Masih teringat ketika tidur sendirian di dalam kamar kecil berukuran 2 x 3 meter, bertemankan bantal dan selimut. Waktu itu adalah saat-saat dikala hatiku selalu bertanya-tanya, “siapakah jodohku kelak?”, “bagaimana rasanya jika aku telah memiliki seorang istri?”, “bagaimana perasaanku tatkala esuk sudah ada teman yang selalu menemani disetiap tidurku?”, “apakah aku bisa menghidupi keluargaku?” dan sejuta pertanyaan lainya yang terus menerus terlintas menemani malam demi malam.

Masih selalu terbayang dalam benakku ketika harus memasak nasi dan membeli sayur untuk makan setiap harinya, membeli sabun seorang diri serta mencuci baju sendirian. Juga masih terdengar jelas celotehan teman-teman dan tetangga yang melihatku sedang menjemur baju. Mereka sering sekali melontarkan kalimat yang menyuruhku untuk mencari pendamping hidup.

Masih terngiang juga akan monologku kala itu, dimalam-malamku ketika menyendiri, termenung dalam gulita. “Seandainya aku sudah memiliki seorang pendamping hidup, insya Allah akan lebih nikmat dalam beribadah”, “Seandainya aku sudah beristri, aku akan ada seseorang yang membangunkanku setiap malam”. Dan juga doa yang selalu ku panjatkan “ Ya Allah, Anugrahkanlah kepada hamba seorang istri yang sholekhah, yang akan membantu hamba dalam menggapai keridhoan Mu”.

Dan dipagi yang cerah itu tepatnya hari Ahad Legi tanggal 3 April 2011, atau tanggal 28 Bakda Mulud 1944 tahun Jawa yang bertepatan dengan tanggal 28 Rabiul Akhir  1432 tahun Hijriah sejuta pertanyaanku terjawab. Disaksikan kerabat dan beberapa sahabat, di Dusun Tegaljoho, Desa Mojotengah, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, kami mengikrarkan Perjanjian Agung, Akad Pernikahan. Bukanlah sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi, bukan semata-mata sarana mendapatkan keturunan, dan apalagi hanya sebagai penyaluran libido seksualitas atau pelampiasan nafsu syahwat belaka, Akan tetapi niat suci kami mengikuti  salah satu Sunah Baginda Rasulullah SAW.

Hari itu usiaku belum genap 24 tahun, dan istrikupun baru menginjak usia 22 tahun. Dan Alhamdulillah saat itu kami baru saja mendapatkan pekerjaan yang kami inginkan. Mungkin banyak di hati sahabat-sahabat dan saudaraku-saudaraku sebuah pertanyaan “mengapa terburu-buru menikah?”. Ada juga yang menyarankan kami untuk bersenang-senang dulu menikmati masa lajang dengan hasil pekerjaan sendiri. Tentunya bukan sekedar karena hasrat seksual kami yang tidak tertahankan, akan tetapi begitu banyaknya fadhilah seseorang yang sudah menikah membuat kami tergiur, tak sabar ingin segera membangun mahligai rumah tangga ini. Dan inilah alasan kami kenapa kami ingin sekali segera menikah.

Menikah adalah Sunah Rasul

“Menikah adalah sunah(ajaran hidup)ku. Barangsiapa mencintaiku hendaklah ia mengikuti sunahku”(Al hadist)

“Ada seorang laki-laki, ia bernama Ukaf datang menghadap Nabi SAW. Maka Nabi bertanya kepadanya:
“Wahai Ukaf, apakah kau sudah beristri?”
Ukaf menjawab : “Belum”
Nabi bertanya lagi :”Apakah kau punya seorang budak perempuan?”
Ukaf menjawab: “Tidak”
Lantas Nabi bertanya lagi : “ Adakah kau orang yang pintar mencari rizki?”
Ukaf menjawab : “Iya”
Nabi Bersabda : “ Kau termasuk kawan-kawanya syaitan. Seandainya kau itu orang beragama Nasrani, tentulah menjadi pendeta(rahib) mereka. Sesungguhnya orang termasuk mengikuti sunahan itu adalah orang yang menikah. Seburuk-buruk kalian adalah orang-orang yang sedang membujang. Dan orang yang mati diantara kalian yang paling hina, adalah orang yang mati membujang”
(Al hadist)

Menikah dapat menyempurnakan separuh agama

“Apabila seseorang laki-laki telah beristri, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam sisa separuh agamanya”.(Al hadist)

Menikah dapat menjaga diri dari Maksiat

“Wahai Kaum muda, barang siapa telah mampu membiayai biaya pernikahan, maka hendaklah ia nikah saja. Karena sesunggunya nikah itu lebih bisa memejamkan(menjaga dari maksiat)mata, dan lebih bisa menjaga (maksiat)kemaluan. Dan barangsiapabelum mampu nikah, maka sebaiknya berpuasa. Sebab itu mampu menjadi perisai(gejolak nafsu)dirinya”(Al Hadist)

“Barang siapa menikah karena(mencari ridha) Allah, niscaya ia akan dicukupi dan dipelihara (dari maksiat)” (Al Hadist)

“Barang siapa menikah dengan harapan ia agar terpelihara(dari maksiat), maka Allah pasti memeliharanya” (Al Hadist)

Dengan Menikah dan menikahkan putra putrinya, berhak menjadi Kekasih Allah

“Barang siapa menikah karena Allah dan menikahkan (putra-putrinya) karena Allah, maka ia berhak menjadi kekasih Allah” (Al Hadist)

Menikah menambah keutamaan

“Keutamaan orang yang sudah berumah tangga atas yang masih membujang itu bagaikan keutamaan orang yang pergi di medan perang atas orang yang duduk-duduk dirumah(tidak berperang). Dan Shalat dua rakaat dikerjakan oleh orang yang sudah berkeluarga itu lebih baik(banyak) pahalanya dari pada delapan puluh dua rakaan dikerjakan oleh orang yang masih membujang”

Subhanallah…bagaimana kami tidak tergiur membaca Sabda Baginda Nabi Besar Muhammad SAW tersebut. Begitu banyak keutamaan bagi seseorang yang telah menikah ( semoga kami termasuk di dalam golongan orang tersebut). Adapun alasan lain kami untuk segera menikah dikarenakan hati kami sudah saling mencintai. Maka ketika hati ini sudah saling terikat dan kami tidak segera menikah, ini akan dimanfaatkan syetan untuk membujuk kami agar menjadi pengikut yang akan menemaninya di dalam neraka. Syetan menggunakan jurus ampuh yang mengatasnamakan “cinta” yang akhir-akhir ini sangat mujarab untuk menjebak manusia terutama kaum remaja ke ladang perzinaan, Na’udzubillah. Dengan mengatasnamakan “cinta” ini syetan sedikit demi sedikit mengajak manusia untuk berbuat mungkar. Awalnya hanya perasaan suka, mulai dari sekedar tegur sapa, berlanjut sms saling memuji dan bercanda yang lambat laun semakin berani dan berujung pada perzinaan, Na’dzubillah min Dzalik. Hal-hal yang mendapat dosa ini akan menjadi pahala tatkala seseorang sudah mengikat tali suci pernikahan. Subhanallah

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa memegang tangan istrinya sambil bercumbu rayu denganya, maka Allah mencatatnya sebagai kebaikan baginya, dan menghapus baginya sebuah keburukan, dan mengangkat baginya satu derajat. Dan sekiranya ia berpelukan dengan istrinya, maka Allah mengangkat baginya sepuluh kebaikan, menghapus sepuluh keburukan dan mengangkat baginya sepuluh derajat. Dan jika ia menciumi istrinya, maka Allah mencatat baginya dua puluh amal kebaikan, menghapus dua puluh keburukan dari padanya dan mengangkat baginya dua puluh derajat. Dan seandainya ia (lalu) melampiaskan keinginan seksnya kepada istrinya (bersetubuh dengannya), maka baginya (pahala) yang lebih besar dari pada dunia seisinya” (Al Hadist)

“Barangsiapa bersenda gurau (bercumbu rayu) dengan istrinya maka Allah mencatatnya sepuluh kebaikan baginya, menghapus dari dirinya dua puluh keburukan. Apabila ia memegang tangan istrinya, maka Allah mencatat baginya empat puluh kebaikan dan menghapus dari dirinya empat puluh keburukan. Apabila kemudian ia mencium istrinya, maka Allah mencatat baginya enam puluh kebaikan dan menghapus darinya enam puluh keburukan. Apabila kemudian ia setubuhi istrinya, maka Allah mencatat baginya seratus dua puluh kebaikan dan menghapus seratus dua puluh keburukan. Dan apabila kemudian ia mandi (menghilangkan hadast besar), maka Allah mengundang para malaikat lalu berfirman :

“Lihatlah kalian, itulah hambaKu, ia mandi karena ia merasa takut padaKu, ia yakin bahwa sesungguhnya Aku sungguh telah mengampuni dosanya. Maka, tiada air yang mengalir dari dirinya melewati rambutnya kecuali Allah telah mencatatnya sebagai amal kebaikan bagi dirinya”” (Al Hadist)

Subhanallah….begitu banyak balasan Allah kepada seseorang yang mau mempertahankan kesucian dirinya.(semoga kita termasuk di dalamnya..amin).

Tepatnya tanggal 3 November 2011 kemarin kami telah menginjak usia pernikahan yang ke tujuh bulan. Baru sebentar perjalanan kami dalam membangun mahligai rumah tangga ini, akan tetapi sudah begitu banyak pelajaran yang kami dapatkan. Belajar bersabar, menerima kekurangan, melatih kekompakan, menghidupkan musyawarah, saling mengerti dan menghargai serta pelajaran-pelajaran berharga lainya. Semoga Allah SWT senantiasa menanugrahkan kami nikmat Iman dan Islam, sehingga kami selalu dalam naungan Ridho dan Kasih SayangNya. Semoga Pernikahan kami akan menjadi pernikahan yang kekal abadi di dunia dan di akherat kelak. Semoga bimbingan Allah SWT senantiasa tercurah kepada kami sehingga tercipta rumah tangga idaman, rumah tangga yang harmonis, rumah tangga Baity Jannaty yang akan menjadikan kami keluarga yang penuh berkah, sakinah, mawadah, warahmah. Amin Ya Rabal’alamin.

Semoga tulisan ini dapat memotivasi sahabat-sahabat pembaca yang sudah siap menikah untuk segera melaksanakanya, dan bagi yang belum siap agar bersabar menahan diri sembari mempersiapkan diri untuk menikah. Dan bagi yang sudah menikah semoga kita diberi kekuatan untuk mempertahankanya.

Wallahu a’lam.

Tegaljoho, 6 November 2011