Saya terlahir dari keluarga yang masih bertaraf menengah ke bawah, bahkan bisa dikatakan keluarga yang masih kekurangan. Namun saya sangat bersyukur bisa dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang penuh kesederhanaan. Meski kadang apa yang saya inginkan tidak kesampaian, namun banyak sekali tersingkap hikmah dalam kehidupan saya, salah satunya adalah betapa mewahnya, seseorang yang ikhlas hidup dalam kesederhanaan.

Teringat suatu hari ketika bapak saya hendak menjalankan aktifitas berladang. Sebelum berangkat, beliau berniat untuk sarapan pagi agar kerjanya lebih semangat. Namun karena berangkatnya terlalu pagi, ibu saya belum sempat menyiapkan makanan untuk sarapan bapak. Hanya sisa nasi kemarin yang masih tersisa di meja makan. Tanpa berpikir panjang juga tanpa merasa kesal pada ibu, bapak langsung mengambil nasi kemarin itu, kemudian mengambil garam dapur. Garam dapur yang berbentuk kotak tersebut di usap-usapkan pada nasi, kemudian bapak makan dengan lahapnya. Setelah itu beliau bergegas pergi ke ladang.

Subhanallah. Pernahkan kita merenungi betapa nikmatnya makan meskipun hanya berlaukkan garam? Mungkin dalam hati kita bertanya, “Cuma makan dengan garam yang asin kok bisa dibilang enak, lha enaknya di mana?” Bahkan mungkin ada yang berkata dalam hati “jangan sampai ya..makan kok Cuma dengan garam dapur, gengsi ya jeng” 😉 . Akan tetapi mari kita renungi bersama-sama seandainya kita dihadapkan pada pilihan antara makan direstoran megah dengan menu yang beraneka ragam jenis dan rasanya namun dalam keadaan gigi sakit atau makan dirumah sendiri dengan nasi sisa kemarin dan cukup berlaukan garam? Pilih mana? Makan dengan makanan yang menghabiskan uang jutaan rupiah namun lidah sariawan dengan makan seadanya namun tubuh dalam keadaan sehat? Tentu kita akan lebih bisa menikmati makan seadanya dengan keadaan yang sehat wal afiat bukan?

MasyaAllah. Terkadang kita lebih banyak merasa kurang daripada mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Kita lebih sering mengeluh hanya karena ibu tidak memasak masakan yang kita sukai. Kita sering marah-marah pada orang tua hanya karena mereka tidak segera menuruti keinginan kita. Padahal seandainya kita mau melihat keluar, seandainya kita mau bercermin dari sekitar, masih banyak saudara kita yang jauh lebih kekurangan. Masih banyak saudara kita yang makan hanya dari sisa makanan orang.

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita manusia yang pandai bersyukur. Amin.

“Suatu hari ada seorang anak yang merengek-rengek pada bapaknya, minta dibelikan sepatu baru. Karena bapaknya belum mempunyai cukup uang dengan terpaksa sang bapak tidak bisa menuruti keinginan anaknya. Sang anak sedih dan marah pada bapaknya. Hingga pada suatu saat sang anak bertemu dengan seorang pengemis yang cacat tidak mempunyai kaki. Anak tersebut baru sadar betapa tidak bersyukurnya dia. Dalam hati ia berkata, “meski saya tidak memakai sepasang sepatu yang saya inginkan, seharusnya saya harus bersyukur karena Allah masih menganugrahi saya sepasang kaki. Apalah arti sepasang sepatu baru jika tanpa kaki”.

Masjid Agung Magelang, 31 Januari 2011