Kejadian ini terjadi kira-kira ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sebagai seorang laki-laki yang ingin belajar mandiri, saya berusaha untuk bisa memasak. Saya sering mencoba memasak seperti yang biasa dilakukan kakak saya. Saat itu malam hari kira-kira sehabis sholat isya’ perut saya terasa lapar. Saya bergegas menuju ke dapur untuk memasak mie (bukan mie instan).

Pertama-tama saya siapkan bumbu-bumbu yang sering digunakan seperti cabe, bawang merah, bawang putih, gula jawa, dan bumbu penyedap. Saya mencoba mencari garam di tempat biasanya tetapi tempat penyimpanan garam tersebut dalam keadaan kosong. Setelah mencari kesana kemari dan tidak menemukan akhirya saya menemukan bungkusan plastik kecil di atas almari yang terletak di dapur. Bungkusan itu berisi butiran-butiran putih persis seperti garam.

Tanpa berpikir panjang bungkusan yang saya anggap garam itu langsung saya ambil dan saya taruh bersama bumbu-bumbu yang lain. Proses memasakpun dimulai. Pertama saya nyalakan api kemudian memasukan minyak dan bumbu-bumbu termasuk bungkusan yang saya anggap garam tadi. Saya mencoba mencicipi kuahnya setelah bumbu tercampur.

Saya kaget karena bukan rasa enak yang saya rasakan tetapi rasa pahit-pahit agat getir. Pokoknya rasanya aneh. Saya mengira rasa tidak enak itu akibat kesalahan saya dalam memasak. Kuah tersebut saya buang dan saya mencoba memasak dengan bumbu-bubu yang sama. Cuma saya lebih berhati-hati dalam proses memasaknya. Dan ternyata hasil masakan yang kedua ini tidak jauh beda dengan hasil masakan yang pertama.

Saya heran karena biasanya tidak seperti ini akan tetapi karena saya tidak ingin membuang makanan dan juga perut yang sudah begitu lapar maka masakan tersebut tetap saya makan walaupun rasanya aneh.

Keesokkan harinya saya baru mengetahui bahwa yang saya anggap garam tersebut adalah pupuk urea, ketika ibu saya bertanya mengenai pupuk urea yang diletakkan di dekat bumbu-bumbu masakan. Keluarga saya tertawa mengetahui kejadian ini, sayapun merasa geli sendiri. Akan tetapi saya masih bersyukur karena pupuk urea yang saya makan tersebut tidak meracuni tubuh saya.