincangan kami selesai. Ingin sekali aku jadi PNS. Ingin sekali.

* * *

Jarum panjang jam bergerak 180º ke arah kanan. Itu berarti 30 menit telah berlalu. Waktu sekarang menunjukkan pukul 03.30. Suasana masih senyap. Namun kedamaian ini masih meluap. Seakan-akan memadati langit yang berlapis tujuh.

Delapan rakaat sholat tahajud di tambah tiga rakaan sholat witir. Sebelas rakaat telah kulalui. Sebelas kali pula aku telah membaca surat Al Fatihah. Sebelas kali aku berdiri dalam sholat. Sebelas kali ruku’ dan dua puluh dua kali aku melakukan sujud.

Selepas sholat aku membaca wirid yang biasa aku baca. Bermunajat Pada Allah. Mendekat. Bertasbih, bertahmid, bertakbir, dan bertahlil mengingat Allah. Memohon penuh harap dan cemas.

Sementara pintu langit masih terbuka. Para malaikat yang begitu banyaknya masih di bumi. Mendoakan hamba-hamba Allah yang benar-benar ikhlas. Dan janji Allah akan mengabulkan doa-doa hambanya pada sepertiga malam terakhir masih menghiasi malam itu. Indah. Begitu indah. Tak terlukiskan.

Ya…Allah….
Malam ini
Dimalam-Mu yang penuh berkah ini
Hamba bersimpuh dan menengadah
Seraya memohon kepada-Mu

Duhai Allah Yang Maha Pengasih
Hamba memohon kepada-Mu
Jadikanlah hamba seorang Pegawai Negeri
Sehingga hamba dapat bekerja dengan tenang
Juga dapat membagi waktu
Untuk bermunajat kepada-Mu

Duhai Dzat Yang Maha Mengabulkan doa
Seandainya ini baik untuk hamba, menurut-Mu
Kabulkanlah doaku
Amin…..

* * *

Suara ayam berkokok merubah suasana. Mengusir malam memecah keheningan. Terlihat semburat merah di langit arah timur. Fajar menyinsing. Pertanda subuh telah datang. Dan waktu akan terus berjalan. Entah sampai kapan. Dan segala rahasia-rahasia yang mengiringi perjalanan waktu. Hanya Allah Yang Maha Tahu.

* * *

Blabak, Desember 2006

Tahun baru akan segera tiba. 2007 akan menggeser 2006. Saatnya tutup buku kehidupan di tahun ini. Untuk memulai lembaran-lembaran baru. Mengukir impian-impian yang lebih indah. Saatnya menyambut tahun baru.
Begitulan kebanyakan perasaan orang-orang menyambut tahun baru. Girang. Bahagia.

Lain halnya dengan diriku. Bukan pesta kembang api atau pergi kepantai yang ada di pikiranku. Namun aku galau. Bingung. Tak tahu harus sedih atau bahagia. Keduanya bercampur aduk memenuhi memori di kepalaku. Sedih karena hari itu aku resmi jadi pengangguran lagi. Senang karena aku terbebas dari pekerjaan yang benar-benar berat bagiku.

Pagi itu, Ibu kepala bidang SDM memanggilku dan beberapa teman karyawan kontrak. Ibu Ihtiarti Mahatmi mengucapkan terimakasih atas kerjasama yang telah terjalin. Intinya kami sudah selesai dalam melaksanakan tugas. Tidak ada perpanjangan lagi. Apalagi perekrutan karyawan tetap.

Siang itu terik matahari menyengat dikepala. Tapi tak begitu terasa ketimbang perasaan galauku. Aku resmi jadi pengangguran lagi. Selamat tinggal PT. Kertas Blabak. Aku harus mencari pekerjaan lagi. Aku harus siap ditolak lagi. Hidup ini memang melelahkan.

* * *

Beberapa hari kemudian aku mencoba mecari pekerjaan lagi. Pertama aku melamar di perusahaan pengolahan emas di surabaya. Namun lagi-lagi aku gagal. Kali ini aku gagal di tes tertulis. Putus sudah harapanku bekerja di Surabaya.

Tak terasa sudah seminggu aku menjadi pengangguran. Aku mencoba melihat lowongan pekerjaan di Bursa Kerja Khusus (BKK) sekolahku dulu. Tak ada lowongan pekerjaan yang tertempel di pengumuman. Aku mencoba iseng menanyakan pekerjaan pada Pak Yogi, beliau adalah Kepala BKK di sekolahku.

Dan hari itu. Ternyata masih ada seberkas cahaya memancar dalam kegelapan. Ternyata masih ada secercah harapan dalam kegalauanku. Ibarat gayung bersambut. Pak Yogi memberitahuku bahwa CV. MS sedang butuh karyawan. Perusahaan yang bergerak di bidang penjualan mesin absensi sidik jari dan jasa scan lembar jawab komputer itu, sedang membutuhkan seorang teknisi dari jurusan TKJ. Aku tak mau meyia-nyiakan peluang ini. Kebetulan ada sahabatku yang sudah bekerja di sana. Aku pikir akan lebih nyaman bekerja disana. Aku bergegas melamar di perusahaan itu. Kembali ku rajut harapanku.

* * *

Beberapa hari kemudian. Kabar menggembirakan menghapiriku. Bagai hembusan angin dari surga yang menerpa. Begitu sejuk. Menebarkan kegembiraan dalam hatiku. Aku diterima. Aku tak tahu ini akan menjadi pertanda baik atau buruk. Yang jelas aku terbebas dari predikat pengangguran. Bagiku sangat menggembirakan. Sungguh menggembirakan.

* * *

Bumi terus berputar pada porosnya. Mengakibatkan pergantian siang dan malam. Siang berganti malam begitu juga malam berganti siang. Hari berganti hari, bulanpu berlalu. Tak terasa sudah tujuh bulan aku bekerja di CV. MS.
Aku bekerja sebagai teknisi dan suport. Tak ada masalah dalam pekerjaan. Aku benar-benar menguasai pekerjaan ini. Membantu marketing mengenalkan alat, memasang mesin absen sidik jari, memasang jaringan dengan komputer, meng-install software attendance, dan memberikan training kepada client. Pekerjaan yang menyenangkan dan penuh tantangan. Belum lagi aku harus berbindah-pindah dari kota satu ke kota yang lain. Menginap di beberapa kota. Bekerja dengan teman-teman yang menyenangkan. Mereka adalah Iqmal, Pak Har, Pak Wid, Pak Edison, Mbak Restu, Mas Adi dan Mbak Dina. Kami saling bercanda tawa. Benar-benar tim yang kompak. Aku benar-benar menikmati pekerjaan.

Namun inilah kehidupan. Nampaknya tidak sempurna jikalau hidup ini selalu bahagia. Ibarat sayur akan terasa hambar jika hanya dibumbui satu atau dua bumbu saja. Begitu juga dengan diriku. Aku benar-benar senang dengan pekerjaan dan hubungan dengan rekan kerja. Namun di sisi lain ada sesuatu yang menguras pikiranku. Gaji yang minim dan atasan yang tidak memperhatikan kepuasan pelanggan cukup membebaniku. Pernah aku mencoba untuk keluar. Namun perusahaan masih berharap aku kerja di sana. Setelah beberapa kali berdiskusi dengan atasan, akhirnya aku tidak jadi mengundurkan diri. Gajiku dinaikan. Begitu juga masukan-masukanku mulai didengarkan oleh atasan. Aku kembali bekerja. Bulan-bulan itu banyak proyek. Hingga pada suatu hari aku mendengar kabar menggembirakan. Berita Kuliah Gratis. Beasiswa D3 Teknik Komputer Jaringan. Program Jejaring Pendidikan Nasional di seluruh Indonesia.

* * *

Kota Magelang, Agustus 2007

Aku kembali dilanda perasaan bingung. Bingung menentukan pilihan. Terus bekerja atau mencoba mengikuti tes kuliah. Aku mencoba meminta pendapat orang tuaku. Awalnya orang tua ragu dengan kuliah gratis. Karena kata orang kuliah gratis itu biasanya tetap mengeluarkan biaya. Namun aku berusaha untuk meyakinkan orang tua bahwa kuliah itu benar-benar gratis. Dan akhirnya orang tua merestui dan mendukungku untuk kuliah.

Aku semakin mantap menentukan pilihan. Aku juga berdiskusi dengan Iqmal Misrani, sahabat dekatku. Akhirnya aku memutuskan untuk kuliah meski perusahaan sebenarnya keberatan jikalau kami keluar. Tapi hidup adalah pilihan. Kita berhak menentukan pilihan kita.

* * *

Tes masuk beasiswa D3TKJ berjalan dengan lancar. Pengumuman di-upload lewat internet. Aku dan Iqmal dinyatakan lulus. Aku mendapat peringkat 5. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku bisa duduk di bangku kuliah. Sungguh bahagia.

Salah satu persyaratan kuliah adalah aku harus magang di sekolahan. Sebelum pelaksanaan tes, aku harus mencari sekolah sebagai tempat magang. Dan akhirnya setelah menyoba mendatangi istansi sebanyak tujuh kali. Aku mendapat tempat magang yang begitu mendukungku. Aku magang di SD Negeri Magelang 5. Sekolah yang begitu berjasa dalam sejarah hidupku.

* * *

Dan bumi terus berputar tak pernah berhenti. Sebagaimana bulan yang mengitari bumi. Bumi juga berevolusi mengintari matahari. Mejadi perhitungan tahun. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Tak terasa sudah tiga setengah tahun aku menjalani kuliah. Suka dan duka terus mengiringi perjalanku. Bulan Oktober 2010 aku di wisuda. Memakai toga menjadi sarjana muda. Rasanya sungguh luar biasa. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

* * *

Botton Nambangan, Nopember 2010

Kabar penerimaan CPNS sudah menjamur di internet. Mulai dari CPNS Pusat sampai dengan CPNS daerah. Gempar. Bayak calon pelamar baik yang fresh graduate maupun lulusan lama, sibuk mengurus persyaratan. Tak terkecuali diriku.

Kusiapkan persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan. SKCK, foto kopy KTP, Kartu Kuning dan lain sebagainya. Semuanya sudah siap. Saatnya mendaftarkan diri.Kubuka internet. Ku ketikan http://cpnsd.jatengprov.go.id di address bar browser. Agak lama proses loading-nya. Mungkin karena sedang banyak yang access. Mungkin juga kecepatan access data internetku yang lambat. Aku sabar menanti.

Beberapa menit kemudian halaman sudah terbuka. Aku mengisi form-form di halaman itu. Satu-persatu pengisian terselesaikan dengan cermat. Ku pencet tombol “kirim”. Proses berjalan. Dataku sudah masuk ke database server web tersebut. Selanjutnya ku cetak bukti pendaftaran. Kulampirkan dalam berkas. Kumasukan dalam amplop. Dan kukirim ke alamat sesuai dengan pengumuman pendaftaran. Lega rasanya.

Selang beberapa minggu aku mendapat balasan surat yang isinya undangan dan kartu tes. Prosespun berjalan dengan lancar. Aku mengikuti tes.

Menegangkan. Ribuan orang mengikuti tes di hari yang sama. Hanya di ambil 10 orang untuk formasiku. Formasi Pranata Komputer banyak yang minat. Baik yang dari dalam maupun luar kota. Benar -benar kesempatan yang kecil. Aku hanya bisa pasrah setelah menyempurnakan ikhtiar. Aku hanya berharap pada Allah. Bukan pada usahaku.

* * *

Borobudur, Desember 2010

Malam itu aku sedang iktikaf di Masjid yang berada di Borobudur. Selama tiga hari aku beriktikaf di sana. Memperbanyak dzikir dan doa. Dari tes sampai pengumuman aku berusaha beriktikaf di masjid. Berharap aku bisa diterima. Aku juga memohon kepada Bapak dan ibuku untuk membantu riyadhoh. Selama menanti pengumuman, aku memohon agar Bapak dan Ibu selalu qiyamul lail dan mendoakanku.

Berharap dan Cemas. Waktu menjunjukkan Pukul 02.00. Kuputuskan melihat pengumuman di warnet terdekat. Dengan pertimbangan pengumuman di upload pukul.00.00. Juga dengan pertimbangan jika aku membuka siang hari pasti banyak yang meng-access. Sehingga loadingnya pasti lama. Ku kendarai motorku dengan kecepatan 80 km/jam.

Udara dingin seakan menusuk rusukku. Aku pergi ke warnet terdekat. Kudapati warnet di dekat Pasar Borobudur. Kubuka pengumuman secara online. Proses loading berjalan dengan cepat. Hatiku berdebar-debar. Perasaan tak karuan membanjiriku. Cemas dan penuh harapan. Sayang belum ada pengumumannya. Aku kembali kembali ke masjid masih dengan perasaan berdebar-debar.

* * *

Gelangan, 28 Desember 2010

Pagi itu… Langit Magelang terlihat cerah. Sang mentari menyemburatkan sinarnya dengan tajam. Seolah-olah memberi sejuta harapan. Bagi setiap insan yang masih menghirup udara di pagi itu. Begitu hangat. Begitu mempesona. Namun hati ini masih berdebar-debar. Dan semakin berdebar-debar. Rasanya tak karuan.
Hari itu acara iktikaf bersama teman-teman selesai. Setelah saling berpamitan kami bergegas pulang ke rumah masing-masing.

Sebelum pulang aku mengantar salah satu temanku. Dia adalah mas Mika yang beralamat di Kelurahan Gelangan.
Perjalanan Borobudur-Gelangan sekitar setengah jam. Sekitar pukul 8.00 kami sudah sampai di Gelangan. Namun sebelum sampai rumah Mas Mika, kami berniat untuk sholat tahyatul masjid di masjid terdekat.

Sepeda motor ku parkir di sebelah masjid. Kuletakan tas dan segera ku ambil air wudhu.
Tiba-tiba HP-ku bergetar. Dua pesan singkat masuk ke dalam Inbox HP-ku. Ku buka dengan perlahan.
“Selamat sin…Kamu di terima jadi PNS”. “Selamat teman, Anda di terima menjadi PNS, Aku n Ulfa Tahun Depan”
Dua sms dari sahabatku, Mbak Nunik dan Iqmal. Aku tertegun. Berdebar seketika. Aku menangis bahagia. Serasa bermimpi. Antara percaya dan tak percaya.

Perasaan bahagia, perasaan tak percaya dan perasaan-perasaan lain yang tak dapat ku ungkapkan bercampur aduk menjadi satu. Aku benar-benar bahagia hari itu.

Segera ku ambil air wudhu.
Sujud syukur huturkan kepada-Mu. Terimakasih ya Allah…..Sungguh aku tak percaya.

Aku mencoba mencari surat Kabar. Kupastikan bahwa namaku tertera di sana. Ternya memang benar. Aku di terima. Anak desa ini bisa menjadi PNS.

Alhamdulillah….Segala puji bagi-Mu Ya Allah. Kau telah mengabulkan doaku Empat tahun yang lalu. Semoga ini baik bagiku Ya Allah. Terimalah sujud syukurku. Sungguh. Tak kan ada sehelai daunpun yang jatuh dari tangkainya. Melainkan dengan ijin-Mu ya Allah.

Cacaban, 18 April 2012