Seperti biasa pada pertengahan semester setiap sekolah mengadakan Ulangan Tengah Semester(UTS) atau Mid Semester, tak terkecuali SD Negeri Magelang 5. Guna mengetahui hasil dari pembelajaran selama setengah semester para guru mempersiapkan soal-soal yang siap untuk diujikan. Hari demi hari berlalu, lembar demi lembar soal maupun kisi-kisinya terselesaikan.

Sampailah pada hari terahir persiapan, lembaran-lembaran soal dan juga lembar jawabnya dimasukan kedalam amplop menurut kelas dan mata pelajaran. Amplop-amplop tersebut diperiksa satu persatu, semuanya dicocokkan dengan daftar cecklist yang telah dipersiapkan. Setelah beberapa menit pengecekan, ternyata ditemukan mata pelajaran yang belum ada yaitu mata pelajaran Agama Islam yang diampu oleh Bp Mochrodji lah yang belum siap. Sepontan panitia menanyakan keberadaan Bp Mochrodji, akan tetapi beliau sudah beranjak pulang lebih awal karena ada suatu acara yang tidak bisa ditinggalkan.

Adalah Bapak Mochrodji, sosok guru mata pelajaran Agama Islam di SD Negeri Magelang 5. Beliau adalah guru yang visioner dan penyabar. Meski kadang pandanganya yang terlalu tinggi membuat teman-temannya menganggap gagasanya terlalu muluk-muluk. Dengan idenya-idenya yang aneh-aneh, beliau selalu menatap kedepan dengan penuh optimis. Walau kadang beliau jadi bahan pembicaraan orang, namun sikapnya yang penyabar bahkan tidak pernah marah membuat saya salut kepada beliau.

Singkat cerita hari senin yang cerah itu, UTS pun dimulai. Mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Jawa dan Pendidikan Agama Islam. Panitia merasa kebingungan karena mata pelajaran Pendidikan Agama Islam belum siap. Akhirnya datanglah Pak Muh yang sudah lama dinanti panitia. Dengan nada yang agak kesal, salah seorang panitia menanyakan kesiapan ujian mapel Agama Islam. Dengan tenang Pak Muh mengatakan bahwa soalnya sudah siap cuma tinggal menggandakan saja. Dengan keterlambatan soal ini saya maklum karena selain sebagai guru, beliau juga menjalankan aktifitas-aktifitas sosial yang notabene menghabiskan waktu, pikiran dan tenaga beliau.

Tanpa berpikir panjang, Pak Muh mengajak saya untuk menggandakan soal. Sembari para siswa mengerjakan soal Bahasa Jawa, kami menuju ke tempat fotokopi terdekat dari sekolah. Dua menit perjalanan, sampailah kami di tempat fotokopi itu. Terlihat dua petugas fotokopi sedang sibuk menggandakan berkas-berkas yang kelihatanya banyak sekali. Dengan wajah yang cemberut, mereka tampak kelelahan dengan pekerjaan yang begitu banyaknya. Jangankan tersenyum, menyapa pun tidak dan mungkin mereka kurang memperhatikan kepuasan dalam pelayanan.

Segeralah kami menyodorkan soal kepada mereka. Dengan raut wajah yang menyeramkan, salah satu petugas fotokopi mengerjakan soal yang kami bawa. Setelah kian lama menanti, hasilnyapun tak kunjung selesai. Akhirnya setelah lama menunggu, barulah petugas tersebut selesai memfotokopi soal-soal kami, namun ia belum sempat mengelompokan setiap satu paket soal untuk distepler. Saat itu rasa jengkel saya terhadap pelayanan fotokopi semakin bertambah, ibarat menuang air dalam gelas, semakin lama semakin penuh dan ingin sekali saya meluapkan kemarahan saya. Dalam hati saya berkata, sejelek inikah pelayanan yang harusnya memperhatikan kepuasan pelanggan?

Namun berbeda dengan Pak Muh yang berada di samping saya, terlihat dari raut mukanya yang tak melukiskan kemarahan sedikitpun. Dengan sikap yang tenang beliau meminjam stepler pada petugas fotokopi. Perlahan tapi pasti, bukan mempermasalahkan masalah tapi mencari solusi. Segeralah Pak Muh membantu mengelompokkan soal-soal yang tertumpuk di meja. Wal hasil, soal-soal tersebut lebih cepat selesai dan siap untuk digunakan dalam UTS. Coba seandainya hati Pak Muh juga ikut-ikutan ndongkol seperti saya, mungkin sampai ujian dimulai soal belum selesai ditambah hati yang semakin suram karena terkotori dengan emosi.

Kisah sederhana namun syarat makna, cerita biasa tapi bagi saya amatlah penuh hikmah. Betapa pentingnya menjaga kelapangan hati tatkala keadaan sedang sempit, betapa bijaknya sikap seseorang yang tidak pernah mempermasalahkan masalah namun senantiasa mencari solusi. Dan seandainya ketika kebakaran terjadi, kita tak perlu menyalahkan siapa penyebab kebakaran tersebut, tak perlu marah-marah karena rumahnya terbakar, apalagi sampai ngambek, tak kan ada manfaatnya mempermasalahkan masalah karena api tetap berkobar, rumah kian hangus. Alangkah bijakya tatkala kebakaran terjadi kita langsung action memberi solusi, memadamkan api atau mencari bantuan tuntuk memadamkan api tersebut.

Semoga Allah senantiasan menganugrahkan kelapangan hati kita, meski dalam keadaan lapang maupun sempit, amin.

Jinggan, 20 Januari 2012