Seperti biasa setiap istriku pulang kerja sore hari aku berusaha untuk bisa menjemputnya. Pukul empat lebih lima belas menit sore aku berangkat dari Samban. Semuanya telah aku siapkan termasuk jaket dan helm yang biasa dipakai istriku. Waktu tempuh dari Magelang sampai Temanggung kira-kira empat puluh lima menit jika lalu lintas di jalan tidak terlalu padat.
Hari itu Sabtu dua Juli dua ribu sebelas pukul empat lebih lima puluh sembilan menit sore aku sampai di depan tempat kerja istriku. Aku berada di gerbang tempat kerja istriku sembari menunggu istiku keluar dari ruang kerjanya.

Tidak berapa lama menunggu istrikupun menghampiri. Dengan raut muka yang letih karena lelah, istriku menyapaku sambil tersenyum “ Dah lama ya yah…?”. “Iya’” jawabku bergurau sambil menyeringai. “Bohong banget…” sahut istriku sambil tersenyum manis.

Karena sudah sore, kami bergegas naik motor dan segera beranjak pulang. Kami berencana untuk pulang ke rumah Kajoran, maka aku mengendarai motor agak cepat dari biasanya. Kebetulan saat itu jalan lebih sepi jadi perjalanan kami bisa lebih lancar.

Tiga puluh menit kami meninggalkan tempat kerja istriku, terdengar azan maghrib berkumandang. Saat itu kami belum sampai di Samban, tepatnya kami berada di daerah Sambung. “Sholat dulu yuk dik!” ajakku kepada istriku. “Iya yah” jawab istriku pelan. “Dimana?” tanyaku lagi. “Situ aja yah…yang dulu kita pernah sholat di sana, deket tempat tambal ban depan itu” jawabnya sambil menunjuk ke arah pertigaan di depan kami.

Kami memutuskan berhenti sejenak untuk melaksanakan sholat maghrib. Kami tiba di sebuah masjid yang aku lupa namanya. Aku bergegas untuk mengambil wudhu, bergantian dengan istriku. Setelah itu kami memasuki masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah dengan penduduk setampat. Setelah iqomat dikumandangkan semua jamaah merapatkan barisan demi kesempurnaan dalam penghadapan terhadap Allah Tuhan Alam Semesta. Kami melaksanakan sholat magrib dengan rangkaian urutan sebagaimana tata tertib sholat yang telah kami pelajari dari awal hingga selesai sholat.

Seusai sholat, seperti biasa kami berzikir sejenak dan tak lupa kami juga berdoa dengan permintaan masing-masing. Setelah selesai berzikir, aku berdiri dengan niat bergegas keluar masjid untuk melanjutkan perjalanan pulang. Tiba-tiba ketika aku berdiri tak sengaja aku menatap wajah istriku. Subhanallah…penuh kekaguman aku menatap sebuah wajah yang saat itu begitu teduh, seraut muka yang memancarkan cahaya kedamaian.

Dalam hatiku aku bertanya inikah kencantikan yang hakiki? Inikah kejelitaan yang terpancar karena ketaatan kepada Allah? Sebuah keindahan yang terpancar karena keagungan sholat, sungguh benar-benar kecantikan yang tak terlukiskan….subhanallah….

Ya Allah, aku bersyukur kepadaMu karena di jaman yang penuh dengan kebobrokan akhlak ini, Engkau telah mempertemukan aku dengan pasangan yang mau bersujud kepadaMu. Duhai Allah semoga Engkau membimbing kami agar kami selalu berada di JalanMu. Semoga Engkau melimpahkan anugrah sifat syukur dan sabar kepada kami sehingga kami dapat senantiasa menerima segala ketetapanMu. Ya Allah jadikanlah kami pasangan di dunia dan akherat. Berilah kami keistiqomaah. Amin Ya Rabb….. Alhamdulillah…..

Buat pembaca mohon maaf kalau cerita ini tidak begitu penting untuk njenengan hehehe. Aku hanya ingin menuliskan ketakjubanku kepada istriku yang kusayangi :).