Tanpa terasa pelaksanaan perekaman data E-KTP di Kota Magelang sudah menginjak hari ke 11. Sekitar Seribu warga di kecamatan Magelang Tengah telah mengikuti pengambilan data baik foto, tanda tangan, sidik jari dan iris mata. Mereka begitu antusias mendatangi lokasi tempat perekeman, tanpa memandang dari kalangan atas maupun bawah. Keberagaman warga dengan berbagai latar belakang dan lingkungan serta keberagaman dari segi yang lainya memberikan kesan tersendiri terhadap saya selaku petugas Operator E-KTP di Kecamatan Magelang Tengah.

Tersirat untaian hikmah yang sangatlah berharga bagi saya selaku salah satu operator perekam data dari sekitar 37.000 penduduk di wilayah Kecamatan Magelang Tengah. Ternyata dari sekitar seribu penduduk yang hadir, tidak semuanya bernasib seberuntung saya. Saya melihat beberapa warga dengan bermacam-macam garis kehidupan yang terkadang membuat saya merasa bahwa saya amatah kurang bersyukur menerima ketetapan terhadap apa yang telah ditakdirkan dalam kehidupan saya. Kadang saya suka mengeluh, kadang saya merasa iri terhadap keadaan orang lain, kadang saya merasa kurang padahal jika kita mau melihat keadaan sekitar tenyata masih banyak saudara-saudara kita yang jauh lebih menderita dari pada kita (Semoga Allah memberikan balasan yang indah bagi mereka kelak di hari Akherat nanti amin).

Suatu ketika ada nenek yang sudah tua renta datang untuk memenuhi undangan dalam perekaman data ini. Nenek yang tidak mengerti apa itu sidik jari, apa itu iris mata, maupun apa itu E-KTP datang seorang diri untuk mengikuti proses perekaman datanya guna memenuhi kewajibanya sebagai seorang warga yang taat pada pemerintah. Terlihat dalam data yang dibawanya bahwa nenek tersebut tidak memiiki anak bahkan nenek yang sudah renta itu tidak memiiki seorang suami. Masya Allah….Nenek yang tidak memiliki keluarga itu harus menghidupi dirinya sendiri, dengan keadaan yang sudah lemah ia harus menjalani kehidupan seorang diri.

Coba bayangkan seandainya pada suatu malam ketika hujan dan rumahnya bocor, dia harus memperbaiki rumahnya sendiri, coba bayangkan seandainya hari lebaran tiba, ketika tetangganya menikmati hari-hari bersama keluarga tercinta, ah…dia hanya termenung seorang diri, ketika tetangganya menanti anak-anaknya pulang, ah…dia hanya berandai – andai, seandainya ada seseorang yang bisa ia nanti di hari lebaran ini. Dalam usia yang seharusnya ia beristirahat menikmati hari-hari tua bersama cucu-cucunya, dia harus mencari sesuap nasi untuk menghidupi dirinya. (Semoga Allah senantiasa memberikan nikmat iman dan islam sehingga ia akan mendapatkan kedudukan di sisi Allah).

Di waktu lain ada juga seseorang yang hadir dengan keadaan kakinya pincang karena cacat. Ada seseorang yang terpaksa diberi pengecualian di sidik jari tangan kananya karena jemarinya tidak ada. Ada juga seorang bapak-bapak yang penglihatanya tidak sempurna. (Semoga Allah senantiasa memuliakan mereka).

Hal itu tentunya berbeda dengan kita yang selama ini hidup bersama orang-orang tercinta. Berbeda dengan kita yang diberi nikmat lebih dalam mengarungi samudra kehidupan yang semu ini. Berbeda dengan kita yang masih diberi kelengkapan anggota tubuh. Berbeda dengan kita yang masih diberi kesempurnaan penglihatan dan pendengaran. Berbeda dengan kita yang masih diberi kesehatan sehingga kita masih bisa bekerja dengan senang hati. Akan tetapi kadang kita masih merasa kurang terhadap nikmat yang telah di anugrahkan kepada kita. Terkadang kita masih mengeluh ketika kita merasa apa yang kita dapatkan belum sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terkadang kita masih memandang ke atas dan selalu memandang ke atas, tanpa ada rasa syukur pada Tuhan yang telah menganugrahkan nikmat yang tiada terhingga.

Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita khususnya bagi saya bahwa tiada yang lebih indah dari pada rasa syukur kita terhadap segala pemberian Allah…Tiada yang lebih kaya dari pada mensyukuri sekecil apapun nikmat yang kita terima. Tiada orang yang lebih bahagia dari pada orang yang pandai bersyukur terhadap segala nikmat yang telah dianugrahkan Allah pada kita.

RSUD Temanggung, 1 Oktober 2011